Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


425538

Pengunjung hari ini : 285
Total pengunjung : 86246

Hits hari ini : 453
Total Hits : 425538

Pengunjung Online: 6


Twitter
Baca posting

Sontoloyo

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 05 Januari 2012 | Dibaca : 1333 Pengunjung

Sontoloyo

 

Putu Setia

 

Dia, seorang perempuan parobaya, menghampiri saya yang lagi duduk di taman kota sebelum jalan kaki sore hari. “Bapak wartawan kan? Ada tulisan nama koran di topi bapak. Kebetulan saya sedang gusar benar,” katanya dan langsung duduk di bangku beton.

 

Belum sempat saya menerka apakah ini perempuan sinting atau hanya sekedar stress, dia sudah bicara lagi: “Apa sekarang Bapak masih membela-belain mahasiswa? Lihat itu ulahnya, dengan semangat merusak pagar, dengan sorak gembira memblokir jalan, dengan enteng membakar mobil. Apa yang membedakan mereka dengan preman yang mabuk? Padahal tujuannya bagus untuk kepentingan rakyat, tapi ulahnya mengganggu rakyat.”

 

“Sebentar Bu, ini soal apa?”

 

Dia tak memberi waktu saya bertanya. “Sudah tahu mahasiswa brutal, eh, masih dibela-belain. Kalau ada mahasiswa yang kepalanya robek di rumah sakit, dikunjungi tokoh-tokoh penting. Polisi yang kepalanya robek, siapa yang mengunjungi? Polisi kan manusia juga.”

 

“Sebentar Bu, apa Ibu istri polisi atau seorang polisi?”

 

 “Aksi brutal mahasiswa itu dibiayai oleh orang-orang penting. Terima gaji sebagai komisaris perusahaan negara, bukannya membantu pemerintah, eh, malah menyerang pemerintah. Maunya apa? Menggulingkan pemerintah dan mau kedudukan? Kalau tujuannya seperti itu, bergabung ke partai dong, atau bikin partai sendiri jika tak laku di partai yang ada, rebut kedudukan dan ganti pemerintahan lewat pemilu. Jangan malah mahasiswa disuruh merusak.”

 

“Maaf, saya mau olahraga, kalau saya tak diberi waktu bicara, saya berjalan sekarang,” kata saya mengancam.

 

“Nah, bicara sekarang, asal jangan membela mahasiswa. Jadikan mahasiswa musuh bersama,” katanya.

 

“Ibu salah besar,” kata saya menuding. “Jutaan mahasiswa berperilaku sopan, yang brutal itu hanya seberapa. Musuh bersama kita bukan mahasiswa, tetapi kekerasan. Siapapun yang berbuat kekerasan, apakah itu mahasiswa, kelompok agama, polisi, menteri sekalipun, mari kita lawan, kita jadikan musuh bersama,” kata saya.

 

“Jangan berteori Pak Wartawan. Faktanya, sudah nyata mahasiswa membakar mobil, merobohkan pagar mahal, melempar dengan batu, kok tidak pernah disebut melanggar hak asasi manusia? Apa pernah LBH, Kontras, Komnas HAM menyebut mahasiswa melanggar HAM? Sontoloyo…”

 

“Ibu, siapa yang Ibu sebut sontoloyo? Saya tersinggung…”

 

“Semuanya sontoloyo. Memang, ada saatnya mahasiswa jadi pahlawan demokrasi, menggulingkan pemerintah melalui aksi jalanan. Tapi, itu karena pemerintahnya otoriter, diktator, tidak demokratis. Ketika kita sudah bertekad membangun demokrasi dengan baik, penggantian pemerintah haruslah melalui demokrasi, ada sopan santun dan aturan dalam demokrasi. Pemerintahan yang dibangun dengan kekerasan, akan digulingkan dengan kekerasan. Pemerintahan yang berdiri karena dendam akan berakhir dengan dendam pula. Pernah baca sejarah Singosari tentang kutukan Mpu Gandring? Jadikan itu  sesuluh. Kok sekarang semuanya sontoloyo…”

 

“Ibu, sekali lagi jangan bilang sontoloyo. Menurut kamus, kata itu bernada memaki, tak enak didengar,” kata saya.

 

“Memang sonto… loyo. Suami saya Sontonugroho, kami sudah lima tahun menikah tak punya anak, dia memang loyo….” Perempuan itu tiba-tiba berlari kecil, dan saya pun berjalan kaki mengitari lapangan sambil tersenyum.

 

Taman kota Denpasar memang tempat romantis untuk olahraga, tak akan ada unjuk rasa brutal di sini. Di Bali, kalau ada aksi demo, masyarakat adat langsung mengawasi. Begitu ada aksi yang mengganggu ketertiban, masyarakat adatlah yang menertibkannya.


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 05 Januari 2012 | Dibaca : 1333 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?