Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


353851

Pengunjung hari ini : 171
Total pengunjung : 67636

Hits hari ini : 521
Total Hits : 353851

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Gempa Demokrat

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 08 Maret 2012 | Dibaca : 1152 Pengunjung

Ada apa dengan Partai Demokrat? Karena ini bukan judul film, saya perlu komentar orang lain, ada apa sebenarnya. Tapi saya tak bertanya ke pengamat yang sering muncul di televisi. Pasti jawabannya panjang-lebar, beliau kan serba tahu. Bertanya ke budayawan seperti Soedjiwo Tejo dan Arswendo juga kurang pas. Jawabannya pasti mengambang. Ke Ruhut Sitompul? Ah, jangan, beliau orang dalam. Belum apa-apa pasti akan keluar: "yang saya banggakan dan yang saya kagumi Bapak SBY...."

Saya ingin mendapatkan komentar dari orang desa, yang biasa-biasa saja. Bodoh sedikit, tak apa, yang penting mengikuti masalah. Dia tetangga saya, pedagang ayam. Ada apa dengan Demokrat, tanya saya. Jawabannya: "Tak ada apa-apa, hanya kalah dalam perang opini."

Jangan kaget kalau jawabannya dengan bahasa tinggi, dia sering ke berbagai kota. "Demokrat tak punya media, sementara partai lain punya jaringan media yang bisa menjadi senjata ampuh memenangkan opini. Kan hanya dua televisi itu yang cerewet dengan Demokrat, satu dimiliki ketua umum partai pesaingnya, satu lagi dimiliki partai baru yang siap ikut pemilu. Jelas dong mereka ingin Demokrat hancur."

Analisis konyol, kata saya. Dia terbahak: "Ya, namanya orang bodoh, yang dilihat apa yang tak dilihat orang kota yang pintar." Saya menggugat: "Televisi dan media yang lain kan juga menayangkan aib Demokrat?" Lagi dia tertawa: "Kan cuma menayangkan fakta, bukan mencecar dan mengais-ngais terus sisi buruk Demokrat. Sebenarnya bagus juga kalau keburukan partai lain dikais-kais, kan semua partai sama. Masalahnya, siapa yang memegang kendali opini itu."

Waduh, tambah konyol lagi, pikir saya. Saya tak lagi berdebat, takut ketularan bodoh, meskipun saya juga tak pernah pintar, buktinya tak pernah muncul di televisi. Saya harap komentar pedagang ayam itu dilupakan saja.

Tapi "ada apa dengan Demokrat" terus mengganggu. Kenapa petingginya mudah diadu dan terjebak dalam perseteruan diam-diam? Jangan-jangan ideologi partai ketika Demokrat didirikan belum matang benar, sehingga yang berkumpul adalah orang dari berbagai ideologi--persis di awal Orde Baru ketika Soeharto memaksa organisasi kemasyarakatan bergabung di Sekber Golkar. Tapi Soeharto tegas, keras, dan otoriter. Beda dengan SBY, yang hati-hati, kalem, santun, demokratis, sehingga Ruhut sering mengulang: "yang saya banggakan…."

Di Demokrat bergabung penguasa muda yang kaya-raya, seperti Nazaruddin dan kakaknya, mantan Puteri Indonesia Angelia Sondakh, mantan Ketua Umum HMI, mantan wartawan, mantan pengacara populer, mantan politikus partai lain, yang barangkali kumpulan ini belum mencampur-baurkan ideologi yang dibawanya. Ada yang "memuja uang", ada yang "memuja ketenaran", ada yang "memuja penampilan". Jadi, kesehariannya ada yang mengumpulkan duit tak peduli haram atau halal, ada yang menguber wartawan agar dirinya diwawancarai, ada yang sibuk memikirkan baju apa yang harus dipakai dan bagaimana cara berjalan ke podium. Kini "pemuja uang" seperti Nazar terlempar dengan sakit, dan tentu dia tak mau "sakit sendiri". Kumpulan itu pun menjadi berantakan karena partai ini tidak dipimpin oleh Soeharto yang otoriter, melainkan oleh SBY yang sangat negarawan dan demokratis--seperti kata Ruhut.

Namun saya pikir tak ada "tsunami" di Demokrat. Yang ada gempa kecil yang tak merobohkan bangunan. Perlu ditopang oleh kesadaran pentingnya kesamaan ideologi dan tentu saja--kalau percaya pedagang ayam tadi--janganlah terjebak perang opini, wong tak punya media. Berbuat apa pun selalu salah.

(Tulisan Putu Setia di rubrik Cari Angin Koran Tempo Minggu 19 Februari 2012)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 08 Maret 2012 | Dibaca : 1152 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?