Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


572628

Pengunjung hari ini : 76
Total pengunjung : 126852

Hits hari ini : 102
Total Hits : 572628

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Saweran

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 11 Juli 2012 | Dibaca : 1462 Pengunjung

Saat saya mendukung saweran untuk pembangunan gedung baru Komisi Pemberantasan Korupsi, alasannya sangatlah sederhana: ingin menyatakan sikap bahwa saya anti korupsi. Tak ada alasan lain.

Pernyataan sikap ini perlu untuk dijadikan pegangan bahwa saya tak akan merampas harta orang lain untuk kepentingan pribadi. Saya yakin, Tuhan memberi rejeki kepada setiap makhluk hidup. Ada yang diberi berlebih, yang sesungguhnya adalah ujian apakah mereka menggunakan kelebihan rejeki itu untuk menolong orang lain. Ada yang pas-pasan, barangkali dimaksudkan agar mereka mau bersyukur, terserah itu dilakukan atau tidak. Lalu ada yang kurang, siapa tahu ini semacam cambuk untuk lebih bekerja keras. Mereka yang rejekinya kurang, termasuk fakir miskin, adalah orang-orang yang mulia karena telah memberikan kesempatan kepada mereka yang rejekinya berlebih untuk bersedekah. Indonesia pun negeri yang mulia, karena konstitusinya menyebut fakir miskin diasuh Negara.

Kalau semua normal, seharusnya tak ada orang yang sengaja mau merampas rejeki orang lain. Tak ada korupsi karena harta di dunia ini adalah titipan. Anehnya, di negeri yang konon dahulu budayanya adiluhung ini, korupsi merajalela. Korupsi merebak demikian luas, padahal pelajaran agama sudah diberikan sejak sekolah dasar dan presiden pun dibantu oleh Menteri Agama. Singapura, misalnya, tak punya Menteri Agama namun pejabatnya jarang korupsi. Lebih memprihatinkan, di kementrian agama pun ada korupsi dan – masya Allah – dana pengadaan kitab suci juga dikorup.

Karena itu saya pikir perlu setiap orang menyatakan sikap yang sejujurnya untuk berperang melawan korupsi, bagi yang memang mau “merayakan” niat itu. Tak diperlukan jargon dan mengumbar slogan, karena ternyata hal ini hanyalah kamuflase. Kita pernah menyaksikan orang-orang yang terhormat mengepalkan tangan dan berseru: “Katakan tidak pada korupsi”. Ternyata mereka sebenarnya mau mengatakan: “Katakan (saja) tidak, pada (hal) korupsi”.

Sekarang, bagai dikirim dari “langit”, ada gerakan saweran untuk pembangunan gedung baru KPK. Ini bisa dijadikan momentum untuk menyatakan sikap bahwa siapa pun yang ikut saweran adalah orang yang sebenar-benarnya anti korupsi. Setidaknya, itulah simbol yang saya gunakan, sederhana kan? Karena sederhana, nilai rupiah yang disawer tak menjadi penting. Lebih penting adalah niat yang kemudian dijadikan sikap dalam keseharian.

Mendukung saweran sama sekali tanpa maksud menyalahkan dan membenarkan sesuatu. Tak terlintas, saweran ini saya jadikan simbol perang kepada Komisi Hukum DPR yang menjegal anggaran gedung baru KPK. Saya berpikir positif, anggota DPR sudah bekerja dengan baik. Disebutkan, Komisi  Hukum punya 14 mitra kerja, yang semuanya minta gedung baru. DPR harus memilih, siapa yang diberi, siapa yang ditunda, siapa yang ditolak. Kekuasaan DPR yang luar biasa itu kebetulan menunda anggaran KPK. Tak ada yang salah kan? Yang salah adalah ketika kita menciptakan kekuasaan parlemen begitu besar, kita memilih orang-orang yang tidak pandai bersyukur dengan rejeki yang sudah didapatkan dengan halal. Kesalahan ini kemudian bisa bercabang banyak, mungkin sistem pemilihan yang salah, atau asal-muasal sumber anggota parlemen itu yang tak pas.

Tapi apa perlu saling menyalahkan? Lebih baik saling memperbaiki. Sambil memperbaiki itu, bobrok utama negara ini, yakni korupsi, harus diperangi dengan melibatkan sebanyak-banyaknya orang. Kita buat simbol perlawanan yang sederhana: saweran untuk gedung yang jadi ujung tombak pemberantasan korupsi itu. Setuju?

(Dimuat Koran Tempo Minggu 1 Juli 2012)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 11 Juli 2012 | Dibaca : 1462 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?