Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


500993

Pengunjung hari ini : 186
Total pengunjung : 107488

Hits hari ini : 367
Total Hits : 500993

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Jokowi

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 26 Juli 2012 | Dibaca : 1467 Pengunjung

Joko Widodo yang populer dengan panggilan Jokowi, belum tentu menjadi Gubernur DKI Jakarta. Masih ada putaran kedua. Kemenangannya pada putaran pertama, mengagetkan banyak orang termasuk saya, yang bukan warga Jakarta. Jika orang kaget karena survey sebelumnya menempatkan Fauzi Bowo di peringkat pertama, saya tidak kaget karena itu, saya sudah lama tak percaya survey. Jika orang kaget karena ada “pendatang” yang mengalahkan warga Betawi asli, saya pun tidak kaget soal itu, saya tahu jumlah “orang Jawa” di Jakarta mungkin lebih banyak dari “orang Betawi”.

Yang membuat saya kaget, tadinya saya mengira warga Jakarta memilih gubernur yang berpenampilan “pejabat seutuhnya” seperti yang dicitrakan saat ini. Pejabat yang gagah, ke mana-mana didampingi ajudan plus pengawal, matanya selalu menatap ke depan dan sedikit mendongak ke atas. Pakaiannya parlente. Seperti itulah pemimpin kita saat ini, sangat memperhatikan penampilan yang mungkin dipelajari dari buku yang sama atau kursus yang sama atau konsultan yang sama. Cara berjalan mereka ke podium untuk membacakan sambutan, cara mengetuk-ngetuk mikropon untuk dites, membaca teks pidato dan kapan tangan harus bergerak ke depan, kea rah badan, menunjuk ke atas dan sebagainya. Semua ini harus diatur, dijaga konsistensinya, karena konon dari sini lahir citra seorang pejabat yang berwibawa.

Tapi, karena pencitraan yang terus diulang-ulang ini tidak diimbangi dengan hasil karya yang baik, lama-lama orang pun bosan, lalu tiba-tiba merasa dipimpin oleh pejabat yang tidak ada apa-apanya. Tong kosong nyaring bunyinya. Antara ucapan, baik rencana kerja maupun janji, menyimpang dari pelaksanaan. Slogan hanya tinggal kata-kata yang artinya bisa berbeda. Kalimat “katakan tidak pada korupsi”– sekadar dijadikan contoh kasus – ternyata yang dipraktekkan adalah “katakan (saja) tidak, pada (hal) korupsi”.

Pada pemilihan Gubernur Jakarta putaran pertama yang lalu, warga Jakarta agaknya mulai meninggalkan pejabat yang hanya menjaga citra penampilan, itu yang membuat saya kaget. Tenyata Jokowi yang banyak dipilih, orang yang sederhana, pejabat yang polos, yang kalau berjalan biasa saja, kalau mengunjungi pasar tidak mematut-matutkan dirinya supaya dihormati. Jokowi apa adanya, kalau pidato, ya, ngomong seperti biasa mau menyampaikan apa, tidak memperhatikan bahasa tubuh sama sekali, tidak meledak-ledak. Ia tidak memerintah, ia mengajak. Ia tidak melarang, ia memberi saran. Ia polos tapi cerdas.

Di Solo ia jarang di Balai Kota, lebih sering di tengah-tengah masyarakat. Penampilannya yang, maaf, terkesan ndeso ini, membuat warganya bebas menyampaikan apa keinginannya, dan Jokowi memperhatikan semua itu. Ternyata Solo jadi kota yang tata ruangnya bagus, bahkan Jokowi dinominasikan sebagai walikota terbaik di dunia.

Saya bukan pengamat dan tak bisa memprediksi bagaimana nasib Jokowi pada putaran kedua pemilihan Gubernur Jakarta. Apakah wong Solo yang ndeso dan apa adanya ini, masih tetap diunggulkan di Jakarta.  Kalau ternyata ya, itu artinya warga Jakarta memang menginginkan perubahan. Perubahan yang pertama tentu saja gaya kepemimpinan, dari pemimpin salon yang menjurus pada pencitraan pribadi berlebihan, menjadi pemimpin rakyat yang kesehariannya tak jauh dengan penampilan rakyat pada umumnya. Kalau perubahan ini membawa perubahan pada wajah Jakarta yang lebih baik, itu artinya gaya Jokowi bisa ditularkan ke seluruh negeri. Saatnya kita melahirkan pemimpin yang  sederhana, polos, tetapi cerdas dan berhasil membuat rakyat senang.

(Dimuat Koran Tempo Minggu 15 Juli 2012)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 26 Juli 2012 | Dibaca : 1467 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?