Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


353903

Pengunjung hari ini : 172
Total pengunjung : 67637

Hits hari ini : 573
Total Hits : 353903

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Identitas

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 16 September 2012 | Dibaca : 1325 Pengunjung

CDulu identitas itu hanya berupa kartu. Yang harus dimiliki oleh orang dewasa tentu saja identitas kependudukan yang disebut  Kartu Tanda Penduduk (KTP). Di situ tercantum nama, jenis kelamin, tanggal lahir, alamat, status perkawinan, golongan darah, agama, foto diri dan tanda tangan. Semua ini penting, bahkan supaya identitas itu tidak mudah digandakan, mulai muncul kode NIK – nomor induk kependudukan.

KTP tidak satu-satunya identitas. Ada Pasfor, Surat Izin Mengemudi, kartu kredit, kartu asuransi, kartu pers, kartu anggota partai dan banyak lagi kalau mau disebut. Identitas yang dimasukkan ke kartu itu disesuaikan dengan kebutuhan. Kartu kredit tentu tak ada golongan darah. Kolom agama? Hanya ada di KTP dan itu pun khas Indonesia. KTP di negeri seberang,konon yang ada kolomagamanya bisa dihitung dengan jari.

Untuk apa kolom agama  itu? Jika ada orang terkapar di jalanan dan membutuhkan bantuan, apakah dilihat dulu KTP-nya, agamanya apa? Jika Islam dibawa ke RS Islam, jika Kristen dibawa ke RS Kristen, jika Hindu cukup ke Puskesmas – tak ada rumah sakit Hindu di Indonesia. Ternyata tidak begitu.

Seorang pejabat di Kementrian Dalam Negeri menyebutkan, kolom agama di KTP itu penting untuk pendataan berapa jumlah pemeluk agama di Indonesia. Urusan pribadi dengan Tuhan ini harus diketahui oleh manusia, karena orang-orang beragama itu mendapat pembinaan di Kementrian Agama. Semua agama yang terdaftar punya Bimas – bimbingan masyarakat. Jadi, umat beragama wajib dibimbing oleh pemerintah.

Kalau KTP tak diisikolom agama, bagaimana menentukan pendirian rumah ibadah, kan harus berdasarkan jumlah pemeluk agama? Itu kata Pak Pejabat tadi. Oya, benar, pendirian rumah ibadah harus mematuhi jumlah pemeluk agama di wilayah tersebut dan itu dibuktikan lewat KTP. Ini berlaku di Indonesia minus Bali, karena di pulau dewata ini masjid, gereja dan vihara sedang giat dibangun di setiap kota kecamatan, tak peduli pemeluk agama tersebut hanya sepuluh atau dua puluh orang. Ya,kalau tak ada rumah ibadah, kasihan mereka menempuh jarak 30-an km untuk bersembahyang.Semakin banyak rumah Tuhan tentu semakin damai.

Tapi perlukah pula identitas agama terus-menerus ditonjolkan dalam soal-soal yang remeh? Misalnya, di Bali sekarang ini mendadak bertebaran”warung muslim”. Di setiap pelosok dari kota sampai ke desa ada label “warung muslim” itu. Maksudnya memberi informasi yang benar kepada pelanggannya bahwa di warung itu tidak menjual makanan haram, seperti babi. Tadinya, identitas yang digunakan adalah “halal”, rupanya kurang jelas dipahami pelanggan. Bahkan sebelum tulisan “halal” yang mencolok, identitasnya cukup “warung Madura”, “pecel lele Banyuwangi”, “soto Lamongan”. Identitas itu menghilang atau mengecil, yang mencolok kini “warung muslim”. Tak ada “warung Hindu”, misalnya.

Identitas dengan idiom keagamaan terus bermunculan. Lambang Palang Merah Indonesia mau diganti oleh DPR – karena menggantinya lewat undang-undang yang hanya bisa dibuat DPR. Tadinya saya pikir karena lambang itu terlalu sederhana, kurang modis, sehingga perlu study banding ke Denmark. Ternyata, penggantian itu karena palang merah hampir mirip dengan salib, dan itu identitas agama tertentu yang minoritas. Lalu ada pendapat, jika identitasnya harus idiom agama, pakailah milik mayoritas. Maka calon penggantinya adalah bulan sabit.

Ya,Tuhan, semoga munculnya identitaskeagamaan untuk hal-hal yang tak ada urusan dengan keyakinan ini, tak menjadi masalah ke depan, pada saat toleransi mulai surut.


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 16 September 2012 | Dibaca : 1325 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?