Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


418195

Pengunjung hari ini : 188
Total pengunjung : 84448

Hits hari ini : 1751
Total Hits : 418195

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Berkabung

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 30 September 2012 | Dibaca : 1496 Pengunjung

Hari ini tanggal 30 September dan besok 1 Oktober. Ya, semua orang tahu. Hari ini adalah hari berkabung nasional, bendera dinaikkan setengah tiang, dan besok Hari Kesaktian Pancasila, bendera berkibar penuh menghormati "Tujuh Pahlawan Revolusi". Apakah semua orang masih tahu soal itu?

Sudah beberapa tahun ini saya tak melihat bendera berkibar setengah tiang di kampung pada 30 September. Saya tak tahu, apakah hari berkabung itu sudah dicabut, dan apakah Hari Kesaktian Pancasila masih dirayakan di daerah. Saya pernah bertanya kepada seorang pejabat negara yang latar belakangnya partai. Jawabnya, "Ah, kenapa ada Hari Kesaktian Pancasila? Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni saja tidak dirayakan oleh negara. Apa ada orang sakti kalau tidak pernah lahir?"

Apa pun yang terjadi hari ini, ada bendera setengah tiang atau tidak, setiap ketemu tanggal ini, saya selalu galau. Trauma mencekam ke memori saya soal G30S-PKI. Masa penuh kegelapan--antara kebiadaban dan ketidakberdayaan--saya alami pada usia yang sama sekali tidak matang, kelas 3 SMP.

Jika pelajar SMP dan SMA sekarang ini terlibat tawuran--dan jatuh korban--pelajar SMP di era saya dilibatkan dalam masalah politik--dan juga memakan korban. Situasi sebelum G30S-PKI adalah perseteruan yang tak kenal lelah antara PKI dan PNI di Bali. Perseteruan sampai ke "akar-akar"-nya. Naik ke kelas 3 SMP, saya dilantik sebagai Ketua Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI)--ormas pelajar di bawah PNI--untuk sekolah saya, SMPN Bajera. Sekolah saya basis GSNI, meski beberapa ada anggota IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia)--ormas di bawah PKI. Basis IPPI di sekolah swasta, tetangga sekolah saya.

Sampai awal November 1965, belum ada keributan berarti di sekolah saya, kecuali saya memerintahkan mencopot semua tempelan di tembok yang memakai kata-kata pelajar dan diganti dengan kata siswa. Misalnya, "Pelajar harus taat pada guru" diganti menjadi "Siswa harus taat pada guru". Baru sekitar Desember, di jalanan berseliweran tentara, dan murid-murid--terutama perempuan--takut karena ada razia. Kepala sekolah, Pak Dedeh (masih ada sekarang, tapi sakit-sakitan), memanggil saya, bagaimana menyelamatkan murid yang tak punya kartu anggota GSNI. Ide muncul, membuat surat keterangan "simpatisan GSNI". Cukup ditulis tangan, yang penting ada stempel.

Tentara semakin banyak berseliweran. Pak Dedeh kemudian mengumumkan keputusan pemerintah, ujian akhir ditunda enam bulan, sekolah diliburkan. Lima pelajar putri tak berani pulang ke desanya yang hanya berjarak 3 km, keluarganya anggota PKI. Saya berikan surat keterangan "simpatisan GSNI" dan meminta seorang pesuruh sekolah yang kebetulan anggota Gastam (Gerakan Senisilat Tameng Marhaenis) mengantarnya pulang.

Saya juga pulang kampung. Lalu, apa yang saya saksikan di desa, selama enam bulan, dalam usia 15 tahun itu? Penyiksaan dan pembunuhan, untuk sebuah slogan: "Tumpas PKI sampai ke akar-akarnya". Suami kakak sepupu saya termasuk yang kena "tumpas", kesalahannya ikut membuat panggung ketika pelantikan Pemuda Rakyat. Setelah sekolah dibuka, satu pelajar putra "kena garis", satu pelajar putri "hanya diperkosa", dua guru "dinaikkan truk"--begitu istilah pop saat itu.

Tragedi ini yang terus ada di memori saya. Meski kejadiannya jauh setelah 30 September, tetap saja tanggal hari ini membuat saya tak bisa melupakan sejarah hitam itu. Saya tetap berkabung, sambil berharap, barangkali ada yang "menyesali" peristiwa itu, meminta maaf, dan berseru, "Mari jadikan pelajaran pahit bangsa ini."

(Dari Koran Tempo 30 September 2012)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 30 September 2012 | Dibaca : 1496 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?