Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


504602

Pengunjung hari ini : 167
Total pengunjung : 107999

Hits hari ini : 2857
Total Hits : 504602

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Poltak

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 05 Januari 2012 | Dibaca : 1549 Pengunjung

Putu Setia

 

Tak pernah sekali pun saya minta pendapat kepada orang lain untuk menulis. Kalau ingin menulis, ya, menulis saja. Kecuali kali ini, ketika saya ingin menulis tentang Ruhut Poltak Sitompul.

 

Saya menemui Romo Imam hanya untuk hal yang tak lazim: apakah saya etis mengomentari pendapat Ruhut Sitompul sekitar masa jabatan presiden. Tak saya duga, Romo Imam melarang. “Masa jabatan presiden adalah soal yang sudah selesai. Kenapa pernyataan itu ditanggapi dengan ramai?” tanya Romo.

 

“Bukan itu yang mau saya tulis,” kata saya. “Kenapa Ruhut melontarkan gagasan seperti itu, apa cuaca ektrim ikut mempengaruhi pola pikir para politisi? Siapa tahu ada pengaruhnya, banjir terjadi di bulan Agustus, padahal hujan di bulan Juni saja membuat Sapardi menulis puisi.”

 

Romo tertawa: “Itu terlalu jauh. Politisi sekarang ini bukan lagi profesi, politisi bukan sebuah minat yang dipelihara dengan ketekunan mengasah diri, politisi juga bukan pengabdian, ah, yang terakhir ini sudah taik kucing. Seorang pemain sinetron yang punya uang bisa menjadi anggota dewan, seorang anak bupati bisa menjadi bupati dengan memanfaatkan uang dari bapaknya yang masih menjabat. Masalahnya adalah uang, karena pemilihan apapun sekarang ini semuanya ditentukan oleh uang. Nah, setelah jabatan diperoleh, orang-orang itu kembali kepada habitat aslinya, yang doyan ngomong jorok kembali ngomong jorok, yang doyan kawin kembali selingkuh.  Tentu saja itu sebagai selingan dari pekerjaan utamanya, yaitu korupsi. Ya, korupsi dengan berbagai cara, termasuk membuat anggaran yang tak masuk akal seperti dana aspirasi, dana desa, rumah aspirasi dan segudang kebusukan lainnya.”

 

Saya pikir Romo terlalu melebar. “Romo, yang tadi menarik, tetapi saya tak berminat. Yang saya maksudkan, kenapa orang seperti Ruhut bicara soal masa jabatan presiden?” kata saya.

 

“Banyak teori soal itu, dari teori paling dangkal sampai paling dalam,” jawab Romo. “Yang paling dangkal, Ruhut disuruh bicara seperti itu untuk tes, apa reaksi masyarakat.  Siapa tahu masyarakat mendukungnya. Kalau masyarakat mendukung artinya terjadi ketidak-pedulian di masyarakat atau rakyat sudah masa bodoh, mau tiga periode atau sepuluh periode nggak usah dipikir. Bangsa ini jadi bangsa bekicot, tak pernah maju. Teori yang lebih dalam, Ruhut disuruh bicara ngawur, ya, semacam tokoh antagonis dalam sinetron, agar ada kesempatan untuk menaikkan pamor dan citra sang pemain utama, sang pahlawan. Kalau Ruhut tak bicara ngawur, kapan Presiden SBY punya kesempatan menjelaskan ketidak-setujuannya dengan jabatan presiden diperpanjang sampai mengutip sejarawan Inggris John Dalberg-Acton segala? Jadi SBY dapat point dari cara Ruhut yang ngaco itu.”

 

“Itulah masalahnya, kenapa saya mau menulis Ruhut. SBY bukan dapat point, justru kehilangan point. Kalau saya menjadi SBY, saya sangat terhina dipuji dengan cara vulgar ala Ruhut itu. Rendah hati, jujur, membela rakyat, dan entah apalagi, diucapkan dengan cara seorang ibu memuji anaknya di forum arisan, sungguh tak bisa saya bayangkan keluar dari mulut seorang politisi yang menjadi ketua partai besar. SBY kan bukan anak kecil, beliau kan sangat terpandang?”

 

“Sebentar,” Romo memotong. “Bagaimana kalau SBY memang suka pujian vulgar begitu? Ya, siapa tahu, kekuasaan membuat orang manja. Lagu SBY – dan bukan pendapatnya yang bernas -- juga dijual di situs kepresidenan. Karena itu, sudahlah, tak usah menulis soal Ruhut.”

 

Saya menyerah dan menjawab dengan pelan. “Baik Romo, saya akan menulis tentang Poltak saja.”


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 05 Januari 2012 | Dibaca : 1549 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?