Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


502620

Pengunjung hari ini : 86
Total pengunjung : 107918

Hits hari ini : 875
Total Hits : 502620

Pengunjung Online: 17


Twitter
Baca posting

Kata-Kata

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 13 November 2012 | Dibaca : 1344 Pengunjung

Barangkali kita terlalu banyak mengeluarkan kata-kata, tapi terlalu sedikit berbuat. Barangkali kita terlalu nyerocos dengan ide, tapi tak pernah mewujudkannya. Barangkali kita terlalu banyak mengeluh, menyalahkan orang lain, tapi tak pernah menuding diri sendiri, apakah kita sudah benar dan sudah melakukan kewajiban kita.

Mungkin penyebabnya kita dimanja oleh tekonologi  penyebar kata-kata, apakah itu bernama media sosial seperti Tiwtter, Face Book dan berbagai jejaring sosial lewat internet, dan juga media-media online, baik yang resmi maupun yang tak jelas siapa pemiliknya. Banyak blog yang tak mencantumkan siapa yang me ngelola, dan isinya pun bermacam-macam, ada yang positif ada yang negatif,  termasuk yang mengolok-olok agama.

Semua ini tak bisa dibendung. Orang bisa membuat akun Twitter dengan nama apa saja --  termasuk nama binatang yang lebih rendah dari manusia -- dan setiap hari kerjanya mengolok-olok, mencampurkan umpatan dengan fitnah. Kehebatannya, akun-akun anonim ini terus menerus mengumbar kata-kata, pertanda bahwa  yang mengelolanya (admin) banyak. Kita – tepatnya saya kalau Anda tak mau saya ajak terlibat – kadang-kadang percaya bahwa yang disampaikan itu betul, kadang masih mempertanyakan, selebihnya,  ya, jelas memprovokasi, menghujat orang, memfitnah. Kalau sudah masuk dalam ranah ini, sebenar-benarnya yang dikatakan akun itu, semuanya jadi bohong. Kita punya pepatah: setitik nila merusak susu sebelanga. Artinya, meski pun sebelanga yang ditulisnya benar, menjadi ternoda dan orang tak percaya kebenaran itu lantaran nila yang setitik. Apalagi nilanya bertitik-titik.

Di luar dunia maya, kata-kata juga terlalu banyak berseliweran. Ketegangan polisi dan KPK juga karena perang kata-kata. Perang pernyataan tak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan. Kasus-kasus besar  yang ditangani KPK tak kunjung selesai karena disibukkan untuk melayani perang kata-kata itu. Polisi pun tak terdengar lagi, korupsi macam apa yang diberantasnya. Yang diketahui masyarakat polisi makin gesit memburu terduga teroris.

Kini heboh terbaru adalah perang kata-kata antara Menteri BUMN dengan lembaga DPR, dilanjutkan dengan meriah oleh perang antar-pengamat hukum di berbagai media, yang paling utama di televisi.

Dahlan Iskan, Menteri BUMN,  tahu betul bagaimana  suatu obyek berita bisa ranning (terus-menerus diberitakan) sepanjang hari, maklum dia orang media. Maka dicicillah setoran nama anggota dewan yang “bermasalah” ke DPR. Mula-mula disebut 10 nama, lalu muncul inisial ke sepuluh nama itu, tapi bukan Kementrian BUMN yang membocorkan.

Kemudian sepuluh nama menjadi “sekitar sepuluh”, meski pun pada hari pertama yang disetorkan 2 nama saja. Di hari ketiga disusul 6 nama. Tapi efeknya, kata berhamburan, apakah ini pemerasan, percobaan pemerasan, awal dari pemerasan. Itu saja sudah bisa dikembangkan dengan ribuan kata-kata. Belum ada yang bekerja untuk memastikan bahwa kata itu punya arti, dan nama-nama yang disebut itu apakah berstatus pemeras atau calon pemeras atau terduga pemeras, semuanya di awang-awang.

Bisa jadi kasus ini segera terlupakan. Karena yang dilaporkan Dahlan hanya orang-orang yang “nakal”,  sementara kerugian BUMN belum ada. Harusnya yang dilaporkan adalah pemeras yang berhasil, tapi apa berani direksi BUMN melaporkan hal itu, meskipun lewat Dahlan Iskan?

Akhirnya, ungkapan ” BUMN sebagai sapi perah” hanya cerita sebatas kata. Kasihan sapinya, karena pemerahnya tak dikenali, sementara energi kita berhari-hari dihabiskan untuk itu.

(Diambil dari Koran Tempo Minggu 11 November 2012)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 13 November 2012 | Dibaca : 1344 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?