Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


424306

Pengunjung hari ini : 279
Total pengunjung : 85566

Hits hari ini : 820
Total Hits : 424306

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Jaga Mulut

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 03 Desember 2012 | Dibaca : 1463 Pengunjung

Mulutmu harimaumu. Ini ungkapan kedaluwarsa. Sekarang, ungkapan yang bermaknahati-hati bicara itu bisa kita ganti, misalnya, mulutmu batumu. Harimau atau batu, yang penting jaga mulut.

Adalah Sutan Bathoegana yangnyerocos berbicara, kini kena batunya. Untuk suara keras sampai urat lehernya s terlihat ketika di-close-up televisi itu, Sutan harus sungkem plus meminta maaf kepada keluarga Abdurrahman Wahid, karena sudah menuduh pemerintahan Gus Dur tidak bersih – Sutan tak menyebutnya korupsi.

Tatkala Sutan meminta maaf, Ibu Shinta Nuriah, istri Gus Dur, menasehati politisi Partai Demokrat ini agar berbicara jati-hati. “Ngomong sedikit bisa menimbulkan gejolak,” kata Ibu Shinta. Sutan pun mencium tangan Shinta Nuriah.

Kalau Sutan tidak minta maaf, pendukung Gus Dur yang resah di daerah-daerah, terutama Pemuda Ansor, akan melaporkan Sutan ke polisi. Ketua DPR Marzuli Alie yang juga politisi Demokrat, setuju jika Sutan dilaporkan ke polisi. Saya yang tak ada urusan dengan kasus ini, juga setuju. Berharap polisi memprosesnya dan hasil penyidikan dibawa ke kejaksaan. Lalu kejaksaan meneruskan ke pengadilan, dan hakim yang memutuskan.

Ini lebih fair dan mendidik meski sedikit bertele-tele di zaman yang  keblablasan ini. Jika tidak, “pengadilan opini” selalu menjadi “panglima” jika ada kasus seperti ini.

Coba diurai permasalahannya. Bathoegana bertengkar dengan Adhi Masardi dalam suatu acara yang diliput televisi. Saya sebut bertengkar karena debat yang disiarkan oleh televisi harus “bertengkar”. Kalau penuh sopan santun seperti debat di Amerika, kurang “seksi” diliput. Adhi Masardi menyebut pemerintahan SBY tidak bersih, dan gelar “Kesatria” dari Inggris ada kaitannya dengan bisnis minyak. Sutan Bathoegana berang dengan menyebut semua pemerintahan tidak bersih, termasuk pemerintahan Gus Dur tatkala Adhi Masardi menjadi juru bicara presiden. Nah, ini imbang, semua menjagokan tokohnya, semua mengecilkan tokoh lawan.

Tapi, saat ini opini publik bisa diarahkan tergantung siapa yang menguasai media. Lalu yang lebih menentukan: siapa yang kini dipercaya rakyat, meskipun kepercayaan ini juga berkat penguasaan media. Jelas Masardi di atas angin ketimbang Bathoegana. Masardi ketua Indonesia Bangkit dan Gerakan Indonesia Bersih. Orang bersih mana bisa korup – meski saya tak tahu apa saja kegiatan anak ini. Akan halnya Bathoegana adalah kader Partai Demokrat yang sedang limbung dengan berbagai persoalan dan pendukung pemerintahan SBY. Analoginya, sedan menabrak sepeda. Betapa pun salahnya pendayung sepeda, tetap saja masyarakat menyalahkan pengemudi mobil sedan.

Jika ranah hukum bicara, masyarakat dididik untuk melihat siapa yang salah. Mungkin Masardi yang menghina SBY juga bersalah, meski pun massa Demokrat tidak turun ke jalan. Jangan-jangan Bathoegana tidak bersalah, meski pun dia sudah “disalahkan massa” karena diadili lewat opini. Atau dua-duanya seri, seperti Tim Nasional lawan Laos.

Bahaya lain pengadilan opini adalah mulut bisa bebas bicara tak terjaga, bak harimau atau batu. Anggota DPR dilaporkan memeras oleh Menteri BUMN. Jelas rakyat memuji-muji Sang Menteri yang “merakyat” ini, dan menghujat anggota dewan yang sudah dicap bobrok. Opini publik begitu. Tapi siapa yang memeras? Tiap hari orangnya diralat. Jadi Pak Menteri bicaranya “kurang dijaga”, asal menuduh. Nah, kenapa sesekali tak diselesaikan lewat jalur hukum? Adukan ke polisi. Agar ada efek jera bagi mereka yang tak bisa menjaga mulutnya, agar ada “keadilan opini”.Siapa pun dia.

(Diambil dari Koran Tempo Minggu 2 Desember 2012)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 03 Desember 2012 | Dibaca : 1463 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?