Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


418952

Pengunjung hari ini : 77
Total pengunjung : 84644

Hits hari ini : 144
Total Hits : 418952

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Wisata Banjir

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 20 Januari 2013 | Dibaca : 1448 Pengunjung

Ada banjir di Jakarta. Ada orang yang berpeluh di tengah gerimis menyelamatkan orang yang terjebak. Ada Kopassus, Marinir, Brimob menggotong orang-orang tua menuju tempat pengungsian. Ada gubernur di atas gerobak yang mengajak warga untuk segera melakukan action ketika musim kering tiba-hal yang sering dilupakan karena banjir sudah berlalu. Ada komunitas seni yang mengumpulkan pakaian layak pakai untuk disumbangkan kepada korban. Ada presiden yang menggulung celana dan memberi pengarahan. Ini musibah.

Tapi ada orang-orang "narsis", yang bergaya dengan latar genangan, difoto karibnya dengan tingkah yang tak kurang narsisnya. Sejumlah orang menonton banjir, dengan takjub dan ketawa-ketawa, ketika nenek yang kesakitan menggeliat digotong tim SAR. Puluhan orang lagi datang ke Bundaran Hotel Indonesia, ke gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, berdiri di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin sambil mengunyah roti. Bukan membantu orang yang terjebak, apalagi mencoba mengalirkan air yang tergenang. Mereka berwisata. Pemandangan yang indah, katanya. Huss!

Lalu ini tingkah sejumlah pengamat, pakar komunikasi, dan entah apa lagi julukan yang mereka senangi. Di televisi--juga di social media Twitter--mereka mengulas kenapa Jokowi berpakaian hitam, kenapa Jokowi naik gerobak padahal ada mobil tinggi. Apakah ini tanda ketidakberdayaannya? Kenapa SBY mendatangi pengungsi sambil menuntun Ibu Anie, apakah ini pertanda di tahun 2014 SBY mencalonkan Ibu Anie? Dan kesimpulan mereka jelas: ini pencitraan. Otak mereka penuh dengan prasangka. Kebiasaan nyinyir mereka tak mengenal ada musibah atau tidak. Padahal mereka sendiri yang sejatinya melakukan pencitraan. Huss!

Jakarta lumpuh. Namun yang lumpuh hanyalah gerak kota, bukan "gerak hati". Masih banyak orang yang tergerak hatinya untuk menolong, mengirimi korban selimut, mi instan, nasi bungkus. Dan dokter rumah sakit itu masih setia memeriksa pasiennya padahal ruangannya terendam air. Hentikan kenyinyiran sejenak, hentikan tuduh-menuduh pencitraan, bahkan hentikan bicara soal-soal politik yang sudah basi, yang hanya menunjukkan isi otak dipenuhi ambisi kekuasaan.

Penderitaan dalam musibah jangan dijadikan bahan bercanda dan komoditas politik. Juga tak harus dicurigai. Dari mana pun datangnya mi instan dan nasi bungkus itu, mari kita bagikan kepada yang berhak, sepanjang itu masih sehat disantap. Jangan curiga dan jangan pula mengusut apakah si penyumbang punya niat tertentu. Urusan niat itu biarlah urusan Tuhan. Kita tak perlu menghakimi niat seseorang.

Jokowi melarang posko berlabel partai. Saya setuju karena pengalaman di masa lalu--dan sangat boleh jadi tetap terjadi sekarang ini--mereka akan memasang atribut yang berlebihan untuk suatu sumbangan yang juga tak terlalu luar biasa. Spanduk partai yang dipasang di posko bantuan itu--kalau dibolehkan seperti masa lalu--nilainya setara dengan lebih dari 10 kardus mi instan. Kenapa tidak digunakan untuk menambah kardus mi saja?

Saya yakin Jokowi tak melarang kalau, misalnya, Puan Maharani atau Ramadhan Pohan, bahkan juga Ruhut Sitompul, membagikan selimut, pakaian, susu, di tempat-tempat pengungsian. Apalagi jika mereka tak merasa perlu mengundang media massa untuk meliput pemberian sumbangan itu--kalau kebetulan media tahu, itu soal lain.

Mari kita memaknai setiap musibah dengan ketulusan menolong korban dan bukan saling menyalahkan. Lebih-lebih jika menyalahkan alam, menyalahkan semesta, dan Tuhan dibawa-bawa. Ini kesalahan manusia yang lalai menjaga alam.

(Koran Tempo Minggu 20 Januari 2013)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 20 Januari 2013 | Dibaca : 1448 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?