Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


425550

Pengunjung hari ini : 285
Total pengunjung : 86246

Hits hari ini : 465
Total Hits : 425550

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Debat Televisi

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 30 Juni 2013 | Dibaca : 1536 Pengunjung

Ada urusan yang sangat penting yang membuat saya harus mengunjungi Romo Imam. Urusan itu pun sudah saya sampaikan lewat pesan pendek agar Romo siap menerima kedatangan saya. Dan betul juga, sore itu Romo duduk di sofanya. Segelas teh menemaninya.

“Ayo duduk dekat sini,” kata Romo ketika saya mengambil tempat duduk di kursi yang agak jauh. Saya pun berdiri lagi dan mendekati Romo. “Kenapa sih takut duduk dekat sini? Takut disiram teh ya? Memang tampang Romo sangat, gitu?”

Saya kontan tertawa. “Romo jangan menyindir. Debat yang pakai adegan siraman teh atau air putih itu hanya ada di televisi. Mungkin itu hanya akting saja,” kata saya. Romo juga tertawa: “Ya, saya kira cuma akting. Kalau bukan akting kan main cekik leher.”

“Wah, lagi Romo menyindir,” kata saya. Romo mulai serius. “Menyindir bagaimana? Memangnya sakarang ini ada orang yang bisa memperbaiki diri dengan hanya disindir? Romo bicara fakta. Saat ini orang sudah imun dengan sindiran, orang sudah tak bisa dinasehati dengan baik-baik. Televisi telah mengajarkan budaya baru yang kalau berbicara harus berteriak-teriak, tangan harus menuding lawan bicara, dan saling jegal-menjegal omongan. Semakin banyak bicara, semakin pandai memotong omongan lawan bicara, semakin kasar kata-kata yang dikeluarkan, semakin mendapat tepuk tangan penonton yang memang sudah disiapkan oleh stasiun televisi itu.”

“Apakah media televisi sudah meninggalkan asas mendidik yang di masa lalu dipakai istilah edukatif?” Tanya saya. Romo tertawa, tetapi tetap serius. “Itu zaman Si Unil. Sekarang tak ada edukatif-edukatifan, tak ada unsur pendidikannya, yang lebih diutamakan adalah dramanya yang dasyat. Itu artinya kekerasan, ya, keras di lapangan dan keras adu urat leher lewat debat di studio. Semuanya live tanpa sensor. Bentrok mahasiswa di Makassar selalu ditunggu, seolah-olah kota Makassar isinya hanya kekerasan, orang jadi takut ke sana. Padahal di sana ada pertemuan penulis dan sastrawan berbobot, Makasar Writer Festival, yang sangat mendidik dan mengetengahkan budaya bangsa.”

“Seharusnya Komisi Penyiaran jadi kendali dari era keblablasan informasi kekerasan ini. Tapi komisionernya tak berdaya, hanya bisa memberi tegoran tanpa tindakan yang lebih,” Romo terus melanjutkan. Lalu apa yang bisa diharapkan? “Oya ada, lembaga-lembaga nonformal di beberapa daerah mulai bersuara. Tapi bukan memprotes siaran televisi yang tak karuan juntrungannya itu karena tahu tak akan diperhatikan. Yang dilakukan mengimbau masyarakat untuk beralih ke chanel yang lain, yang lebih berbudaya. Televisi di tempat umum, misalnya di balai adat di Bali, sudah tak menyiarkan lagi acara debat-debatan yang saling serobot omongan.”

Oh, ya? Saya kaget. Yang saya tahu televisi dan radio itu menggunakan frekuensi publik yang terbatas, karena itu tak sembarang orang diizinkan mendirikan stasiun televisi dan radio. Seharusnya, orang-orang yang diberi izin itu menggunakan frekuensi publik untuk kepentingan yang benar-benar publik, untuk bangsa dan masyarakat keseluruhannya. Kalau kepemilikan yang terbatas ini dimonopoli untuk mengkampanyekan kekerasan dan debat kusir yang tak berbobot – pakai siram-menyiram air maupun tidak – sangat disayangkan. Padahal pemilik stasiun televisi itu sudah mendapatkan kebebasan mengkampanyekan dirinya sebagai calon presiden, yang kemungkinan besar tak berbayar. Kalau bayar saja tidak, bagaimana menarik pajak iklannya.

Tapi saya hanya bisa bergumam dalam hati, sampai Romo Imam mengingatkan saya: “Lo, urusan serius itu soal apa?” Saya gelagapan sesaat, lalu menjawab: “Waduh, maaf Romo, saya lupa apa yang serius itu. Tapi obrolan kita tadi tak kalah seriusnya, kita ajak masyarakat cerdas menonton televisi.”

(Diambil dari Koran Tempo Minggu 20 Juni 2013)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 30 Juni 2013 | Dibaca : 1536 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?