Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


358255

Pengunjung hari ini : 77
Total pengunjung : 68643

Hits hari ini : 177
Total Hits : 358255

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Deklarasi

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 08 Juli 2013 | Dibaca : 1163 Pengunjung

Sudah bertambah calon presiden dan calon wakil presiden yang diusung partai lewat deklarasi. Sebelumnya, hanya Aburizal Bakrie yang diusung Partai Golkar. Itu pun tanpa pendamping calon wakil presiden.

Partai Hanura hebat. Percaya diri ketua umumnya, Wiranto, untuk mencalonkan diri begitu kuat. Bahkan dia langsung punya calon wakil presiden-tidak takut seperti Golkar-dan menempatkan kadernya sendiri: Hary Tanoesoedibjo. Kenapa tidak Fuad Bawazier, misalnya? Ideologi dan rekam jejak tak berlaku sekarang, Hary Tanoe menyediakan triliunan rupiah, barangkali jauh lebih banyak daripada yang dipunyai Bawazier, meski ia pernah jadi Dirjen Pajak dan Menteri Keuangan.

Ada satu kekuatan Hary Tanoe yang tak dipunyai oleh calon-calon presiden yang sudah resmi maupun yang masih (ingin) digadang-gadang: jaringan televisi. Ia punya MNC Group. Di sini ada RCTI, MNC TV (dulu Televisi Pendidikan Indonesia), dan Global TV. Aburizal hanya punya TV One dan ANTV. Surya Paloh, yang masih malu mendeklarasikan diri sebagai calon presiden-padahal pasti niatnya ke sana sejak "merebut" Partai NasDem-hanya punya satu stasiun televisi: Metro TV.

Partai lain, seperti PDI Perjuangan, Demokrat, dan PAN, tak punya stasiun televisi. Gerindra, yang pasti mencalonkan Prabowo tetapi belum deklarasi, juga tak punya stasiun televisi. Mau bikin mendadak tak mungkin, kecuali membeli yang ada. Frekuensi radio dan televisi bukan hal yang bebas, melainkan ada batasnya. Tapi tentu bukan karena tak punya stasiun televisi yang menyebabkan partai ini "belum berkenan" mendeklarasikan calonnya. Demokrat akan membuat konvensi. Bahwa ini konvensi sungguhan atau tidak, pemenangnya pastilah yang direstui Cikeas-di mana-mana dinasti itu sah ingin dibangun. PDI Perjuangan masih menunggu kadernya yang terbaik, konon. Istilah yang dipakai terkesan demokratis: tingkat elektabilitas menjadi pertimbangan. Dan sebagai bunga-bunga, Gubernur Jakarta Joko Widodo termasuk yang dipantau elektabilitasnya. Mari kita percaya, walau masih ada pertanyaan apakah Megawati benar-benar mau lengser atau tidak, karena ia yang menentukan calon presiden itu, bukan rapat pimpinan. Jangan-jangan, setelah diketahui lawannya cuma Bakrie, Wiranto, Prabowo, atau Surya Paloh, Mega batal lengser karena yakin menang.

PAN tak akan jauh dari Hatta Rajasa seperti halnya PPP tak akan berpaling dari Suryadharma Ali. Tokoh lain yang non-partai paling diiming-imingi jadi wakil. Tapi siapa pun calonnya, kenapa tak segera deklarasi? Memperkenalkan calon itu ke desa-desa, sangat sulit. Hanya media televisi yang efektif. Minat baca media cetak di pedesaan masih kurang. Minat baca media sosial (Twitter, Facebook, dan pesan pendek) memang meningkat, tapi di desa urusan politik begini jarang jadi ramai.

Tokoh-tokoh non-partai yang kebelet ingin jadi calon presiden-saya tak menyebut nama karena muncul-tenggelam-semakin tak punya kesempatan dalam persaingan memperkenalkan diri kepada rakyat. Mereka tak punya uang triliunan rupiah dan jaringan televisi. Jadi bintang iklan jamu pun malah menuai kritik karena tak pas-maklum aktor dadakan.

Ada ketidakadilan, memang. Undang-Undang Penyiaran tidak mengantisipasi penggunaan (dan penyalahgunaan) siaran televisi untuk ambisi politik pemiliknya. Orang tahu, televisi menggunakan frekuensi publik yang semestinya dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, tapi tak ada langkah yang mengatur frekuensi itu. Nah, dalam ketimpangan ini, ayo para tokoh yang ngebet ingin jadi presiden, segeralah deklarasi-soal berapa jumlah suara yang diraih pada pemilu legislatif nanti tak usah dipikirkan.

(Diambil dari Koran Tempo Minggu 7 Juli 2013)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 08 Juli 2013 | Dibaca : 1163 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?