Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


425508

Pengunjung hari ini : 282
Total pengunjung : 86243

Hits hari ini : 423
Total Hits : 425508

Pengunjung Online: 5


Twitter
Baca posting

Penjara

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 28 Juli 2013 | Dibaca : 1292 Pengunjung

Penjara tidak lagi seseram di masa lalu, ketika masyarakat cukup memberi nama yang singkat: bui. Penghuni penjara di masa kini hak-haknya sama sekali tidak dikurangi, asalkan pandai-pandai meniti buih. Makan apa maunya, bisa berhalo-halo-ria dengan telepon seluler, bisa punya kamar berpendingin ruangan. Bahkan di penjara yang tidak membuat jera ini akan dibangun bilik asmara. Di bilik inilah penghuni penjara bisa menyalurkan hasrat seksnya-dengan pasangan sah atau tak sah, tentu semua bisa diatur.

  • Tanpa ada bilik asmara pun penghuni penjara sudah bebas menyalurkan hasratnya bercinta. Bahkan kekasihnya bisa lebih dari satu. Contohnya Freddy Budiman. Terpidana narkoba yang divonis hukuman mati ini-dulu saya bergetar jiwa-raga mendengar orang dihukum mati dan karena itu saya menolak hukuman mati diterapkan-punya dua atau lebih kekasih. Yang satu resmi, model cantik Anggita Sari. Sedangkan selingkuhannya, antara lain yang baru memperkenalkan diri, Vanny Rossyane. Mereka wanita terpandang-maksud saya, enak dipandang karena mereka model yang banyak mengisi majalah hiburan pria. Mereka saling membeberkan apa yang mereka lakukan saat bercinta di penjara. Saya tak ingin mengutip, ini masih bulan puasa.

    Freddy, yang berlagak budiman selama jadi penghuni penjara, sekarang di Cipinang. Dia alumnus berbagai "rumah bui". Pernah di Surabaya, Tangerang, Salemba, sebelum ke Cipinang. Dan kasusnya pun bertingkat-tingkat, tapi semuanya berhubungan dengan narkoba. Hukuman mati dia terima di Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena terbukti menjadi dalang penyelundupan 1.412.476 butir pil ekstasi seberat 380.996,9 gram.

    Apakah Freddy menyesal, jera, tobat, dan segera membaca kitab-kitab suci-sebagaimana yang saya perkirakan jika orang dihukum berat? Jauh panggang dari kompor. Ia tetap tersenyum, tetap menerima kunjungan kekasihnya. Anggita mengaku menengoknya tiga kali seminggu, sambil membawa makanan kesukaan Sang Arjuna, tanpa merinci apa yang dilakukan selain makan. Sedangkan Vanny sudah membeberkan kelakuannya bersama Freddy di penjara, seperti berhubungan seks, minum (atau makan, saya tak tahu) sabu, dan seterusnya. Dan ini yang luar biasa bagi mereka yang masih menganggap penjara itu bui. Freddy tetap mengontrol dan mengendalikan bisnis besarnya: perdagangan narkoba.

    Bagaimana terpidana mati-saya langsung membayangkan sepuluh polisi terlatih, tapi hatinya gundah, menembak pesakitan yang matanya ditutup--bisa hidup seperti itu di penjara? Hal ini tak perlu dijelas-jelaskan. Omzet narkoba yang ditangani Freddy dari penjara miliaran rupiah. Penuturan wanita-wanita kekasih Freddy pun sudah gamblang. Tinggal menggesekkan jempol dan telunjuk, keluar uang jutaan. Nah, bayangkan kalau tangan menggebrak, berapa juta keluar dari Freddy. Kok di penjara ada uang? Lo, jangan bertanya lagilah, itu sudah terang-benderang.

    Kepala penjara narkotik Cipinang, Thurman Hutapea, dicopot dari jabatannya karena cuap-cuap para kekasih Freddy Budiman. Kementerian Hukum mungkin terpukul oleh kasus ini, lalu merasa malu bahwa sidak yang banyak dilakukan Wakil Menteri Denny Indrayana hasilnya hanya nol koma kosong. Tak ada perubahan apa pun di penjara. Yang punya uang berlimpah tetap bersuka-ria meski divonis mati. Yang tak punya uang (atau tak mau menyuap) tetap dibatasi ketat. Misalnya Anand Krishna, pemikir Hindu yang mendekam di Cipinang juga. Jangankan ada handphone, laptop untuk menulis saja tak boleh dibawa. Ada kasta di penjara, ini perlu dibenahi tanpa dikaitkan dengan pencitraan.

    (Diambil dari Koran Tempo Minggu 28 Juli 2013)


  • Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 28 Juli 2013 | Dibaca : 1292 Pengunjung


    posting Lainnya :

    Lihat Arsip posting Lainnya :

     



    Kalender Bali

    Facebook
    Jajak Pendapat
    Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?