Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


358330

Pengunjung hari ini : 80
Total pengunjung : 68646

Hits hari ini : 252
Total Hits : 358330

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Pulang

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 04 Agustus 2013 | Dibaca : 1359 Pengunjung

Ini bukan perbincangan soal novel. Ini sekadar renungan tentang pulang. Pulang dalam bentuknya yang sederhana, pulang ke kampung halaman, pulang ke tanah kelahiran. Betapa orang rindu akan pulang karena di sana mereka kembali menemukan jati dirinya, berkumpul dengan orang-orang yang sulit untuk dilupakan. Pulang adalah sebuah ritual yang sulit dirumuskan dengan kata-kata, tak bisa dituturkan lewat Twitter yang hanya 140 huruf.

Karena itu, saya tak ingin mencemooh mereka yang hari ini masih berjuang untuk pulang, meninggalkan Jakarta yang selama ini menjadi padang pertempuran untuk meraih harta. Tak semua orang menang dalam "pertempuran duniawi" itu. Ada yang masih berstatus pembantu rumah tangga, kesehariannya melayani majikannya, menonton televisi dari balik pintu kamar yang sempit atau duduk bersimpuh di samping kursi majikannya yang sering kosong. Ada yang bekerja di pabrik yang pengap, makan seadanya di saat jeda, dan tidur berdempetan di kamar kos. Atau berjualan di kaki lima, yang setiap saat didatangi polisi pamong praja karena dianggap tidak tertib padahal mereka selalu tertib membayar uang keamanan.

Tentu ada yang sudah menang dalam "pertempuran duniawi" ini. Mereka hidup dengan kemewahan, naik mobil di lajur busway karena yakin, jika ada polisi menindaknya, dia sanggup menyelesaikan dengan damai. Tampil di televisi menyebut-nyebut sebagai wakil rakyat yang sudah menerima mandat dari rakyat, entah rakyat yang mana. Memberikan hadiah mobil miliaran rupiah kepada anak remajanya yang berulang tahun, padahal kerjanya setiap hari hanya menjual-belikan perkara. Lalu, banyak juga yang tiba-tiba memasang iklan atau "terduga iklan", siap menjadi calon presiden. Puih, apakah mereka tak punya cermin di rumahnya?

Tapi, saya tak ingin menghujat, karena mereka yang kalah dan menang dalam "pertempuran duniawi" di Ibu Kota pada pulang hari ini. Orang-orang menyebut tradisi ini sebagai mudik, kata yang ingin saya hindari, karena ada yang menyebut itu berawal dari "udik", sebutan yang masih dianggap mengejek seperti halnya kampungan atau ndeso. Saya rindu suatu saat kata-kata seperti udik, kampungan, ndeso bukan untuk merendahkan. Itu artinya, saya rindu pemimpin negeri ini mau membangun desa dan kampung, bukan hanya membangun kota. Siapa tahu, kalau kampung orang-orang udik ini dibangun, tidak lagi ada tradisi mudik semeriah hari ini. Sampai saat ini ketimpangan pembangunan di kota dan desa ibarat bumi dan langit. Ketertinggalan di pedesaan dengan warganya yang hidup miskin hanya dijadikan proyek menjelang pemilihan umum.

Doa saya untuk para sahabat yang pulang ke kampung naik sepeda motor. Jangan lupa menghidupkan lampu motor di siang hari sesuai dengan aturan, meski kita tak paham apa gunanya lampu itu di saat terang-benderang dalam keadaan macet pula, selain menyilaukan dan memboroskan aki. Doa saya untuk yang menggunakan kendaraan pribadi, meski sejatinya itu mobil sewaan. Doa saya pun ikhlas untuk yang pulang naik pesawat, jet pribadi atau bukan, semoga uang yang dibagikan di kampung tak membuat kalian tinggi hati karena sesungguhnya itu uang mereka yang kalian rampok lewat ngemplang pajak atau utak-atik anggaran.

Pada saatnya kita semuanya akan pulang dalam keabadian, pulang yang sesungguhnya pulang, dan di sana kita ditanya: apa amal Anda di dunia? Kita tak tahu kapan waktu pulang itu, tak pernah ada sidang di Kementerian Agama. Karenanya, mari beramal yang baik mulai saat ini, siapa tahu sebentar lagi kita dipaksa pulang. Selamat Lebaran, maaf lahir-batin.

(Diambil dari Koran Tempo Minggu 4 Agustus 2013)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 04 Agustus 2013 | Dibaca : 1359 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?