Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


498990

Pengunjung hari ini : 96
Total pengunjung : 107196

Hits hari ini : 223
Total Hits : 498990

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Pilihan

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 26 Januari 2014 | Dibaca : 1396 Pengunjung

Selalu ada pilihan. Kata-kata ini terus diucapkan Romo Imam. Apapun topik yang saya tanyakan, jawabannya selalu ada pilihan. Saya lalu memancing: “Kalau begitu, apakah saya masih punya pilihan, pekerjaan sampingan apa yang cocok buat saya?”

Romo Imam terkekeh. “Banyak. Menanam cabai atau jahe di dalam pot. Mau lebih keren jadi penceramah. Selalu ada pilihan, kecuali jangan menjadi sastrawan, apalagi yang berpengaruh. Itu perlu proses panjang, tak bisa instan, malah mencemarkan predikat lain yang sudah bagus.”

Saya terbahak: “Ya, tidaklah Romo. Saya tak paham dunia sariawan, eh, sastrawan. Dunia yang suka ribut di kalangan mereka sendiri.” Setelah agak tenang, saya lebih serius: “Kalau untuk mengatasi banjir Jakarta?”

Romo tenang menjawab: “Banyak cara. Mengeduk kali, membuat sumur resapan, memfungsikan waduk. Yang tak usah dipilih merekayasa hujan, karena itu hanya memindahkan hujan ke daerah lain, artinya memindahkan banjir. Selalu ada pilihan, tapi membuat sedotan di Kali Ciliwung menuju ke Kali Cisadane juga tak bijak. Masak Jakarta membuang banjir ke Tangerang, ya, ngamuk orang Banten.”

“Siaran televisi juga banyak ada pilihan,” ujar Romo lagi. “Banjir di mana-mana, Pemanukan, Pekalongan, Demak, Kudus, Pati, wah membentang sepanjang jalan Pulau Jawa. Belum lagi di Menado dan provinsi lainna. Tapi ada televisi yang terus menerus menyiarkan banjir Jakarta, tujuanna menyentil Jokowi selain ongkosnya lebih murah. Di Jakarta pun banyak pilihannya, misalnya, di mana ada banyak bendera parpol yang didukung televise itu.”

“Wah, bagaimana dengan keputusan Mahkamah Konstitusi, Romo? Kok pilihannya pemilu serentak tapi tahun 2019?” tanya saya. Ini jawaban Romo: “Selalu ada pilihan di saat MK tertekan. Uji materi yang diajukan Effendi Gazali bersama Koalisi Masyarakat Sipil itu tak ada jalan keluarnya, sementara uji materi yang diajukan Yusril Ihza Mahendra ada solusi. Dengan memilih memutuskan gugatan Effendi Gazali, MK pun bebas member solusi. Yaitu, gugatan diterima, tetapi untuk pemilu 2019.”

“Pemilu 2014 ini jadi tak sah dong?” Romo menjawab: “MK jelas menyebutkan pelaksanaan pemilu 2014 ini inkonstitusional. Artinya,  kita mendapatkan wakil rakyat dan presiden yang inkonstitusional. Dan NKRI jadi Negara in-Konstitusional Republik Indonesia.”

“Apa Romo sudah baca buku Selalu Ada Pilihan karya presiden kita?” Saya mengalihkan perhatian. “Belum, saya mau membaca setelah beliau tak lagi menjadi presiden, supaya lebih jernih mengomentari. Kan tinggal 270 hari.” Saya kaget, kok Romo ikut menghitung mundur, ya?


(Diambil dari Koran Tempo Minggu 26 Januari 2014)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 26 Januari 2014 | Dibaca : 1396 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?