Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


425540

Pengunjung hari ini : 285
Total pengunjung : 86246

Hits hari ini : 455
Total Hits : 425540

Pengunjung Online: 6


Twitter
Baca posting

Salaman

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 03 Agustus 2014 | Dibaca : 1423 Pengunjung

Lebaran sudah berlalu. Itu versi resmi. Versi tidak resmi, hari ini adalah lebaran ke tujuh. Masih terasa opor ayamnya. Apalagi masih libur dan tempat tamasya masih ramai. Tapi yang berlebaran di udik, maksudnya kampung halaman -- karena itu lahir istilah mudik – harus balik ke kota tempat mencari nafkah. Esok sudah bekerja seperti dulu. Bahkan kerja lebih keras agar bisa menabung untuk mudik tahun depan. Siklus tahunan yang tak pernah berhenti, persis perbaikan jalan di pantai utara Jawa (pantura) yang juga tak kunjung henti.

Bersalaman dan saling mengucap “mohon maaf lahir batin” masih berlanjut. Pada masyarakat Jawa ada istilah syawalan, silaturahmi sepanjang bulan Syawal, karena bermaaf-maafan tak bisa persis pada “lebaran yang resmi”. Ada kendala waktu dan jarak. Apakah Joko Widodo dan Prabowo Subianto akan saling berkunjung atau bertemu dalam sebuah hajatan untuk meminta dan memberi maaf? Bisa saja itu terjadi, karena untuk mengirim kartu pos bergambar khas lebaran sudah sulit karena seniman-seniman kartu pos di Pasar Baru sudah pada menghilang.

Salaman antara Jokowi dan Prabowo akan berdampak dasyat bagi penghuni negeri ini, meski pun pengamat yang biasanya genit perlu survey apakah itu dilakukan dengan tulus atau sekedar akting. Presenter televisi pun akan sibuk mengulas, siapa yang lebih dulu menyodorkan tangan, meski itu tidak penting-penting amat. Bagi masyarakat kebanyakan yang tak pernah nyinyir, salaman kedua pemimpin ini pastilah tulus dan itu jadi simbul dari bertemunya dua hati. Seseorang disebut kesatria jika ia kalah dengan tetap berdiri tegak dan menang dengan tidak menjadi angkuh.

Siapa yang menang dan yang kalah? Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menetapkan Jokowi yang menang. Tapi menurut konstitusi, jika KPU tak dipercaya memutus kemenangan, maka pemenang pilpres ditentukan oleh sembilan orang. Mereka adalah hakim Mahkamah Konstitusi. Kalau sembilan pengadil ini bilang Prabowo menang, Jokowi harus kalah. Begitu sebaliknya. Tetapi jutaan orang sudah tahu siapa yang menang berdasarkan “proses yang berjalan secara transparan” dan hitung cepat yang ilmiah, bukan dari lembaga survey abal-abal yang sudah meminta maaf. Akan halnya hakim konstitusi riskan untuk berbuat curang apalagi menerima suap, karena pasti ada efek jera dari hukuman seumur hidup yang diterima mantan Ketua MK.

Yang kalah harus berjiwa besar dan menyalami atau minimal memberi selamat kepada yang menang, apalagi masih di bulan Syawal. Lalu instrospeksi, kenapa bisa kalah. Jika MK tetap memutus Prabowo kalah, ini kesempatan buat Gerindra bertanya: kenapa partai nasionalis yang melesat ke depan dengan kader yang memberi harapan, gagal memenangkan jagonya? Apakah karena faktor Prabowo yang lebih tua dari Jokowi? Atau jangan-jangan kemasukan partai yang memperjuangkan kekhasan sempit sehingga masyarakat khawatir Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila terhapus dari garuda Indonesia. Prabowo dan pimpinan Gerindra bisa membedahnya dengan jernih jika keihklasan menerima kekalahan itu dilakukan. Begitu pula jika misalnya Jokowi yang dikalahkan MK, meski KPU dan lembaga survey sudah memberikan kemenangan, introspeksi harus dilakukan.

Kata kunci untuk tetap terhormat sebagai kesatria sejati dan terus berjuang di masa mendatang adalah menerima kekalahan dengan tulus dan mempelajari penyebab kekalahan. Lalu kedua pesaing bersalaman. Di dunia hewan, salaman usai bertarung memang tidak ada, tetapi bukankah kita makhluk berbudaya dan punya martabat?

(Diambil dari Koran Tempo Minggu 3 Agustus 2014)


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 03 Agustus 2014 | Dibaca : 1423 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?