Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


571978

Pengunjung hari ini : 108
Total pengunjung : 126464

Hits hari ini : 188
Total Hits : 571978

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Sri Mulyani

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 05 Januari 2012 | Dibaca : 1482 Pengunjung

 

Putu Setia

 

Kembali Romo Imam memanggil saya ke pedepokannya. “Kamu kenal Sri Mulyani?” Ketika saya jawab tidak, Romo tampak kecewa.

 

Romo lalu menyebut sejumlah nama. Kwik Kian Gie, Bambang Soesatyo, Maruar Sirait, Aburizal Bakrie dan banyak lagi. “Semuanya tidak saya kenal Romo, saya kan rakyat kecil, mana kenal tokoh besar itu,” jawab saya. Dengan nada kecewa, Romo berkata: “Kamu kurang bergaul, padahal saya ingin membicarakan Sri Mulyani dalam kasus Bank Century.”

 

Saya berusaha membelokkan perbincangan. “Urusan Bank Century ruwet, kita bicara Ibu Sri dalam kaitan Hari Ibu saja,” kata saya. Romo seperti tersinggung: “Itu keliru besar. Kasus Century masalah sederhana yang diruwetkan karena banyak pihak memiliki target masing-masing.”

 

Romo menjelaskan dengan analogi rumah terbakar – padahal saya mengharap analogi Profesor Kodok, seperti yang dilansir Kwik. Saat itu, kata Romo, ada rumah terbakar di sebuah komplek dalam kawasan kampung besar. Untuk memadamkan rumah itu perlu disemprot air dan zat kimia yang membutuhkan biaya mahal. Uang ada, karena setiap rumah di komplek itu sudah urunan untuk musibah tak terduga seperti ini. Bukan uang milik kampung.

 

Badan otorita komplek mengadakan rapat darurat. Ada dua pendapat, biarkan rumah itu terbakar sendiri, dan tak perlu biaya untuk memadamkan api. Pendapat lain, semprot segera, toh uang ada, karena bisa berdampak sistemik, api merambat ke rumah yang lainnya. Jika itu terjadi, bukan saja warga komplek yang menanggung akibatnya, juga warga kampung. Keputusan harus diambil cepat. Berdasar analisa saat itu, rumah harus disemprot. Jadi masih ada pondasinya dan dibangun rumah baru. Pemilik rumah itu nanti harus mengembalikan uang hasil iuran itu, karena memang sifatnya bantuan sementara.

 

“Sri Mulyani mengambil keputusan itu dengan cepat,” kata Romo. Kalau sekarang ada yang mencela pengambilan keputusan itu, kata Romo, itu sangat tak adil. Karena pencelanya berbicara saat kondisi aman tentram. Pengambilan keputusan cepat saat emergency sering disebut “judi yang dibenarkan”. Andaikata Sri Mulyani memutuskan membiarkan rumah itu terbakar, lalu api merembet ke mana-mana, bayangkan celaan macam apa pula yang diterimanya?

 

“Tapi nyatanya api tak merembet, Romo,” saya memotong. “Kamu ikutan tolol,” jawab Romo. “Kamu berbicara dalam konteks situasi sekarang yang aman.”

 

Saya diam, takut kena “semprot”. Kemudian, Romo bicara lagi, jika aliran biaya menyemprot rumah itu dipersoalkan, nah, itu bagus, jangan Sri Mulyani yang dihujat. Kan tak mungkin Ibu Sri turun langsung memeriksa, berapa aliran uang untuk beli air, beli selang dan sebagainya. Kalau di situ ada korupsi, ya, tindak di situ. Juga jangan sok pahlawan kesorean, selalu bilang: uang rakyat raib. Uang ini memang diperuntukkan emergency semacam itu untuk para anggotanya yang kemudian akan dikembalikan lagi. Ya, kalau disebut uang Negara atau uang rakyat, itu perdebatan para kusir delman, memangnya ada organisasi silat menerbitkan uang? Semua uang, ya, dikeluarkan Negara, tapi ada “hak milik” yang melekat pada orang atau paguyuban.

 

“Kamu kenal Marsilam Simanjuntak?” tiba-tiba Romo bertanya tentang orang lagi. “Kalau dia saya kenal, karena Marsilam orang besar yang menghormati martabat saya sebagai orang kecil,” jawab saya. “Sejauh mana kenal?” Saya jawab: “Sampai saya mengenali suaranya di telepon meski beliau sering bercanda. Karena itu, dalam rekaman yang kini beredar, saya yakin Sri Mulyani berbicara dengan Marsilam, bukan Robert Tantular.” ***


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 05 Januari 2012 | Dibaca : 1482 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?