Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


572023

Pengunjung hari ini : 109
Total pengunjung : 126465

Hits hari ini : 233
Total Hits : 572023

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Natal

Oleh : mpujayaprema | 21 Desember 2014 | Dibaca : 1642 Pengunjung

Selamat Hari Natal bagi yang merayakan, di manapun berada, apapun agamanya. Lho apapun agamanya? Benar. Saya memakai kata “merayakan” dalam arti yang diuraikan kamus bahasa Indonesia, yakni “memestakan”. Natal sudah pasti ada pesta diskon di berbagai pasar swalayan. Pasar moderen sumringah, ada balon bintang berkelap-kelip di pohon cemara plastik. Pusat perdagangan berubah jadi tempat hiburan bersuasana pesta. Ada lagu “Jingle bells, Jingle bells, Jingle all the way ...”

Para karyawan mengenakan topi Santa Klaus, tak peduli apa pun agamanya. Saya tak tahu apakah mereka dipaksa. Dari senyumnya seperti tak ada tekanan. Mungkin sukarela – atau memang suka -- bukankah semakin banyak pengunjung semakin banyak dagangan laku? Boleh jadi ada bonus tahunan.

Apalagi suasana pesta seperti ini tak cuma untuk merayakan Natal.  Jelang dan saat lebaran pasar moderen  dihias gantungan ketupat plastik warna-warni. Para karyawati mengenakan kerudung. Anggun sekali. Suasana semarak. Lagu “lebaran sebentar lagi...” berganti-ganti dengan “Bang Toyib. Bang Toyib, tiga kali puasa, tiga kali lebaran, abang tak pulang pulang...”

Natal sudah pasti hari raya keagamaan kaum Nasrani, pemeluk Kristen dan Katolik. Lebaran atau Idul Fitri hari raya umat Islam. Di sini kata “merayakan” dalam kamus diartikan “memuliakan”. Tak ada penjelasan lain, namun saya setuju “memuliakan” dalam hal ini adalah ibadah, mengikuti proses ritual. Ritual Natal apakah disebut misa kudus, kebaktian dan lainnya, tentu untuk pemeluk Katolik dan Kristen yang memuliakannya. Ibadah Idul Fitri dengan sholat berjamaah tentu untuk kaum Muslim. Bersembahyang ke pura pada hari Galungan hanya bagi umat Hindu, itu pun etnis Bali.

Tetapi kita hidup dalam masyarakat majemuk, yang berbeda keyakinan namun budaya bisa satu. Para tetua orang Bali yang tinggal di pedesaan masih heran melihat orang Jawa yang saat lebaran berpesta dengan ketupat. Bahkan asesoris ketupat (dari plastik warna-warni) dijadikan hiasan di pusat-pusat perbelanjaan, juga jadi hiasan di mobil. Padahal ketupat – yang cara menganyamnya persis sama – adalah sesajen yang sakral di Bali. Bagaimana menjelaskan ini?

Ketupat (di Bali: ketipat) adalah budaya yang sudah ada sebelum Majapahit. Ornamen budaya ini jika dibawa ke ranah Hindu di Bali maka jadilah ia sesajen, bisa disebut sakral. Tetapi itu bukanlah agama, karena umat Hindu etnis lain, apalagi di India di mana ajaran Hindu turun, tak mengenal ketupat. Lalu apa salahnya orang Jawa juga melestarikan ketupat itu? Kita jangan terlalu merancukan antara agama sebagai ibadah dan budaya yang hidup di masyarakat Nusantara ini.

Pada perayaan Natal  umat Katolik dan Kristen di Bali akan mendatangi gereja mereka dengan pakaian adat Bali. Lelaki memakai destar, perempuan rambutnya digelung ke belakang (bahasa Bali: mepusungan), mereka memakai kain. Gereja mereka diukir sebagaimana umumnya pura umat Hindu. Di Palasari, Kabupatena Jembrana, umat Kristen di sana sudah terbiasa memakai gong kebyar lengkap dengan tari-tari Bali yang sangat semarak. Pernah ada selentingan yang mempertanyakan hal itu dengan nada protes, seolah-olah “melecehkan” Hindu. Kenapa diprotes? Itu budaya Bali, bukan milik Hndu. Tari Bali sudah ada sekolahnya di Jepang. Grup gong kebyar Bali sudah banyak di Amerika dan Kanada. Mereka tidak beragama Hindu.  Kita harus bisa membedakan yang mana ranah budaya dan yang mana keyakinan agama.

Selamat hari Natal dan saya merayakan dalam ranah budaya: numpang diskonnya.

(Diambil dari Koran Tempo Minggu 21 Desember 2014)


Oleh : mpujayaprema | 21 Desember 2014 | Dibaca : 1642 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?