Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


358315

Pengunjung hari ini : 80
Total pengunjung : 68646

Hits hari ini : 237
Total Hits : 358315

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Hutan

Oleh : mpujayaprema | 31 Oktober 2015 | Dibaca : 834 Pengunjung

Asap bikin repot banyak orang. Ini bukan asap dari penjual sate pinggir jalan, tapi asap dari jutaan hektar hutan yang terbakar. Hutan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara Timur, bahkan merembet ke beberapa gunung di Jawa. Nusantara seakan begitu kecil, api seperti mudah melompat menyeberang laut luas.

Para menteri sibuk, kecuali Menko Puan Maharani yang menurut Menteri Kesehatan tak ikut meninjau asap. Mungkin Ibu Puan alergi asap, maklum itu memang berbahaya. Presiden pun teramat sibuk. Sudah enak-enak berada di Amerika Serikat dipaksa pulang oleh asap, meski saat berangkat pun asap sudah mengepul dasyat. Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh juga menghabiskan waktu lama di televisi miliknya untuk mengabarkan para relawan Nasdem, lengkap dengan atribut dan bendera, sedang berangkat ke empat provinsi melawan asap.

Apakah rakyat ikut sibuk memadamkan api di hutan? Sudah pasti. Tapi apakah kesibukan rakyat itu digerakkan oleh lembaga adat setempat? Belum pasti. Ada kabar dari Riau, lembaga adat yang secara faktual ada di sekitar hutan, terpinggirkan. Mereka bukan saja tak dilibatkan jika pemerintah memberi izin konsesi hutan, tetapi malah tak jarang tanah ulayat mereka pun dicaplok patok pengusaha hutan. Teriak mereka tak terdengar.

Kedekatan masyarakat adat dengan hutan tentu tak cuma di Riau. Di banyak tempat di Nusantara, barangkali sudah tradisi turun-temurun, hutan itu dijaga oleh komunitas adat. Mereka menyatu dengan hutan, termasuk apa pun yang ada di dalamnya, flora maupun fauna. Maka, ketika masyarakat adat merasa tidak diajak bicara oleh penguasa dalam membagi dan mengkapling hutan, mereka pun menjadi jauh dengan hutan. Begitu ada pengusaha membuka lahan dengan membakar hutan, masyarakat adat bukan saja cuek, malah ikut membakar hutannya yang hanya dua atau tiga hektar. Tak ada lagi rasa memiliki hutan.

Di Bali tak banyak ada hutan, jika dibandingkan di Sumatera atau Kalimantan. Karena itu tak ada “pengusaha hutan”. Masyarakat adat masih merasa memiliki hutan. Apalagi kalau hutan di gunung yang umumnya ada tempat persembahyangan di puncaknya. Kalau ada asap mengepul sedikit saja, kentongan dibunyikan, warga adat langsung menyerbu sumber asap. Para pendaki gunung pun diawasi masyarakat adat. Tak boleh berbuat seenaknya, misalnya, merusak ranting pohon, membuang puntung rokok. Beda dengan gunung-gunung di Jawa, meski pun ada kawasan tirakat di puncaknya, tak ada komunitas adat yang mengawasi pendaki. Ketika lereng Gunung Lawu terbakar yang sibuk memadamkan api adalah tim SAR. Mendaki gunung sudah menjadi komoditas, membayar di pos pendakian, menyewa penduduk yang membantu angkut peralatan. Warga sekitar gunung hanya menonton sambil berjualan minuman, tak merasa memiliki hutan.

Tapi hutan yang terbakar di Sumatra dan Kalimantan yang menebarkan bencana asap ke mana-mana, sesungguhnya bukan hutan dalam artian tumbuh pohon besar. Ini lahan gambut yang memang tak ditumbuhi pohon. Justru gambut itu harus dimusnahkan agar lahan bisa lapang untuk menanam kelapa sawit. Karena begitu luasnya menanam sawit, membakar lahan adalah cara yang paling murah. Hutan atau pun lahan gambut, seharusnya ada yang menjaga. Kalau masyarakat adat sudah lepas tangan, penjagaan semestinya muncul dari pekerja perusahaan perkebunan. Lalu ada pengawasan dari pemerintah sebagai pemberi izin. Masalahnya lahan itu begitu luas, apa sanggup mengawasi? Makanya, kenapa komunitas adat di sekitar lahan itu tak dilibatkan?

(Diambil dari Koran Tempo Sabtu 31 Oktober 2015)


Oleh : mpujayaprema | 31 Oktober 2015 | Dibaca : 834 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?