Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


459678

Pengunjung hari ini : 230
Total pengunjung : 95186

Hits hari ini : 344
Total Hits : 459678

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Budi

Oleh : mpujayaprema | 14 November 2015 | Dibaca : 868 Pengunjung

Ini Budi dan ini ibu Budi. Begitulah halaman pertama buku pelajaran membaca anak-anak sekolah dasar. Kenapa Budi? Kenapa bukan Badu? Penyusun buku menyadari pentingnya pendidikan karakter anak sejak dini. Budi bukan sekadar nama orang, tapi sebuah kata yang punya makna positif dalam hal moral, akhlak, tutur kata. Jika kata budi ditambah pekerti yang berarti prilaku atau laksana, maka budi pekerti adalah tingkah laku yang didasari akhlak mulia. Dari sini akan lahir orang-orang budiman.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan diawal tahun ajaran yang lalu mengembangkan program yang disebut Penumbuhan Budi Pekerti dengan menjadikan sekolah sebagai taman untuk menyemai karakter positif anak bangsa. Itu dianggap penting karena penumbuhan budi pekerti di sekolah dan pembelajaran budi pekerti di rumah tangga tak berbekas ketika anak keluar dari lingkungan itu.

Budi pekerti memang sudah luntur di tataran masyarakat. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin menyebutkan: “Saat ini Indonesia sudah dalam kondisi darurat akhlak”. Pernyataan Ma’ruf usai membuka rapat kerja MUI di Ancol pekan lalu itu, menjadi running tex di televisi dengan kalimat: “MUI: Indonesia Darurat Budi Pekerti”.

Kegelisahan Ma’ruf mewakili keresahan para ulama, pemuka agama dan para “perindu budi pekerti”. Tetapi siapa yang mendengarkan suara mereka sekarang ini? Siapa yang bergerak menyiram darurat ini? Membandingkan darurat budi pekerti dengan darurat asap dan sebentar lagi darurat banjir, tentu sulit. Asap bisa dipadamkan dengan menyiramkan berton-ton air dari pesawat terbang, kalau pun kewalahan bisa diakhiri dengan doa minta hujan. Dampak banjir bisa ditanggulangi dengan cepat, meski pun tanpa doa minta kemarau cepat datang. Tetapi budi pekerti yang darurat membutuhkan gerakan bersama untuk menanggulangi dan syaratnya adalah korban dari buruknya budi pekerti ini dirasakan oleh banyak orang. Yang terakhir ini belum nampak.

Orang tak suka jika seorang gubernur sering berkata kotor dan penampilannya selalu marah, meski pun mengagumi cara kerjanya yang cepat dan tanggap. Tapi pengeritik itu juga melontarkan kata-kata yang tak kalah kasarnya dan media kita juga lebih suka menampilkan gubernur yang marah ketimbang gubernur lagi senyum atau ketawa. Caci maki, berkata jorok, debat saling serobot  bicara, menjadi barang jualan dan menjadi tontonan. Sepertinya ada yang suka hal itu dan diciptakan keberadaannya.

Darurat budi pekerti, darurat akhlak, darurat moral, atau apa pun namanya akhirnya terjadi. Ma’ruf Amin memberi contoh, kasus paedofil yang marak dan krisis moral lainnya banyak disebabkan oleh perkembangan teknologi informasi yang menggeser jauh norma kepantasan yang selama ini dipegang masyarakat. Disebut penyebabnya, antara lain, banyaknya konten pornografi di internet.

Karena itu MUI akan menggenjot gerakan perbaikan akhlak bangsa, misalnya, meminta pemblokiran konten porno. Gerakan ini harus pula jadi program majelis-majelis agama lainnya. Partisipasi semua pihak dibutuhkan. Pengguna media sosial, misalnya, bisa memelopori dengan membuat status sopan dan memblok status caci maki. Media televisi membuat siaran yang lebih edukatif – istilah di era ada Menteri Penerangan yang baik ditiru. Jika tidak mari pindah channel. Perbaikan akhlak ini menyambung dengan gerakan Anies Baswedan lewat program penumbuhan budi pekerti di sekolah.

Masalahnya, apakah kita mau mengakhiri darurat budi pekerti ini dan jadi orang berbudi?

(Diambil dari Koran Tempo Sabtu 14 November 2015)


Oleh : mpujayaprema | 14 November 2015 | Dibaca : 868 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?