Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


502751

Pengunjung hari ini : 89
Total pengunjung : 107921

Hits hari ini : 1006
Total Hits : 502751

Pengunjung Online: 12


Twitter
Baca posting

Gigolo in Paradise

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 02 Mei 2010 | Dibaca : 1489 Pengunjung

Putu Setia

(Dimuat Koran Tempo 2 Mei 2010)

Orang Bali dikesankan lagi resah. Penyebabnya karena ulah gigolo – anak kecil di Pantai Kuta menyebutnya orang bego gila – yang selama ini gentayangan di pantai, bisa jadi aktor populer. Wajah mereka tiap hari muncul di layar televisi, diambil dari cuplikan film Cowboys in Paradise.

Film dokumenter ini karya Amit Virmani, seorang pelancong yang tinggal di Singapura. Karena film berkisah tentang sisi gelap kepariwisataan di Bali, yaitu kehidupan para gigolo, banyak tokoh yang kebakaran jenggot. Tempat tinggal sang sutradara juga cepat menjadi penyulut terbakarnya jenggot itu, meski para tokoh yang resah itu tak berjenggot.

“Film ini sengaja ingin merusak image pariwisata Bali,” kata sejumlah orang. “Ya, Virmani tentu menjelek-jelekkan Bali karena Singapura kalah bersaing dalam menggaet turis asing yang batal ke Thailand,” kata pemilik hotel. “Film ini dibuat tanpa prosedur, tak ada izinnya,” kata Gubernur Bali. “Sang Sutradara bisa dihukum pidana, kami sudah minta bantuan Interpol karena Indonesia dan Singapura tak punya perjanjian ekstradisi,” kata juru bicara kepolisian.

Pokoknya, film yang mudah diunduh di internet ini sudah menjadi running news – demikian menurut jurnalis televisi lokal. Stasiun televisi nasional pun menayangkan kasus ini berulang-ulang dengan mencuplik adegan dalam film itu sampai memuakkan. Untunglah, belum ada anggota DPR yang berceloteh. Kalau saja ada, ucapannya mungkin begini: “Cowboy in Paradise hanya mengalihkan isu Bank Century.”

Betulkah orang Bali resah? Ah, tidak. Saya sudah memancing pertanyaan lewat sandek (pesan pendek di telepon selular) dan jawaban yang saya terima: gpp – jika dipanjangkan maksudnya “gak apa apa”. Para aktor di film itu wajahnya tak asing bagi penggemar Kuta. Mereka tiap hari di sana karena pekerjaannya pelatih surfing, penyewa alat surfing, dan – ini sisi sosialnya – memberi petunjuk kepada orang di mana nyebur yang aman dari sergapan ombak.

Soal gigolo dan turis cewek, memang cerita lama. Banyak yang mengakui hal itu ada, termasuk pemuka adat di Kuta. Saya pun kadang percaya. Tapi, saya tak yakin, bahwa gigolo yang asli adalah gigolo dalam Cowboy itu. “Saya ditipu, saya bukan gigolo,” kata salah satu dari tiga aktor Cowboy itu di kantor kepolisian.

Apa ya, film secuil ini merusak pariwisata Bali? Ditelaah dari sisi manapun saya tetap yakin, film ini tak punya pengaruh apa-apa, baik pada dunia wisata Bali maupun pada citra Bali. Jika wisatawan bisa dipilah, ada tiga kelompok. Wisatawan kelas A, uangnya banyak, belanjanya banyak. Mereka tinggal di Nusa Dua, Jimbaran, Sanur, di hotel dan resort berbintang. Mereka ini bukan pengunjung Kuta, mobilnya saja tak bisa masuk. Tour mereka diatur biro perjalanan, di mana makan, di mana belanja, apa saja yang dikunjungi.

Kelompok kedua, sebut kelas B. Mereka wisatawan religius, tinggal di villa atau pondok wisata pedesaan, berlatih yoga, meditasi, mencari keheningan di alam yang asri. Menetapnya bisa lama, tetapi belanjanya minim – wong kebanyakan vegetarian. Lalu kelompok ketiga, sebut kelas C, itulah penggemar Kuta. Mereka tinggal di hotel tanpa lihat bintang, sewa sepeda motor keluyuran ke mana-mana, belanja di mana saja dia mau.

Pemasukan terbesar untuk pemerintah dan pengusaha – dari pajak dan sebagainya-- tentu dari kelompok A, namun yang langsung dirasakan rakyat Bali dari kelompok B dan C. Cowboys in Paradise tak akan menohok kelompok A dan B, sementara bagi kelompok C, film itu justru jadi ajang promosi. Jadi, kenapa resah?


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 02 Mei 2010 | Dibaca : 1489 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?