Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


502706

Pengunjung hari ini : 89
Total pengunjung : 107921

Hits hari ini : 961
Total Hits : 502706

Pengunjung Online: 13


Twitter
Baca posting

Darurat

Oleh : mpujayaprema | 27 Februari 2016 | Dibaca : 810 Pengunjung

Sekarang banyak hal bisa didarurat-daruratkan. Dulu yang paling saya takutkan jika ada pesawat yang mendarat darurat. Terbayang orang-orang yang panik, mungkin juga korban. Kemudian darurat perang, lagi-lagi saya membayangkan bocah yang sedang main kelereng terkena bom. Tetapi sekarang ada darurat yang tidak begitu membuat orang panik, meski ada korbannya. Misalnya darurat korupsi, darurat pelecehan seks pada anak, darurat narkoba – tolong tambahkan yang lain.

Kamus Besar Bahasa Indonesia pada edisi paling akhir memang banyak menyebutkan arti dari kata darurat. Namun pada awalnya, kata darurat itu selalu dikaitkan dengan “keadaan yang tidak disangka-sangka”. Atau  “keadaan yang memaksa” untuk berbuat sesuatu. Apakah korupsi, narkoba, pelecehan seks, dan lainnya itu tidak disangka sebelumnya? Apakah itu ujug-ujug terjadi seperti gempa bumi? Bukankah itu sudah bisa diramalkan sebelumnya seperti  gerhana matahari?

Jero Wacik, menteri di era Susilo Bambang Yudhoyono, divonis empat tahun oleh Pengadilan Tipikor Jakarta karena menyelewengkan dana operasional menteri. Terlalu ringan, kata banyak orang. Apakah ini tergolong “darurat korupsi” yang sama sekali tak disangka-sangka? Cobalah kalau semua menteri diperiksa dana operasionalnya, apa ada yang bersih benar? Coba periksa dana operasional gubernur atau dana operasional bupati. Bagaimana mungkin bupati yang gajinya kurang dari Rp 30 juta (lima tahun jadi Rp 1,8 milyar) bisa menghabiskan uang Rp 3 milyar untuk pemilihan kepala daerah? Uang dari neneknya?

Anggota DPR tertangkap tangan saat disuap pengusaha. Daruratkah ini? Bukankah DPR itu membahas anggaran sebagai salah satu tugasnya, dan usulan-usulan proyek bermuara dan disetujui di sini. Kalau ada pengusaha yang mengincar proyek dan pengusaha sudah “bersahabat” dengan pengelola anggaran, bukankah tinggal “bersahabat” dengan penyetuju anggaran yakni parlemen? Dalam otak pengusaha sudah ada pikiran: “Suap DPR nggak apa, mutu proyek dikurangi, gak ada yang tahu.” Anggota DPR pun berpikir: “Asal terima hati-hati siapa yang tahu, kan banyak yang begitu.” Syahdan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ternyata menyadapnya, karena KPK berasumsi “ini bukan darurat”, sudah bisa disangka sebelumnya. Yang darurat justru DPR mati-matian melemahkan KPK dengan melumpuhkan senjata penyadapan itu.

Sesuatu yang bisa diperkirakan atau kata pepatah “ada asap pasti ada api” seharusnya bisa diantisipasi sejak dini sehingga tak mudah menyebutnya sebagai sesuatu yang darurat. Banyak orang maklum pengedar dan pengguna narkoba semakin berani karena ada “orang kuat” di belakangnya. Razia narkoba pun sering bocor. Nah ketika aparat TNI bekerjasama dengan Badan Nasional Narkotika (BNN) menggrebek narkoba di perumahan elite Kostrad, ternyata betul ada sejumlah tentara dan polisi dibekuk – ditambah anggota DPR. Harus dipuji pimpinan TNI dan Polri karena berani membersihkan lembaganya. Apakah ketua DPR berani mengatakan, “silakan BNN tes urin semua anggota DPR”. Pasti tidak. Mungkin ide itu bisa dianggap penghinaan oleh wakil ketua DPR yang “mudah panas”. Padahal cuma antisipasi.

Kita harus mulai berpikir ke arah “semua orang bisa disangka” jika terlihat sesuatu yang tidak wajar. Teknik pembuktian terbalik harusnya bisa diberlakukan jika kita ingin konsisten berantas korupsi. Penyadapan oleh KPK harus tetap dipertahankan. BNN harus berani merazia semua tempat yang rentan jadi sarang narkoba. Tak ada yang darurat, semuanya harus terencana.

(Diambil dari Koran Tempo Sabtu 27 Februari 2016)


Oleh : mpujayaprema | 27 Februari 2016 | Dibaca : 810 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?