Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


418224

Pengunjung hari ini : 188
Total pengunjung : 84448

Hits hari ini : 1780
Total Hits : 418224

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Anggito Abimanyu

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 23 Mei 2010 | Dibaca : 1332 Pengunjung

Putu Setia

(Versi panjang dari yang dimuat Koran Tempo 23 Mei 2010)

Anggito adalah Abimanyu yang sebenar-benarnya di negeri ini, sekarang. Seperti ayah biologisnya, Raden Arjuna, Abimanyu adalah kesatria penerus Pandawa yang kemayu, polos, tak banyak cakap, tapi cerdas. Mungkin karena ia seniman yang ahli sastra dan karawitan alias musik, ia bukan tukang gugat meski pun nasib buruk ditimpakan padanya. Dalam ephos Mahabharata yang sering dijadikan sesuluh (pelajaran dan pedoman spiritual) oleh masyarakat Nusantara, Abimanyu akhirnya gugur sebagai tumbal dari kebimbangan orang tua dan paman-pamannya dalam Bharatayudha. Gugur dengan segala kepasrahannya karena ia begitu berbakti pada orang tua dan mencintai negerinya.

Anggito Abimanyu adalah tumbal yang sebenar-benarnya dalam perang intrik politik kotor di negeri ini, sekarang. Dalam posisi sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan, dia dipilih menjadi Wakil Menteri Keuangan. Tes sudah dijalaninya, kontrak politik pun sudah ditandatangani, dan pelantikan sudah diumumkan pada 6 Januari 2010. Saya tidak tahu apakah Anggito sampai perlu menyiapkan jas dan sepatu baru mengingat setahu saya dia cukup sederhana kesehariannya. Yang saya tahu – dan masyarakat Indonesia tahu meski pun banyak tak peduli – Anggito batal dilantik sebagai Wakil Menteri.

Alasan pembatalan adalah pangkat Anggito tak memenuhi syarat. Maklum, jabatan wakil menteri setengah politis setengah karier. Karena Anggito menyandang nama Abimanyu, saya menduga dia tak peduli akan pangkat, karena seperti Abimanyu dalam Mahabharata, kesatria ini tak pernah menuntut “apa jabatannya” dan “apa pangkatnya”, dia hanya berpikir pekerjaan harus dilakukan penuh tanggung jawab.

Sampai di sini saya membayangkan, betapa buruknya administrasi Negara di negeri ini. Pemanggilan Anggito ketika ditawari jadi wakil menteri dengan segala proses seleksinya, tentu dilihat atau setidaknya didengar oleh pembantu Presiden. Katakanlah Presiden tak tahu pangkat Anggito,  kok tak ada staf presiden yang membisiki presiden kalau Anggito tak memenuhi syarat, sampai namanya keburu diumumkan?

Oke, soal buruk banyak yang buruk di negeri ini, tapi mari kita tetap mencintai negeri ini. Kisah saya teruskan, Anggito pun mengurus kepangkatannya. Sepuluh tahun mengabdi sebagai eselon satu tentu aneh kalau pangkatnya “tak memenuhi syarat”. Syahdan, hanya sekitar seminggu, pangkat itu memenuhi syarat. Ritual pangkat baru itu pun dilakukan secara resmi dengan pelantikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Tapi, tak ada satu pun kabar yang dia terima setelah itu, apakah jabatan wakil menteri ini tetap diberikan atau tidak. Adakah presiden dan para pembantu presiden bimbang akan hal ini, sebagaimana Arjuna yang sangat bimbang menjelang Bharatayudha?

Saya tak tahu, yang saya tahu adalah gossip yang mengabarkan terjadinya berbagai intrik politik untuk menggagalkan Anggito sebagai wakil menteri. Tuduhan yang berat, tapi tak pernah ada yang membuktikan, Anggito condong ke partai politik tertentu. Masalahnya, Anggito adalah Abimanyu, tak pernah menanyakan hal ini kepada “ayahnya”, berbilang bulan sehingga masalah sesungguhnya menggantung.

Tibalah saat itu. Gonjang-ganjing politik membuat Sri Mulyani mundur sebagai Menteri Keuangan. Kesempatan emas bagi presiden untuk mencari pengganti Srikandi ini, plus sekalian mengangkat wakil menteri – supaya satu paket dilantik. Menjelang pengumuman menteri dan wakilnya, Anggito banyak menerima ucapan selamat dari sahabatnya. Para sahabat ini tentu berpikir waras dan berakal sehat: bukankah jabatan itu pernah diumumkan untuk Anggito, bukankah syarat pangkat sudah dipenuhi, bukankah sejak Januari sampai Mei tak pernah ada pembatalan dari istana – baik pemberitahuan lisan maupun tertulis.

Ternyata, kewarasan dan akal sehat kalah, wakil menteri dijabat kolega Anggito, bukan dirinya. Anggito pun memilih mundur dari gelanggang. Ada harga diri dan martabat yang jauh lebih mulia dari jabatan. Ada wartawan bertanya: apakah Anggito kecewa? Bussyet… ini pertanyaan paling bodoh, Anggito yang Abimanyu tak mungkin berkata kecewa. Dunia yang kecewa, kenapa petinggi kita kehilangan etika yang paling dasar, yang oleh orang Jawa disebut “diwongke”. Apa salahnya memberitahu Anggito bahwa ia tak jadi diangkat sebagai wakil menteri, toh alasan bisa dicari-cari.

Yang lebih konyol, seorang menteri kordinator membujuk Anggito agar tak jadi mundur, atau menawari jabatan lain. Saya terbahak-bahak, Abimanyu bukan Bhuto Cakil, juga bukan anak kecil yang kehilangan permen lalu diberi coklat. Anggito memang lebih baik pulang ke Yogya – dan Sri Mulyani ke negeri seberang—karena di sini “bharatayudha” atau perang intrik belum berakhir. Orang-orang seperti Anggito dan Sri Mulyani akan sangat dibutuhkan jika negeri ini sudah normal. Tapi kapan? ***


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 23 Mei 2010 | Dibaca : 1332 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?