Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


354972

Pengunjung hari ini : 83
Total pengunjung : 67840

Hits hari ini : 368
Total Hits : 354972

Pengunjung Online: 13


Twitter
Baca posting

Pujangga

Oleh : mpujayaprema | 09 April 2016 | Dibaca : 595 Pengunjung

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memberikan semacam beasiswa bagi para penulis untuk menghasilkan karyanya. Menurut Menteri Anies Baswedan caranya dengan memberi tunjangan hidup kepada para penulis dalam jangka waktu tertentu agar mereka konsentrasi menulis. Bisa dikirim ke luar negeri, tempat yang merangsang mereka untuk kreatif, termasuk melakukan riset.

Saya teringat sebuah pertemuan di tahun 1970-an. Ada Made Sanggra, pengawi (pengarang berbahasa Bali) dan ada Gerson Poyk, sastrawan Indonesia. Made Sanggra sudah menerbitkan sendiri kumpulan puisi dan cerita pendek dalam bahasa Bali, meski sangat sederhana. Salah satu cerita pendeknya berjudul Ketemu Ring Tampaksiring mendapat penghargaan dari Majelis Pertimbangan Kebudayaan Bali. Made Sanggra berkata: “Kalau saja pengawi hidupnya seperti pujangga di zaman Majapahit, pasti lahir karya sastra bermutu.” Dia iri, pujangga di era Majapahiit dibiayai hidupnya untuk menulis kekawin, sementara Made Sanggra menulis disela-sela bertani.

Sastrawan Gerson Poyk yang sudah menulis novel Sang Guru mengangguk. “Beri saya uang untuk bekelana dan menulis, akan saya hadiahkan novel yang bagus. Bagaimana saya bisa menulis dengan konsentrasi kalau untuk makan minggu depan harus menulis dua atau tiga cerita pendek pesanan koran,” katanya.

Tapi karya sastra tak pernah berhenti terbit, sampai hari ini. Pujangga masa kini terus berkarya dengan latar sejarah yang mungkin kelam. Ada Leila S Chudori dengan Pulang, ada Laksmi Pamuncak dengan Amba, dua contoh saja. Mereka bernasib baik, setidaknya dibandingkan Made Sanggra dan Gerson Poyk. Mereka punya “bekal” untuk riset.

Juga bertebaran “pujangga” yang karyanya dengan mudah dijual lewat celotehan di media sosial. Tak semua penulis bisa memanfaatkan media sosial untuk berjualan, atau bisa jadi tidak mau karyanya dijajakan bagai menjual markobar – martabak produksi putra Jokowi. Karena itu terobosan Menteri Anie Baswedan bagai angin surga.

Mpu Tantular yang hidup di era Majapahit Raja Hayam Wuruk abad ke 14, diminta untuk menulis karya yang bisa dijadikan sesuluh kerajaan. Lahirlah Kekawin Sutasoma yang didalamnya ada “kata sakti”: bhineka tunggal ika – kata yang kini jadi sesanti negeri ini. Meski dibiayai hidupnya untuk menulis, pujangga ini tak terpengaruh oleh pesanan, bahkan nama yang dipakai, Tantular, artinya tak terpengaruh.

Tak cuma Tantular yang diberi “bea siswa” oleh Hayam Wuruk. Ada pujangga lain, Mpu Prapanca, yang kemudian melahirkan Kekawin Negarakertagama yang termasyur itu. Kisah ini memang sejenis reportase kerajaan, namun dengan keindahan bahasa, kekawin dengan 98 pupuh (sajak bertembang) ini begitu indah, melampaui zamannya.

Di era sebelumnya, Kerajaan Kediri, lahir karya sastra yang sampai kini tak henti-henti dibaca dan ditembangkan. Misalnya Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa di era Raja Airlangga. Kresnayana karya Mpu Triguna di era Raja Jayabaya. Smaradahana karya Mpu Dharmaja pada masa Sri Kameswara. Juga “tafsir baru” dengan gaya bertembang tentang Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Tentu yang dasyat adalah kisah Lubdaka yang diadaptasi Mpu Tanakung ke dalam masyarakat Jawa Hindu, yang sampai kini jadi rujukan di Bali.

Saya bermimpi Menteri Anie Baswedan juga melebarkan gagasan beasiswa ini dengan jemput bola kepada “pujangga bahasa daerah”, jika kita percaya pelestarian bahasa dan sastra daerah memperkuat budaya nasional. Mereka tentu kalah bersaing jika diharuskan membuat proposal.

(Diambil dari Koran Tempo Sabtu 9 April 2016)


Oleh : mpujayaprema | 09 April 2016 | Dibaca : 595 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?