Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


425528

Pengunjung hari ini : 284
Total pengunjung : 86245

Hits hari ini : 443
Total Hits : 425528

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

(Ter) Mirip

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 20 Juni 2010 | Dibaca : 1206 Pengunjung

Putu Setia

(Dimuat Koran Tempo 20 Juni 2010)

Saya tak menyangka kalau Romo Imam datang ke rumah saya.  “Saatnya kita harus bersuara. Ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut,” kata Romo setelah saya persilakan duduk di ruang tamu yang sumpek.

“Memalukan, kasus video mesum dibicarakan berlama-lama,” katanya. Saya kaget, orang setua Romo bicara masalah itu. “Romo, sudahlah. Semua orang mengharap kasus itu jangan dibahas lagi, tapi karena setiap orang saling mengharap, jadinya malah makin bising. Seharusnya, jika kita sepakat meredam kasus itu, ya, kita diam semua.”

“Kali ini tak bisa diam, malah harus bicara,” kata Romo. “Polisi membuat riuh sesuatu yang seharusnya tidak riuh. Bahkan mereka menciptakan istilah baru dalam dunia hukum, yaitu mirip atau termirip.”

Romo membuka catatan.  “Dulu, dengan menghormati asas praduga tak bersalah, seseorang yang baru ditengarai melakukan tindak pidana, cukup disebut diduga atau terduga. Contohnya: ‘Video mesum itu diduga dilakoni Luna dan Ariel.’ Artinya, belum pasti apakah pelakonnya Luna dan Ariel. Sekarang kok pakai istilah mirip. Coba simak ini: ‘Video mesum yang diduga mirip Luna dan Ariel.’ Ini kan membingungkan? Diduga dan mirip itu sama-sama belum berarti kenyataan, kenapa digandeng?”

Romo melanjutkan: “Jika kasus pidana ditangani seperti ini, betapa panjangnya mencapai kepastian hukum. Pertama seseorang dinyatakan ‘termirip’.  Setelah diteliti dengan berbagai alat, kemudian naik status menjadi ‘ternyata’. Artinya orang itu nyata adanya, tapi belum tentu bersalah. Statusnya lantas diselidiki, jadilah dia ‘terduga’. Setelah ada alat bukti, lalu diperiksa dan statusnya menjadi ‘tersangka’. Proses hukum berlanjut ke pengadilan, jadilah ‘terdakwa’, karena jaksa mengeluarkan dakwaan. Hakim kemudian memutus perkara, jadilah ‘terhukum’. Setelah vonis hakim ini punya kekuatan hukum tetap, baru menjadi ‘terpidana’. Setelah itu ada proses hukum luar biasa seperti peninjauan kembali, tetapi masyarakat sudah lupa siapa pelaku tindak pidana itu, muncul status baru: ‘terlupakan’. “

“Romo mengada-ada,” saya memotong. Romo tertawa: “Sudah berapa banyak koruptor yang tiba-tiba saja meninggalkan penjara karena bebas bersyarat atau memang sudah selesai dipidana? Masyarakat  sibuk dengan isu yang terus bermunculan, lupa memantau, apakah remisi terpidana sudah benar atau janggal? Terpidana yang membangun ‘sel hotel’, apa masih dipantau masyarakat? Semuanya ‘terlupakan’. Ada bom meledak, eh, pelakunya ternyata teroris yang tadinya dikira masih di penjara.”

Saya kembali ke fokus: “Romo, soal ‘termirip’ itu, bagaimana mestinya?” Romo menjawab: “Tak perlu ada. Atau tak perlu berlama-lama. Soal mirip Luna Maya atau tidak, perintahkan seorang polisi wanita memeriksa bokong Luna Maya, ada tato kupu-kupu apa tidak. Itu pekerjaan lima belas menit, bukan lima belas hari. Kalau pun kurang bukti, perintahkan ahli forensik wajah meneliti perbandingan antara gambar dan kenyataan, sertakan psikolog. Atau libatkan ulama seperti saya, saya tahu orang berbohong dan orang jujur hanya dari gerak-geriknya selama berkata, apalagi yang dikatakannya.”

“Wah… wah… wah…” hanya itu komentar saya. Romo berdiri mau pamit: “Karena itu mari kita bersuara, tolong selesaikan kasus video mesum ini dengan cara normal, bertindak tegas. Memalukan urusan begini masuk sidang parlemen dan istana.”

Romo meninggalkan rumah saya. Tiba-tiba istri saya datang. “Kamu kok tega tidak menyapa Romo,” tegur saya. Istri saya tenang saja: “Saya tak yakin itu Romo, saya menduga itu orang mirip Romo Imam.”


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 20 Juni 2010 | Dibaca : 1206 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?