Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


355825

Pengunjung hari ini : 146
Total pengunjung : 67903

Hits hari ini : 1221
Total Hits : 355825

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Celeng (an)

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 04 Juli 2010 | Dibaca : 1356 Pengunjung

Putu Setia

(Dimuat Koran Tempo 4 Juli 2010)

Celeng beda dengan babi. Orang Jawa menyebut babi hutan. Orang Sulawesi menyebut babi alas. Perbedaan bukan hanya phisik, juga haram tidaknya. Ada orang Jawa – yang muslim – mau makan daging celeng karena yang haram cuma daging babi.

Saya pernah ikut berburu celeng bersama masyarakat transmigran Bali di Sulawesi Tenggara. Ikut juga empat orang Bugis yang muslim. Setelah dapat buruan, orang Bugis itu lahap menyantap celeng yang sudah dibakar. “Ini tidak haram,” kata mereka sambil menawari saya. Saya tetap menolak. Saya berpantang makan beberapa jenis hewan, termasuk babi, sesuatu yang mungkin aneh karena saya orang Bali.

Kenapa, padahal itu bukan babi? Nah, di sini saya jadi orang Bali yang sebenarnya, babi dan celeng itu sama. Celeng itu bahasa Bali dari babi, jadi saya sulit membedakan babi dengan celeng.

Tetapi, membedakan celeng dengan celengan, saya yakin mampu. Akhiran “an” pada kata celeng memberi pengertian “bukan yang sebenarnya”. Ada rumah makan di kawasan Puncak menawarkan daging “ayaman”, ini jenis burung yang “bukan sebenarnya ayam”. Celengan adalah benda yang berbentuk “mirip” celeng. Kata “mirip” perlu disebut karena tidak semua wujud celeng diviualkan dalam celengan. Pengrajin celengan grabah pantang membuat celengan yang ada gigi, jari kaki dan ekor yang menyerupai celeng. Tadinya saya pikir itu masalah kerumitan saja, tapi pembuat grabah menyebut: “Celengan ini lambang kemakmuran, pertanda orang itu berhemat dan suka menabung. Gigi, jari kaki dan ekor celeng lambang ketamakan, tak bisa dibawa ke wujud celengan.”

Astaga, dari cerita ini saya baru tahu, ternyata celengan tak sekadar mainan anak kecil untuk mencemplungkan uang logam. Celengan menyimpan sejarah panjang, jauh lebih panjang dari sejarah republik ini. Di masa Kerajaan Majapahit (abad ke 14) celengan adalah benda yang hampir dipunyai oleh semua penduduk. Masyarakat Hindu pada saat itu mempersembahkan babi (ya, celeng) pada ritual keagamaan –sampai kini dilaksanakan  di Bali – sebagai lambang dari rasa syukur atas kemakmuran yang didapat, lalu membuat benda yang mirip celeng dengan menghilangkan simbol ketamakan celeng, untuk menabung hartanya. Harta berharga saat itu adalah uang kepeng. Dan benda mirip celeng itulah –puluhan tahun kemudian, entah kapan -- disebut celengan.

Baru belakangan saya paham, kenapa para pendeta Hindu dalam melafalkan mantram menyangkut persembahan babi, selalu mengkaitkan dengan kemakmuran. Jika Anda melihat ada celengan di rumah orang gedongan, jangan buru-buru berkata: “Hare gini masih pakai celengan? Buka rekening dong, nabungnya di bank dong.” Oke, itu pasti sudah dilakukan orang kaya, tapi celengan adalah simbol yang wajib ada bagi mereka yang meyakini tradisi leluhur itu –  sesuatu yang sulit dijelaskan. Itu sebabnya, celengan sebagai lambang kemakmuran dan pengendalian diri dari nafsu berfoya, sulit digantikan dengan “celengan” ayam atau gajah.

Jika demikian, polisi berlebihan menggugat Majalah Tempo, karena sampul Tempo jelas gambar celengan, bukan celeng. Tapi saya maklum, polisi saat ini lagi “tertekan”, banyak kasus di dalam tubuhnya, banyak masalah keamanan yang dihadapi, sehingga capek. Saya mengimbau teman wartawan, he…he…, sayangi polisi, orang capek mudah tersinggung. Ibarat kata yang “mirip” Ruhut Sitompul, “saya sangat bangga dan sangat cinta polisi, karena itu polisiku yang gagah berani menumpas teroris sampai mempertaruhkan nyawanya,janganlah kebanggaanku jadi hilang hanya karena kalian takut pada celengan.”


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 04 Juli 2010 | Dibaca : 1356 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?