Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


353867

Pengunjung hari ini : 171
Total pengunjung : 67636

Hits hari ini : 537
Total Hits : 353867

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Ibu Kota

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 01 Agustus 2010 | Dibaca : 1251 Pengunjung

Putu Setia

(Dimuat Koran Tempo 1 Agustus 2010)

Jakarta akan lumpuh total pada tahun 2014. Begitu menurut pakar transportasi. Belum beberapa hari, pernyataan diralat: tahun kelumpuhan Jakarta akibat kemacetan diprediksi lebih cepat, akhir tahun depan, atau paling tidak awal 2012. Mobil dan motor tak bisa bergerak di jalanan.

Kalau Jakarta lumpuh, bagaimana bisa berfungsi sebagai Ibu Kota sebuah negara? Presiden tak bisa ke mana-mana. Kalau beliau pas di Cikeas, ya, tetap saja di sana, tak bisa ke Istana Negara meskipun ada ratusan polisi mengamankan jalan. Jalanan sudah sesak mobil, tak bisa “diamankan”, dan mungkin juga polisi tak bisa keluar dari markasnya karena terjebak macet.

Kalau presiden sedang  di Istana Negara, juga akan kesepian. Tamu tak ada yang bisa datang, menteri cukup melaporkan kerjanya lewat telepon. Membuka seminar atau musyawarah nasional, bisa dilakukan presiden lewat satelit, tetapi kalau melayat tokoh yang wafat, apa bisa lewat satelit?

Pejabat selain Presiden masih bisa menyesuaikan diri. Para wakil rakyat, misalnya, diuntungkan dengan kemacetan total ini karena ada alasan untuk tak hadir di sidang, meski pun dia tak berada di Jakarta. Wartawan, nah ini dia, tentu punya kiat tersendiri mencari berita, bisa lewat telepon. Selebihnya, orang-orang yang terjebak kemacetan itu – tak peduli tua atau muda – akan sibuk dengan telepon genggamnya: kutak-katik Facebook. Kemacetan menguntungkan pengelola telepon selular, penjualan pulsa meningkat.

Kalau Jakarta benar akan lumpuh, tak ada cara lain kecuali memindahkan ibukota negara. Pindah kemana?  Kalau memakai cara gampangan, salah satu ibukota provinsi di Jawa bisa dijadikan alternatif. Kalau masih ditambah alternatif, kota kabupaten seperti Malang, Solo, Purwokerto bisa dilirik. Tapi problemanya akan sama: dihantui kemacetan.

Semua kota di Jawa secara ideal tak bisa dijadikan ibukota negara, karena sistem transportasinya juga amburadul. Bagaimana kalau pindah ke Bali? Lebih runyam lagi. Bali sesungguhnya menyimpan kelumpuhan total yang sama dengan Jakarta. Akan segera meledak, sudah ada sinyalnya. Bali tak punya transportasi umum yang memadai, bahkan di kota sama sekali tak ada angkutan kota. Kalau ada keluarga punya empat anak yang sudah bersekolah, keluarga itu punya enam sepeda motor, empat untuk anaknya, dua untuk ayah dan ibunya. Aktifitas mereka berbeda, kalau tak ada motor, mau numpang apa? Lalu sebuah mobil untuk pergi bersama, misalnya, jika bersembahyang ke pura.

Tak satu pun kota di Bali layak jadi ibukota negara karena hantu kemacetan sudah makin nyata. Jadi, kelemahan kita sebenarnya pada menata kota. Maka para idealis lebih cenderung melirik kota di luar Jawa, yang belum terlambat untuk ditata. Kota yang digadang adalah Palangka Raya, ibukota Kalimantan Tengah.

Adalah Presiden Soekarno,  yang  tiba-tiba kepincut dengan Palangka Raya. Dengan semangat nasionalisme yang tinggi, Soekarno menyebut Palangka Raya menjadi pemersatu Nusantara. Letaknya di tengah-tengah Sabang-Merauke dan penduduknya multi etnis. Kalimantan juga bebas dari gempa. Ketika Soekarno meletakkan batu pertama di “bundaran penjuru angin” Palangka Raya, kota ini pun dirancang dengan sistem jaring laba-laba, layaknya kota moderen.

Masalahnya, ketika nasionalisme (konon) memudar, apakah orang Jawa tega ibukota negara diboyong keluar, dan tidakkah melakukan perlawanan? Maklum, ibukota negara simbol penting sebuah republik, sama pentingnya dengan Kepala Negara,  sementara kita tahu dikotomi Jawa dan luar Jawa seperti api dalam sekam.


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 01 Agustus 2010 | Dibaca : 1251 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?