Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


358317

Pengunjung hari ini : 80
Total pengunjung : 68646

Hits hari ini : 239
Total Hits : 358317

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Parsel

Oleh : mpujayaprema | 02 Juli 2016 | Dibaca : 459 Pengunjung

Sebuah pesan WhatsApp saya terima kemarin sore. Isinya singkat: “Terimakasih parselnya sudah diterima.”  Pengirim pesan, kawan saya di kampung, Cak Dul panggilannya. Profesinya tukang cukur, satu-satunya pencukur di kecamatan kami, karena banyak orang beralih cukur rambut di salon.

Cak Dul tergolong generasi ketiga warga muslim yang tinggal di desa saya. Ayahnya seangkatan dengan saya, pernah menjadi guru di SMA Muhamadiyah Singaraja, kini sudah tiada. Dan kakek Cak Dul, warga legendaris di desa saya. Panggilannya Pak Sukri, penjual sate ayam Madura. Keluarga Pak Sukri berbaur dengan warga kampung, ikut gotong royong memperbaiki selokan, rajin begadang di tempat orang yang ada kematian. Orang-orang desa menyebut mereka nyama selam. Nyama artinya warga, dan selam merujuk pada agamanya, Islam. Yang kemudian jadi unik dari istilah ini, jika ada warga desa yang tidak makan daging babi, maka mereka disebut nyelam – seperti selam. Misalnya, dalam suatu hajatan di kampung, selalu ada pemberitahuan, bagi yang nyelam silakan ke tempat khusus yang telah disediakan. Agar makanan tidak bercampur. Saya tak pernah bertanya di mana Pak Sukri dikuburkan.

Mendiang ibu saya sangat dekat dengan keluarga Pak Sukri. Jika menjelang lebaran (yang biasa disebut galungan selam) ibu membawa ketupat yang sudah dimasak ke rumah Pak Sukri. Kadang disertai seekor dua ekor ayam hidup dari hasil ternak rumahan. Kenapa ayam hidup? “Nanti dia yang sembelih, kan doanya beda,” jawaban ibu saya, setelah saya terjemahkan dari bahasa Bali. Adapun ketupat itu, kata ibu, konon ibu juga mengutip dari Pak Sukri, “sudah umum dipakai semua orang Bali dan Jawa”.  Kata Jawa di sini bukan saja merujuk pada “luar Bali” tetapi juga “yang bukan Hindu”.  Kata ibu lagi (barangkali juga mengutip dari Pak Sukri), “ketupat itu tak beragama, bahannya sama, cara membuatnya sama, memasaknya sama.” Belakangan anak Pak Sukri (saya lupa menyebut tadi, namanya Zaenal Airifn) menambahkan “kalau ketupat dipotong saat makan-makan Idul Fitri jadilah kupat  lebaran, kalau dibawa ke pura, jadilah kupat persembahan.” Memang kalau Hari Raya Galungan, keluarga Pak Sukri pun membawa bingkisan ke rumah kami, lengkap dengan ketupat.

Tradisi saling mengantar bingkisan makanan di antara warga beda agama ini, menjadi hal yang biasa di kampung yang berpenduduk campuran. Bahkan di kampung Islam Desa Pegayaman (Bali Utara) dan di kampung Islam Desa Kepaon (Bali Selatan), tradisi ini diwariskan turun-temurun. Masyarakat menyebut dengan istilah ngejot – arti kata ini adalah saling berbagi.

Sepeninggal Pak Sukri dan ibu saya, keharmonisan hubungan berlanjut, diteruskan adik-adik saya dan anak Pak Sukri. Yang berbeda, sudah mulai masuk “jajanan toko” dan malah itu yang dominan, dibungkus kardus. Nah, generasi ketiga, Cak Dul – saya tak paham kenapa memiih jadi tukang cukur di desa – bingkisan kue dan minuman kaleng ini oleh anak saya dikemas rapi memakai kertas kado yang sudah umum di desa. Jadilah seperti parsel.

“KPK melarang pejabat menerima parsel, untung kita bukan pejabat,” pesan Cak Dul lagi lewat WhatsApp. Saya maklum, parsel di kalangan pejabat dan para pengusaha, sudah disusupi pamrih, ada godaan, mungkin juga ada keterpaksaan. Beda dengan bingkisan dalam tradisi ngejot, muncul dari hati untuk menjaga silaturahmi, perekat yang membuat guyub berbilang tahun. Saya tak membalas pesan Cak Dul soal parsel, saya hanya menulis: Selamat Menyongsong Idul Fitri, maaf lahir batin.

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 2-3 Juli 2016)


Oleh : mpujayaprema | 02 Juli 2016 | Dibaca : 459 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?