Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


425539

Pengunjung hari ini : 285
Total pengunjung : 86246

Hits hari ini : 454
Total Hits : 425539

Pengunjung Online: 6


Twitter
Baca posting

Balik

Oleh : mpujayaprema | 16 Juli 2016 | Dibaca : 480 Pengunjung

ARUS balik tidak separah arus mudik. Tidak ada target waktu yang harus dikejar sebagai mana orang mudik yang ingin merayakan Idul Fitri di kampung halamannya. Apalagi masuk kantor bagi pegawai swasta tak seketat pegawai negeri sipil. Awal tahun ajaran baru pun untuk Jakarta – dan kota-kota lain di Jawa – diundur seminggu dibandingkan luar Jawa. Urusan mudik dan balik praktis persoalan Pulau Jawa, bukan Nusantara.

Soal balik sesungguhnya masalah yang berat, jauh lebih berat dari mudik. Balik harus membuang kenangan manis di kampung halaman, berpisah dengan tanah kelahiran, dengan emak, bapak, kakek, nenek dan semua tetua di kampung. Orang-orang yang mudik adalah orang yang membawa harapan untuk “dimuliakan” di kampungnya. Sebagian memamerkan mobil, tak peduli itu mobil sewaan. Sebagian lagi memamerkan apa yang mereka banggakan sebagai “budaya kota”, entah itu pakaiannya, gayanya, atau sekadar memperlihatkan handphone yang berisi berbagai jenis games. Mereka ingin disebut orang-orang yang berhasil dan begitu mereka salaman di kampung, mereka pun merasa sebagai pemenang dalam kehidupan. Di kampung halaman itu mereka di-wongke.

Dan kini mereka balik dengan kegelisahan baru. Menjebol tabungan untuk membayar sewa mobil bagi pemudik kelas menengah. Menanggalkan cap “manusia pemenang” yang sempat disandang beberapa hari di kampung bagi pemudik kelas bawah. Golongan ini, yang jumlahnya banyak memanfaatkan program mudik gratis, kembali menjadi “manusia pecundang" di Jakarta. Ada yang bekerja sebagai asiten rumah tangga (sebutan di masa lalu: babu) yang setiap hari dihinakan oleh majikannya secara sengaja atau tidak. Ada yang mengais rejeki di kaki lima yang setiap saat meraung-raung dalam tangis ketika Satuan Polisi Pamong Praja melucuti dagangannya atas nama keindahan kota. Ada yang kembali ke rumah petak berdesak-desakan sembari menghitung hari, kapan mereka akan digusur. Kenangan sholat Idul Fitri di kampung, kenangan ketika sungkem dan bersalaman dengan tetua, kenangan ketika makan ketupat dengan opor ayam seadanya, juga ucapan yang sering dilontarkan (“saya sekarang bekerja di Jakarta”), lenyap. Tak ada yang tersisa, hidup berat dimulai kembali begitu ritual balik selesai. Ya kembali, seperti sinonim kata balik itu sendiri.

Ada perumpamaan, mudik ke kampung tak ubahnya ziarah men-charger baterai rohani. Tapi isi baterai tak cukup bertambah bagi orang yang stok baterainya lemah, mereka yang pulang dengan sepeda motor, ikut mobil gratis yang disediakan partai politik atau juragan jamu. Akibatnya, ketika mudik berganti balik, prilaku kembali ke waktu silam. Kekerasan hidup kembali hadir: saling sikut mencari rejeki, menghalalkan hal-hal yang menyimpang, korupsi bagi pemudik menengah ke atas – mana ada pemudik kere yang korupsi? Caci maki dan fitnah pun marak lagi di media sosial, karena konon, media ini bisa melahirkan “pembenci  berbayar”.

Adakah upaya agar lingkaran yang selalu berulang ini, bisa diperkecil? Misalnya, dana desa yang milyaran itu, bisa dipakai membangun sesuatu yang bermanfaat bagi pengembangan ekonomi rakyat. Bukan hanya untuk proyek phisik yang menyebabkan balai desa yang masih kokoh harus dibongkar untuk dibangun kembali. Urbanisasi harus direm dengan mengucurkan lebih banyak proyek ke desa. Kalau masyarakat hidup layak di desa, suatu ketika tak ada istilah mudik dan balik. Yang ada piknik. Jakarta akan macet di saat libur lebaran dan sepi kembali pada saat arus balik datang, orang-orang balik ke desa.


(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 16 Juli 2016)


Oleh : mpujayaprema | 16 Juli 2016 | Dibaca : 480 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?