Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


571937

Pengunjung hari ini : 105
Total pengunjung : 126461

Hits hari ini : 147
Total Hits : 571937

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Resah

Oleh : mpujayaprema | 23 Juli 2016 | Dibaca : 651 Pengunjung

POKEMON Go membuat banyak orang resah. Orang-orang biasa, bupati, gubernur, menteri, kepala polisi, kepala intel, semuanya resah dan melarang games ini dimainkan. Ada yang memakai alasan merusak konsentrasi kerja, mengganggu pelayanan, tempat kerja bukan taman bermain, membahayakan negara, dan seterusnya.

Saya juga resah. Padahal di saat teknologi sedemikian canggih sekarang ini, saya justru tak pernah bermain games di komputer, apalagi di handphone. Awal munculnya komputer saya hanya bermain Digger dan Pacman, kini tak ditemukan lagi permainan itu.

Saya menuangkan keresahan pada Romo Imam, siapa tahu ada solusi. Saya awali dengan cerita bahwa saya kurang berhasil membuat cucu-cucu saya meninggalkan tabletnya. Ada lima cucu dari dua anak, terbesar kelas 5 SD, terkecil baru TK, semuanya dibekali tablet oleh orang tuanya yang “super sibuk”. Tak diperlukan lagi pengasuh anak-anak, tablet itulah gantinya.

Ke lima cucu saya suka kumpul tapi jarang bermain bersama, seperti ketika saya seusia mereka suka bermain pistol-pistolan dari pelepah pisang. Cucu kumpul tapi pada diam, semua asyik dengan tabletnya.  Kalau pulang kampung bersama, di mobil saya putarkan video wayang kulit, maksud saya supaya paham budaya Nusantara. Tapi mereka tetap asyik dengan tabletnya. Eh, orang tuanya juga asyik ngetuit dan fesbukan.

Cucu paling besar sukanya games, entah jenis apa. Adiknya gemar video lucu di YouTube lalu ketawa sendiri. Yang paling kecil juga kontak YouTube, yang digemari Ipin Upin, tak kenal bosan. Bahkan ada channel interaktif berlogat Malaysia dan cucu saya itu ngobrol dengan tablet – saya yakin yang menjawab mesin. Kalau saya menegur, cucu saya menjawab dengan logat Malaysia: “datuk janganlah ganggu awak...”

Romo Imam mulai bertanya: “Berapa habis pulsa sebulan?” Saya katakan, di rumah ada wifi gratis untuk pendeta, entah sumbangan PT Telkom atau dibayar organisasi umat. Ke luar dari rumah juga banyak ada wifi gratis di tempat umum atau pasar moderen. Selain itu cucu saya dibekali “paket hemat internet” hanya Rp 10 ribu sebulan untuk 500 Megabyte. Praktis leluasa internetan. Hanya di sekolah tak bisa, karena guru melarangnya, bahkan handphone dan tablet dikumpulkan di depan kelas.

Tiba-tiba Romo bereaksi: “Tiru cara guru di sekolah. Pada waktu tertentu, tarik semua tabletnya.” Saya katakan, itu sulit. Pernah suatu kali saya bilang, “ayo berhenti main internet, taruh semua tablet”. Lalu ada yang jawab: “suruh dulu bapak dan mamak menaruh hape-nya.” Cucu lain menimpali: “Kakek kok juga suka mencet-mencet hape?”

Kepada Romo saya membela diri. Saya ikutan ngetuit dan fesbukan untuk mencari informasi dan memberikan pencerahan kepada umat (untuk bagian ini saya ucapkan sedikit malu, karena agak berlebihan), bukan menebar kebencian. Cucu saya itu hanya bermain-main. Romo jadi tertawa: “Sampeyan ini bagaimana sih, itu sudah kewajiban setiap orang sesuai tugasnya. Anak-anak seusia begitu memang tugasnya bermain. Alat mainnya disediakan zaman, dulu pistol dari pelepah pisang, sekarang pakai teknologi.”

Saya terperanjat. “Bagaimana dong Romo?” Romo menasehati: “Dibanding resah lebih baik para orangtua dan pemimpin memberi contoh. Jangan main larang yang justru membuat orang penasaran. Teknologi sulit dibendung. Lebih baik mengarahkan. Namanya permainan, sebentar lagi diganti permainan baru, apa keresahan juga bersambung? Khusus Pokemon Go, teliti yang benar, kalau membahayakan negara, blokir. Jangan banyak debat.”

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 23 Juli 2016)


Oleh : mpujayaprema | 23 Juli 2016 | Dibaca : 651 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?