Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


355853

Pengunjung hari ini : 146
Total pengunjung : 67903

Hits hari ini : 1249
Total Hits : 355853

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Kasih

Oleh : mpujayaprema | 06 Agustus 2016 | Dibaca : 447 Pengunjung

KERUSUHAN di Tanjungbalai, Sumatera Utara, menyisakan satu hal yang sering dilupakan: cinta kasih. Wihara dan kelenteng dirusak, dibakar, dan dijarah. Lalu seorang “wanita tua” yang ikut membangun Wihara Tri Ratna yang dirusak itu, memberi jawaban atas pertanyaan seseorang. “Kita harus berterimakasih kepada orang yang membakar itu. Karena tempat itu sekarang menjadi ladang untuk menanam karma baik, yang sangat luar biasa bagi siapa pun yang akan membangun kembali wihara itu.”

Kalimat itu diunggah di media sosial dan dibagikan berkali-kali. Mungkin jutaan orang sudah membacanya. Si “wanita tua” sama sekali tidak marah dan berkata: “Sila pertama dari agama Buddha adalah metta, cinta kasih. Orang yang membakar akan menerima karmanya.”

Saya langsung terharu, syukur tak menangis. Sempat bertanya tolol dalam hati, kenapa Tuhan menciptakan begitu banyak agama di bumi ini? Agama saya bukan Buddha, tapi kata “karma” itu salah satu dari lima dasar agama saya, sesuatu yang absolut bahwa seseorang yang ber-karma jelek pasti buruk pula yang didapatnya, kelak. “Karma Phala” atau buah dari perbuatan, pasti akan diterima seseorang, kalau pun tidak dalam hidup ini, di akhirat (atau di kehidupan mendatang kalau percaya ada reinkarnasi) pasti akan mendapat pahala.

Pertanyaan tolol saya dalam hati sempat pula dijawab oleh hati sendiri, rupanya hati saya suka monolog. Begini jawabnya: “Tuhan menciptakan bermacam perbedaan, termasuk banyak agama, agar kalian bisa memilihnya dengan nyaman sesuai apa yang diyakini benar. Lewat perbedaan itulah kalian bisa saling mengenal.”

Jika begitu, Tuhan menciptakan beragam agama bukan untuk membuat umatNya saling bermusuhan dan semua ajaran agama menuju pada kedamaian berdasar kasih. Buddha menyebutnya dengan istilah metta. Agama saya menyebutnya prema. Agama lain pasti istilahnya beda lagi. Ya, Tuhan, harusnya persamaan ditonjolkan, kenapa di negeri majemuk ini perbedaan, yang memang pasti ada, yang sering diperdebatkan?

Si “wanita tua” berbicara tentang kasih menanggapi perusakan wihara. Ini sangat dalam, apalagi ada kalimat “orang yang membakar akan menerima karmanya.” Sesungguhnya ini kemarahan yang tak kepalang, namun para biksu, pendeta, ulama, membalut kemarahan itu dengan damai karena hatinya dikendalikan dengan kasih. Kalau bahasa itu diucapkan oleh “orang kebanyakan” mungkin kalimatnya begini: “Lu bakar wihara gue, rasain nanti balasannya...” Lebih sadis lagi kalau di media sosial yang penuh penuh caci maki, bisa begini: “kalian bangs*t emang gw ga bisa bakar punya ente”.

Kasih jauh dari dendam, bahkan kasih membuat orang tak memelihara dendam. Para pujangga era Majapahit punya ungkapan yang bagus: “Kalau kamu dilempar dengan kotoran, balaslah dengan melempar bunga”. Kejahatan bisa diredam dengan kasih. Kejahatan yang selalu dibalas dengan kejahatan dengan maksud meredamnya, bisa jadi tidak berkurang karena dendam tetap membara meski bisa disembunyikan.

Tiba-tiba hati saya berbisik. Kalau begitu, bisakah kejahatan seperti teror, perkosaan, narkoba dan sebagainya didekati dengan kasih? Dor dilawan dengan dor, maka keluarga dan pengikut yang kena dor akan menyimpan dendam yang suatu saat akan disalurkan. Bandar narkoba ditembak mati berjilid-jilid (sampai ada “jilid tiga penangguhan”), apakah peredaran narkoba serta merta bisa berkurang? Cobalah pendekatannya tidak dengan dendam, tapi dengan kasih, tunjukkan bahwa itu karma buruk. Ya, siapa tahu Tuhan lebih senang dan meridhoiNya.

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 6 Agustus 2016)


Oleh : mpujayaprema | 06 Agustus 2016 | Dibaca : 447 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?