Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


424281

Pengunjung hari ini : 278
Total pengunjung : 85565

Hits hari ini : 795
Total Hits : 424281

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Hendarman

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 26 September 2010 | Dibaca : 1404 Pengunjung

Putu Setia

(Dimuat Koran Tempo 26 September 2010)

Hendarman Supandji, akhirnya resmi dicopot sebagai Jaksa Agung. Ini mengakhiri polemik yang sesungguhnya tak pantas dipolemikkan lagi. Mahkamah Konstitusi memutuskan jabatan Jaksa Agung yang disandang Hendarman tak sah setelah hari Rabu pukul 14.35 WIB.

Mungkin Hendarman sudah menduga keputusan itu. Buku-buku pribadinya sudah dibawa pulang. Namun, ia tak langsung menyatakan dirinya “bukan lagi Jaksa Agung” meski pun hari Rabu telah berganti Kamis.

“Apakah Pak Hendarman yang wajahnya selalu tenang itu membangkang?” tanya saya kepada Romo Imam.

Romo Imam menjawab: “Kamu salah menerka. Hendarman menerima keputusan itu dengan sangat legowo. Indikasinya, selain berbenah akan meninggalkan kantornya, beliau menyatakan tak akan membuat keputusan strategis. Bahkan tak ikut senam kesegaran jasmani pada hari krida Jumat lalu, padahal olahraga itu bukan keputusan strategis. Bagaimana disebut membangkang?”

“Tapi Pak Hendarman berkata, dirinya tetap Jaksa Agung sampai ada keputusan Presiden yang memberhentikannya. Beliau mengutip sebuah pasal dalam undang-undang, jabatan Jaksa Agung diangkat dan diberhentikan dengan keputusan presiden. Itu berarti beliau ngotot sebagai Jaksa Agung,” kata saya.

Romo tertawa. “Kamu masih perlu belajar budaya Jawa. Setelah keputusan Mahkamah diketok, sinyal dari Istana semula menyiratkan perlawanan. Orang-orang di lingkaran Presiden, terutama menteri yang mengurusi masalah administrasi negara, menyebutkan Hendarman tetap Jaksa Agung yang sah, sampai ada keputusan presiden yang memberhentikannya. Kalau Hendarman tidak mengikuti arus itu, misalnya, ia langsung tak masuk kantor, justru ia membangkang pada atasannya, yaitu presiden.”

“Tapi kenapa ia menyebut pasal yang seolah-olah membenarkan dirinya masih Jaksa Agung?’ tanya saya. Romo kembali tertawa: “Ucapan itu ibarat permainan bilyar. Yang disodok sebuah bola, yang masuk lubang bola yang lain. Hendarman berkata, Jaksa Agung diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Orang tahu, ia diangkat pada pemerintahan SBY periode 2004-2009. Nah, ketika periode itu berakhir, berakhir pulalah jabatan Jaksa Agung, wong presiden yang mengangkatnya berakhir masa jabatannya. Lalu, SBY terpilih lagi menjadi presiden masa jabatan 2009-2014, mengucapkan sumpah secara resmi. Presiden kemudian mengangkat anggota kabinetnya. Menteri yang terpilih kembali, disebut lagi namanya dan dilantik pula. Saat itu Hendarman tak disebut lagi sebagai Jaksa Agung, dilantik pun tidak. Lalu siapa yang mengangkat dia sebagai Jaksa Agung?”

“Surat pengangkatan lama kan belum dicabut,” jawab saya. Romo tergelak: “Periodesasi kabinet itu mengikuti masa jabatan presiden. Hendarman tahu soal itu, kalau tidak, tak mungkin ia mempreteli sendiri wewenangnya setelah keputusan mahkamah.”

“Jangan-jangan presiden kurang ngeh soal administrasi,” saya nyeletuk. “Betul,” Romo langsung memotong. “Administrasi negara amburadul. Hendarman hanya korban kesekian. Sebelumnya ada Anggito Abimanyu, sudah diumumkan jadi Wakil Menteri, eh, pangkat kurang, lalu dibatalkan. Yang kena getah Presiden, seolah-olah beliau tak konsisten memegang ucapannya.”

“Ya, kasihan SBY,” kata saya. “Baru saja beliau menegur Telkom dan Telkomsel gara-gara teleconfrennya ngadat. Orang sekitar SBY mestinya tahu, saluran komunikasi saat ini bukan cuma diurus Telkom dan Telkomsel. Benar kan, teguran itu salah alamat.”

Romo berbisik: “Tapi apa presiden minta maaf kepada Telkomsel, kepada Anggito, kepada Hendarman…” Saya diam, tak tahu jawabnya.


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 26 September 2010 | Dibaca : 1404 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?