Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


353843

Pengunjung hari ini : 171
Total pengunjung : 67636

Hits hari ini : 513
Total Hits : 353843

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Empat Guru

Oleh : mpujayaprema | 13 Agustus 2016 | Dibaca : 458 Pengunjung

LUKISAN itu tergantung di beranda rumah Romo Imam. Dua bocah menunggang kerbau yang jinak berlatar padang asri. Satu anak meniup seruling, lainnya membaca buku pelajaran. “Saya merindukan suasana ini,” kata saya, seperti ngelindur.

Romo Imam bereaksi. “Kita sudah bukan lagi bangsa peternak. Kalau pun kerbau masih dipelihara di Bali Barat dan Toraja, itu lebih untuk kebutuhan ritual. Kita lebih senang impor daging kerbau dari India.”

“Romo salah menerka,” kata saya. “Lukisan ini populer ketika Fuad Hassan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Yang mau disimbolkan adalah belajar sambil bermain, belajar pada alam, beri kebebasan kepada anak-anak menuntut ilmu tanpa merasa terbebani. Sekolah bukan satu-satunya tempat mencari ilmu.”

Romo mengajak saya duduk santai di kursi bambu. Tapi dia bicara serius: “Saya jadi ingat ajaran leluhur kita, saya kurang jelas apakah sumbernya dari kitab sebuah agama, atau ajaran kebajikan dari masa lalu. Yang pasti masih bagus dibicarakan. Soal catur guru  atau empat guru, yang bisa juga diartikan lebih luas yaitu empat tempat di mana kita bisa mencari ilmu. Sampeyan pasti tahu kan?”

“Ya, tapi istilahnya lupa,” kata saya. Romo lantas menerangkan, sungguh dia serius. “Catur guru itu yang pertama adalah Guru Rupaka. Ini kedua orang tua kita, dari sini ilmu pertama kita peroleh, bagaimana kita belajar bicara, belajar berjalan dan seterusnya. Yang kedua, Guru Pengajian, guru di sekolah. Namanya saja pengajian, tentu kalau diperluas termasuk guru ngaji sebagaimana di kalangan umat muslim. Yang ketiga, Guru Wisesa, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan dalam tafsir yang lebih luas, seluruh semesta ini adalah tempat kita berguru. Kita dapatkan ilmu di ruang seminar, di ruang perpustakaan, saat menonton kesenian dan seterusnya. Yang keempat, Guru Swadyaya, Tuhan Yang Maha Esa. Nah ini guru tertinggi, karena Beliau sumber segala ciptaan, sumber segala ilmu. Bagaimana mendapatkan ilmu itu, pelajari dan amalkan ajaran-ajaran Beliau sesuai dengan keyakinan yang kita pilih. Tidak ada agama yang mengajarkan kita untuk bodoh.”

Luar biasa. Maksud saya luar biasa seriusnya Romo. “Apakah ide full day school dari menteri yang baru itu sesuai dengan konsep catur guru?” Ah, saya terkejut, kok tiba-tiba berbelok ke sini?

Dan Romo langsung melanjutkan. “Ide itu tidak salah dan sudah ada sekolah itu. Karena orang tuanya bekerja seharian, maka anak-anak dititipkan di sekolah. Orang tua pulang sore sekalian menjemput anaknya. Anak-anak terjamin di sekolah, ada kegiatan bermain, bermusik, melukis, kantin yang luas dengan makanan sehat. Sarana ibadah pun komplit sesuai agama anak didik. Mungkin anak didik tak merasa terbelenggu. Untuk belajar ke alam, Sabtu dan Minggu piknik bersama keluarga, berkunjung ke pantai melihat nelayan, ke gunung melihat petani, masuk museum, menonton pergelaran. Konsep catur guru terpenuhi. Yang jadi masalah, seberapa orang yang mampu menitipkan anaknya ke sekolah itu? Gaji seorang camat saja tak cukup untuk bayar uang sekolah, belum lagi biaya plesir akhir pekan.”

 “Jadi, full day school itu belum saatnya sekarang?” tanya saya. Romo menjawab: “Kalau pemerintah yang membuat, dananya dari mana? Ini problema orang kota, yang orang tuanya sibuk. Kalau pemerintah cuma membuat di kota akan terjadi kesenjangan dengan sekolah di desa. Dipaksakan di desa? Boro-boro, gedung sekolah di desa saja banyak yang ambruk. Ide itu tidak salah, tapi belum saatnya. Serahkan ke swasta.”


Oleh : mpujayaprema | 13 Agustus 2016 | Dibaca : 458 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?