Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


418246

Pengunjung hari ini : 189
Total pengunjung : 84449

Hits hari ini : 1802
Total Hits : 418246

Pengunjung Online: 5


Twitter
Baca posting

Cerdas

Oleh : mpujayaprema | 20 Agustus 2016 | Dibaca : 497 Pengunjung

Lomba makan kerupuk merayakan ulang tahun kemerdekaan sudah berakhir. Membicarakan Gloria Natapradja Hamel dan Arcandra Tahar juga mulai sepi. Orang kembali ngomong soal Ahok dan memelototi sidang Jessica yang rajin disiarkan televisi bak sinetron.

Gloria dan Arcandra jadi simbul kecerdasan seseorang, tapi sangat awam dalam bidang lain, misalnya, soal hukum. Lihatlah bagaimana Gloria menjawab pertanyaan, bagaimana isi suratnya kepada Presiden Joko Widodo, terlepas apakah dia sendiri yang menulis surat itu atau dibantu orang lain. Arcandra Tahar, menteri tersingkat dalam sejarah republik, kurang apalagi cerdasnya. Dua puluh tahun lebih di luar negeri menghasilkan penemuan yang sudah dipatenkan dalam bidang energi.

Di mana letak kekurangan kaum cerdas ini? Gloria lahir tahun 2000, dari ibu orang Indonesia dan ayahnya orang Perancis. Gloria menempuh semua pendidikan di dalam negeri, ia tak merasa menjadi orang asing. Ia tak peduli dengan pasfor, bukankah persyaratan menjadi pengibar bendera pusaka tak harus menyerahkan pasfor, bahkan kartu tanda penduduk pun juga tidak? Ibu kandung Gloria, Ira Natapradja, mungkin hanya tahu undang-undang tahun 2006 bahwa anak yang lahir dari perkawinan campuran bisa memilih kewarganegaraan, apakah ikut ayah atau ikut ibu setelah berusia 18 tahun. Gloria masih punya waktu untuk memilihnya, karena usianya baru 16 tahun.

Ternyata undang-undang 2006 ini tidak berlaku surut. Karena Gloria lahir tahun 2000, ia harus tunduk pada UU No. 62/1958  tentang Kewarganegaraan. Di sini diatur, anak yang lahir dari perkawinan campuran, status kewarga-negaraannya berdasarkan pertalian darah menurut garis ayah. Jadi Gloria otomatis warganegara Prancis, suatu hal yang mungkin sekali tak pernah dipikirkan anak seusia Gloria. Keawamannya dimaklumi.

Arcandra menempuh pendidikan S2 dan S3 di Amerika Serikat, kariernya mencuat dan memegang jabatan penting di perusahan Amerika. Ia mendapat kewarga-negaraan Amerika Serikat pada 2012. Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2006 yang mengatur dwi kewarganegaraan, Arcandra harus melepaskan kewarganegaraan Indonesia, itu wajib hukumnya. Kalau pun tidak dilepaskan, menurut undang-undang itu, pasfor Indonesia yang dipegangnya tak lagi sah, walau masa berlakunya sampai 2017. Belakangan Arcandra mengaku tidak tahu ada undang-undang itu. Keawamannya dianggap mustahil, meski setelah dicopot dari menteri ia bicara soal takdir.

Dua takdir yang berbeda. Gloria menerima takdirnya sebagai remaja cerdas yang berakhir happy ending, karena Presiden Jokowi mengizinkan anak ini ikut menurunkan bendera pusaka setelah gagal ikut mengibarkannya. Gloria bahkan satu-satunya anggota pasukan pengibar bendera pusaka yang diajak makan oleh presiden. Akan halnya Arcandra, takdirnya tentu sulit kembali menjadi menteri. Ia sudah dewasa, untuk menduduki jabatan politis yang jadi rebutan banyak orang itu, ketidak-tahuannya tentang undang-undang telah menodai kecerdasannya.

Itulah pelajaran lain dari kasus ini. Begitu banyak undang-undang dibuat, seberapa banyak orang tahu apa saja yang diatur? Secara formal setiap warga negara dianggap tahu dan wajib mentaati undang-undang setelah diumumkan di lembaran negara. Lalu seberapa banyak yang membaca lembaran negara? Sosialisasi undang-undang yang “tidak populer” hampir tak ada. Bahkan banyak undang-undang, termasuk yang mengatur kewarganegaraan ini, ternyata perlu direvisi setelah ada kasus. Orang cerdas bisa menerima takdir buruk jika abai baca undang-undang.

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 20 Agustus 2016)


Oleh : mpujayaprema | 20 Agustus 2016 | Dibaca : 497 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?