Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


569957

Pengunjung hari ini : 156
Total pengunjung : 125707

Hits hari ini : 245
Total Hits : 569957

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Palsu

Oleh : mpujayaprema | 12 November 2016 | Dibaca : 490 Pengunjung

DIMAS Kanjeng Taat Pribadi punya tujuh mahaguru, demikian istilah yang diperkenalkannya. Ke tujuh mahaguru tugasnya hanya duduk mendampingi Dimas Kanjeng saat memberikan wejangan kepada pengikutnya. Para mahaguru itu meyakinkan dalam hal perwajahan. Dibalut jubah hitam, hampir semuanya memelihara jenggot dengan raut wajah kekurangan gizi --  gambaran wajah para spiritual yang karena hidup disiplin dengan kesederhanaan mukanya jadi kurang cerah. Sekali mendampingi Dimas, masing-masing mahaguru mendapat bayaran antara Rp 2 sampai Rp 15 juta. Luar biasa.

Ternyata mahaguru itu palsu. Kata palsu ini diucapkan polisi, yang berhasil menangkap tujuh orang itu di rumah petaknya masing-masing di metropolitan Jakarta. Profesi mereka semuanya pengangguran. Kalau pun ada yang bekerja itu disektor informal sebatas menjadi pemulung. Mereka tak menguasai ilmu agama, mengaji pun tak pernah.

Tapi Dimas menyulap mereka menjadi mahaguru. Dengan kawalan mahaguru itu apa pun yang diucapkan Dimas kepada pengikutnya mendapatkan legitimasi. Dimas menyebut bisa menggandakan uang, pengikutnya percaya setelah mahaguru mengangguk. Lempengan bata merah disebutkan bisa menjadi emas batangan dan pengikut Dimas percaya setelah mahaguru mengangkat tangannya tanda membenarkan. Pengikut Dimas bukan orang bodoh, bukan juga miskin harta. Mereka berpendidikan dan ada yang kaya raya sampai punya harta milyaran rupiah, namun tetap mau digandakan. Ketua yayasan yang menaungi padepokan Dimas di Probolinggo itu juga bukan orang sembarangan, dia seorang cendekiawan doktor lulusan Amerika.

Sementara itu di sudut kawasan yang lain, banyak orang berpenampilan agamis, berjubah dengan jenggot mau pun tidak. Lewat busananya mereka menampilkan diri sebagai orang spiritual yang sarat dengan ilmu agama. Mereka mengumandangkan kebesaran Tuhan dengan teriakan lantang, tangan mengepal ke atas atau menuding, lalu kata yang keluar: tangkap dia, tahan dia, bunuh dia. Keagungan Tuhan dengan ciri welas asih, pemaaf, pemurah, penuh kedamaian terkuburkan. Mereka ini bukan gelandangan seperti mahaguru Dimas Kanjeng,. Mobilnya saja Pajero atau Alphard.

Orang-orang kagum dan langsung mengiyakan apa yang mereka katakan itu sebagai kebenaran. Orang cepat terpesona dengan penampilan. Sebelum polisi menciduk Dimas Kanjeng karena kasus pembunuhan dan penipuan, tak seorang pun pula yang meragukan kewibawaan mahaguru Dimas apalagi menyebutnya palsu. Artinya sepanjang mereka pandai berakting dan belum ada tindakan pidana, tak akan ada yang memberi cap palsu.

Nampaknya ada perubahan dalam memilih pemimpin dan mempercayai seseorang di era hiruk pikuk media sosial ini. Orang yang disukai adalah orang yang berani, orator ulung, nabrak sana nabrak sini, bukan yang kalem dan “biasa-biasa saja”. Wakil rakyat yang dipuji adalah mereka yang ikut dalam aksi demo, berorasi di jalanan disambut acungan tangan mengepal dari massa. Seharusnya wakil rakyat itu digaji untuk berorasi di gedung parlemen mengawasi jalannya pemerintahan.

Jika ada ulama memberi wejangan dari rumahnya lewat tulisan atau lisan, tak ada yang mendengarkan. Yang didengar adalah mereka yang berteriak di atas mobil di lautan massa dengan nada kemarahan. Donald Trump memenangi pemilihan presiden di Amerika Serikat karena ia berkampanye mengobarkan rasisme dan pengetatan imigrasi. Nadanya marah dan warga Amerika merasa dilindungi dengan kampanye Trump ini.

Dunia sepertinya akan tetap riuh dengan kemarahan, setelah ini. Juga di negeri ini.

(Dimuat Koran Tempo Akhir Pekan 12 November 2016)


Oleh : mpujayaprema | 12 November 2016 | Dibaca : 490 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?