Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


568558

Pengunjung hari ini : 276
Total pengunjung : 125425

Hits hari ini : 411
Total Hits : 568558

Pengunjung Online: 4


Twitter
Baca posting

Telolet

Oleh : mpujayaprema | 24 Desember 2016 | Dibaca : 522 Pengunjung

Fenomena membunyikan klakson yang kemudian dikenal dengan irama telolet, sudah sejak setahun lalu. Bahkan lebih. Sekelompok anak-anak di jalur pantai utara Jawa iseng merekam suara klakson bus antar kota dengan handphone-nya. Rekaman ini kemudian dikirim antar teman-temannya, lalu menyebar. Terjadi kelatahan, ramai-ramai berburu klakson. Sementara supir bus, yang ternyata tak keberatan, memasang variasi bunyi klakson untuk tambah seru.

Begitulah sejarah lahirnya telolet. Antara keisengan dan kecanggihan teknologi handphone, plus sambutan bersahabat para supir. Kini telolet mewabah di mana-mana. Anak-anak dan remaja tanggung siap berburu telolet sambil mengacungkan poster yang berbunyi Om Telolet Om. Aksara di poster itu lalu menjadi trending topic dunia. Beragam variasi musik dengan inspirasi telolet lahir. Ini sukses besar bangsa Indonesia yang berhasil mengekspor produk keisengannya yang bernama Om Telolet Om.

Kenapa  penemuan unik ini baru meledak sekarang? Mungkin kita lagi bosan dengan kejenuhan politik yang tiap hari mengobarkan permusuhan di media sosial. Kita bosan dengan ujaran kebencian dan rekayasa informasi yang seenaknya merendahkan orang lain yang kita posisikan sebagai lawan. Kita bosan dengan aktifitas politik yang dibungkus agama. Sementara pemimpin agama tak bisa dijadikan teladan bagaimana kita bergaul di dalam kebhinekaan suku, budaya dan agama. Di tengah kebisingan itu ada orang yang jeli menjual telotet ke media sosial. Kesederhanaan anak-anak tanggung di jalur pantura dalam mencari kegirangan dengan biaya murah, diunggah ke media sosial dengan penyedap berbagai rasa. Om Telolet Om.

Apakah telolet perlu dilarang? Kalau dilarang alasan apa yang paling baik digunakan? Polisi memang repot untuk mengingatkan anak-anak jalanan itu saat meminta supir bus antar kota membunyikan telolet. Mereka bisa keseruduk. Tapi, ya, tak apa-apa. Ini pekerjaan lebih ringan dibandingkan polisi mengamankan ormas radikal yang sweeping topi Santa.

Telolet ini mencairkan ketegangan kita yang tak perlu menjelang Natal hari-hari ini. Ketegangan karena hari suci umat Kristiani ternyata membuat sibuk umat yang lain. Sibuk melarang memakai atribut Natal bagi warga muslim. Kalau atribut itu berkaitan dengan akidah, barangkali tepat diharamkan. Tetapi kalau hanya produk budaya, sejauh itukah sampai merusak akidah? Padahal dalam sejarah perjalanan agama-agama di Nusantara, budaya yang berbeda menjadi inspirasi untuk kebersamaan. Tak jarang pula budaya lokal itu justru dimanfaatkan untuk penyebaran agama.

Wali Songo menyebarkan Islam di Jawa dengan meminjam budaya Hindu seperti wayang. Padahal cerita wayang pada awalnya adalah kisah tentang penjabaran kitab suci Hindu yang dikenal dengan istilah Ithiasa.Syekh Jafar Sodiq yang lebih terkenal disebut Sunan Kudus membangun masjid dengan memanfaatkan peninggalan candi Hindu untuk menaranyapada tahun 1549. Sampai sekarang tak ada yang mengharamkan masjid di tengah-tengah kota Kudus itu.

Apakah umat Kristiani di Bali dilarang menggunakan destar (ikat kepala) untuk merayakan Natal? Atau muslim di Pegayaman, Bali Utara, diharamkan memakai nama Putu, Nengah, Ketut, Wayan dan seterusnya karena nama itu dipakai orang Bali yang Hindu? Ternyata tidak, destar maupun nama-nama itu hanyalah produk budaya. Ah, kita capek setiap hari disuguhi berita sekitar ini, maka Om Telolet Om jadi pilihan untuk hiburan sehat. Selamat Natal bagi sahabat Kristiani dan mari kita menikmati telolet.

(Dimuat KoranTempo Akhir Pekan 24 Desember 2016)


Oleh : mpujayaprema | 24 Desember 2016 | Dibaca : 522 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?