Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


572700

Pengunjung hari ini : 80
Total pengunjung : 126856

Hits hari ini : 174
Total Hits : 572700

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Sidang Pariporno

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 10 April 2011 | Dibaca : 1325 Pengunjung

Putu Setia

(Dimuat Koran Tempo 10 April 2011)

Kalau boleh berterus-terang, saya ingin menghindar ketika Romo Imam mengajak saya ngobrol soal Partai Keadilan Sejahtra. Partai ini sedang dirundung masalah, seharusnya kita berempati. “Saya kasihan melihat kenyataan ini, banyak teman saya kader partai itu,” kata saya.

Romo Imam mengangguk seperti memaklumi. “Apa yang salah?” tanyanya, seperti tak butuh jawaban. Tapi saya menjawab:  “Mungkin masalah takdir, kalau kita percaya adanya takdir. Mungkin hukuman dari langit kalau kita percaya ada kekuasaan di atas sana. Kemunculan partai ini mengusung slogan sangat mulia: partai yang bersih. Slogan itu kemudian dikampanyekan secara luas, termasuk di jalan-jalan. Kesannya jadi jumawa dan takabur, seolah-olah yang lain semua kotor. Padahal soal bersih, jujur, berakhlak dan sebagainya, menjadi penilaian orang luar, bukan kita yang mengumbarnya.”

“Sekarang semuanya terjungkir,”  saya melanjutkan. “Elit partai digugat karena dituduh menyelewengkan uang. Ada bisnis tak wajar yang melibatkan partai. Bersama partai koalisi juga terjadi masalah.  Kalau semua ini terbukti, lalu apanya yang bersih?”

“Dan kadernya membuka situs porno saat sidang paripurna,” Romo Imam memotong pembicaraan saya. Saya tertawa, tapi bernada prihatin. “Itu sebenarnya mau saya sembunyikan, saya kira Romo belum tahu. Ya, ini tragedi, sebuah partai yang mendukung undang-undang pornografi meskipun undang-undang itu salah menafsirkan pornografi dari sisi budaya, ternyata kadernya membuka situs porno. Dalam sidang terhormat pula, sidang pariporno, eh maaf, sidang paripurna.”

Romo mengambil koran. “Kader partai itu, Arifinto, tidak sengaja membuka tautan email. Dan hanya hitungan detik, langsung dia hapus gampar porno itu. Tapi Irfan, wartawan yang memotret, melihat Arifinto memelototi sekitar semenit sebelum memilih-milih gambar. Mana yang betul?”

Saya tersenyum. “Bukan karena saya wartawan lalu membela fotografer. Anak kecil pun tahu, memotret membutuhkan waktu, mengangkat kamera, memutar lensa supaya fokus, mencari sudut pandang, lalu menjepret. Bahkan sebelum mengangkat kamera, sasaran harus dicari. Mustahil Irfan menyiapkan sasaran lebih dulu seolah-olah tahu ada anggota DPR yang akan membuka situs porno. Saya kira Irfan bukan malaikat dan tidak dapat wangsit untuk memotret sesuatu yang membuat aib itu. Ini masalah kejelian dan gerak cepat. Tapi, secepat-cepatnya gerakan seorang forografer, hitungannya tidak detik.”

Romo Imam menghela nafas. “Sebaiknya Arifinto jujur, setiap orang punya hari sial.” Saya mengangguk dan menambahi: “Dengan jujur dan niat yang bersih, kasus ini bisa jadi pelajaran buat para wakil rakyat. Ya, siapa tahu nanti ada kode etik, saat sidang paripurna semua handphone dimatikan, tak boleh membawa koran, tak boleh anggota ngobrol saat orang lain bicara, apalagi yang bicara itu tamu. Semuanya harus tertib, tak boleh seperti murid Taman Kanak-kanak.”

“Setuju,” kata Romo. “Sidang paripurna sering diliput media elektronik, seharusnya sidang itu menjadi terhormat karena akan dijadikan contoh di daerah. Sekarang ini rapat adat di pedesaan  sering ricuh, semuanya berebut bicara, konon itu meniru sidang paripurna parlemen. Sudah saatnya wakil rakyat memberi teladan yang baik, bagaimana menggelar paripurna, jangan menjadi pariporno.”

Saya tertawa. “Setelah semua kebobrokan ini diumbar, ada yang mau introspeksi dan memperbaiki diri, termasuk para elit partai seyogyanya lebih santun dan tidak gembar-gembor bilang diri paling bersih dan paling jujur.”


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 10 April 2011 | Dibaca : 1325 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?