Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


418962

Pengunjung hari ini : 77
Total pengunjung : 84644

Hits hari ini : 154
Total Hits : 418962

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Hoax

Oleh : mpujayaprema | 07 Januari 2017 | Dibaca : 448 Pengunjung

Berbohong adalah salah satu sifat buruk yang dibawa manusia hidup di bumi ini. Berarti orang berbohong dan berita bohong sudah ada sejak dulu. Bahwa kini masalahnya sangat serius lantaran berita hoax itu dikembang-biakkan oleh media sosial dengan teknologi semakin canggih.

Sementara itu masyarakat terbelah oleh berbagai kepentingan politik. Saling percaya sesama manusia hilang begitu ada kepentingan yang beda. Ini gejala tumpulnya nurani di mana orang tega menyebarkan kebohongan dan sebagian mempercayainya hanya karena satu kelompok.

Sudah pasti di setiap agama berbuat bohong itu adalah dosa. Berat hukumannya, baik hukuman duniawi apalagi hukuman akherat. Namun orang tahu, manusia diciptakan Tuhan dengan berbagai sifat baik dan buruk agar selalu terjadi “pergolakan yang dinamis”, dengan itulah ajaran agama menjadi penting.

Menarik dikenang sejarah bangsa yang (dulu) berbudaya luhur ini, bagaimana melawan kebohongan. Yang diciptakan lebih dulu justru memilah kebohongan sehingga ada yang disebut “berbohong yang dibenarkan”. Ada lima jenisnya dan itu disebut Panca Nrta. Di luar lima itulah kebohongan yang dijadikan musuh bersama.

Ke limanya adalah, pertama berbohong kepada anak-anak. Contoh di masa lalu, tidak boleh menduduki bantal nanti bisa bisulan. Ini untuk menegakkan sopan santun karena bantal untuk alas kepala, tidaklah sopan diduduki. Kedua, berbohong bagi pedagang. Pedagang di pasar berani bersumpah bahwa harga yang dipatoknya hanya harga pokok. Ia berbohong kepada pembeli jualannya belum laku dari tadi. Pembeli pun jatuh iba.

Ketiga, berbohong kepada musuh. Prajurit yang tertangkap musuh boleh berbohong untuk tidak menyebutkan informasi yang sebenarnya. Keempat, berbohong demi keharmonisan rumah tangga. Seorang suami memuji masakan istrinya enak, meski pun sangat hambar. Kelima, berbohong kepada orang sakit. Sudah tahu lagi kritis, tetap dihibur dengan kebohongan bahwa keadaannya membaik dan pasti sehat.

Kriteria “kebohongan yang dibenarkan” ini pun tergerus zaman lantaran contohnya tak valid lagi. Zaman menciptakan bantal untuk diduduki dan anak-anak pun sudah cerdas, apa hubungan bantal dengan bisul? Ibu-ibu sudah berbelanja di pasar moderen tak ada tawar-menawar, tak diperlukan kebohongan basa-basi. Prajurit yang tertangkap musuh diinterograsi dengan siksaan untuk mengorek kebenaran. Kehamonisan rumah tangga justru dari saling terbuka suami istri.

Lalu apakah hoak yang dibenarkan itu masih relevan dan patut dicontoh? Bukan itu masalahnya. Pelajaran dari kearifan masa lalu ini adalah ada kriteria yang jelas untuk memilah hoax yang mana dijadikan musuh utama dan yang mana bisa ditolerir. Tanpa kriteria yang jelas kita berputar-putar tanpa ada langkah pasti. Presiden marah hoax tak bisa dibendung, dibentuk badan cyber, situs diblokir, lahir masyarakat pemantau anti hoax, tapi hoax jenis mana yang tak boleh ampun untuk diperangi dan apa sanksi pencipta hoax?

Apakah hoax BJ Habibie meninggal dunia perlu diproses hukum atau cukup dipublikasikan namanya sehingga masyarakat mencemoh ramai-ramai tindakan yang tidak bermoral ini? Apakah hoax sepuluh juta buruh Cina itu cukup dibalas dengan data yang benar atau diproses hukum – padahal kita tahu penjelasan juga tak seragam? Situs mana saja yang perlu diblokir? Semua ini perlu dirumuskan selain akar masalahnya dibenahi, yakni, bagaimana merekatkan kembali hubungan harmonis di masyarakat. Ini jauh lebih penting karena hoax hanya subur di tengah masyarakat ambradul.

(Dimuat Koran Tempo Akhir Pekan 7 Januari 2017)


Oleh : mpujayaprema | 07 Januari 2017 | Dibaca : 448 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?