Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


353893

Pengunjung hari ini : 172
Total pengunjung : 67637

Hits hari ini : 563
Total Hits : 353893

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Dinasti

Oleh : mpujayaprema | 14 Januari 2017 | Dibaca : 360 Pengunjung

Dinasti politik tak selalu indentik dengan korupsi. Ini ucapan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Tentu saja benar, banyak ada contoh di Amerika Serikat, India dan Jepang, misalnya. Dinasti di negeri itu terjadi karena keturunan sang pemimpin mempersiapkan diri dengan cermat dan bahkan kedinastian itu dijadikan campuk untuk belajar lebih baik.

Namun di negeri ini, dinasti menyiratkan wajah buram. Partai politik bagai dimiliki keluarga tertentu. Pengkaderan di partai tidak berjalan. Kader bangsa di luar partai tentu ada, mereka dilahirkan lewat perguruan tinggi atau lembaga sosial masyarakat. Namun untuk berkiprah pada jabatan politik seperti bupati, gubernur dan juga presiden, jalurnya tetap lewat partai. Itu jalur aman. Memang ada jalur perorangan untuk bupati dan gubernur – presiden tidak – tapi sengaja dipersulit.  Dengan dinasti seperti ini maka korupsi adalah bunga yang bisa mekar dengan mudah.

Mari kita lihat sekadar contoh. Bupati Klaten, Sri Hartini, yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), contoh dinasti teramat buruk. Awal mula adalah suaminya, Haryanto Wibowo yang menjabat Bupati Klaten periode 2000-2005. Wakilnya adalah Sunarna. Periode selanjutnya Sunarna yang jadi bupati karena Haryanto kena kasus korupsi pengadaan buku paket senilai Rp 4,7 milyar.  Sunarna yang adalah ketua pimpinan cabang PDI Perjuangan Klaten menjadi bupati selama dua periode (2005-2015) dan wakilnya adalah Sri Hartini, istri Haryanto itu. Periode selanjutnya karena Sunarna tak boleh mencalonkan lagi, Sri Hartini yang tampil sebagai calon bupati. Wakilnya Sri Mulyani, istri Sunarna. Pasangan Sri ini terpilih dengan suara terbanyak dan Museum Rekor MURI menobatkan mereka sebagai Perempuan Hebat.

Selama hampir 20 tahun, Klaten dipimpin dua keluarga. Bagaimana menjelaskan keajaiban ini? Pertama PDI Perjuangan sebagai partai terbesar dipimpin oleh keluarga itu. Keputusan politik ada pada mereka sementara pimpinan di pusat alpa melakukan pengawasan. Yang kedua, tidak ada kader tandingan yang menonjol. Dengan kasus seperti ini maka rakyat masa bodoh, siapa pun yang terpilih sama. Maka yang dipilih adalah siapa yang memberi duit lebih besar, “yang bayar yang menang”.

Korupsi pun tinggal selangkah. Sri Hartini butuh uang untuk mengganti modal politiknya. Lalu jabatan di kabupaten itu dia jual dengan harga yang tinggi. Untuk kepala dinas tarifnya Rp 80 sampai Rp 400 juta. Bahkan untuk kepala sekolah SD maupun SMP tarifnya minimum Rp 75 juta. Andai Sri Hartini belum tertangkap sekarang, ladang korupsinya bisa bertambah dengan tarif kepala sekolah menengah atas dan kejuruan, yang tahun ini pengelolanya diserahkan ke pemerintah daerah.

Dari mana kepala dinas mendapatkan uang untuk modal jabatannya? Ya, sudah pasti korupsi pula. Korupsi jadi menular terus ke bawah. Sulit dibayangkan di sebuah kabupaten kecil itu seorang bupati menyimpan uang kontan Rp 2 milyar lebih ketika KPK melakukan penggeledahan. Juga uang Rp 3,2 milyar di rumah anak sang bupati, yang “kebetulan” jadi anggota dewan di sana.

Klaten hanya contoh dari sekian banyak praktek dinasti. Ada dinasti di Banten, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Bali, dan sepertinya juga di Jakarta dengan munculnya calon yang dipaksakan dari petinggi partai, bukan calon yang dibina partai. Maka imbauan  Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif menjadi penting, masyarakat harus jeli dalam memilih pemimpin menjelang Pemilihan Kepala Daerah. Saatnya untuk tidak masa bodoh untuk memperbaiki negeri ini.

(Dimuat Koran Tempo Akhir Pekan 14 Januari 2017)


Oleh : mpujayaprema | 14 Januari 2017 | Dibaca : 360 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?