Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


419022

Pengunjung hari ini : 79
Total pengunjung : 84646

Hits hari ini : 214
Total Hits : 419022

Pengunjung Online: 5


Twitter
Baca posting

Buku

Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 24 April 2011 | Dibaca : 1315 Pengunjung

Putu Setia

(Dimuat Koran Tempo 24 April 2011)

Rindu saya dengan Romo Imam. Rindu dengan pencerahan moral yang disampaikannya lewat  guyonan. Saya datangi beliau di padepokannya, seraya memberi oleh-oleh sebungkus buku. Romo dan istrinya lagi santai.

“Ada paket buku, baru tiba dari Jakarta, sebaiknya untuk Romo saja,” kata saya. Romo menatap bungkusan itu, tetapi istrinya tiba-tiba menjerit: “Astaganaganaga… awas bom…” Istrinya lari menjauh.

Romo juga mundur dua langkah. “Siapa pengirimnya,” tanyanya. Saya katakan dari kantor Tempo, dikirim lewat paket khusus. Di Bali, jasa pengiriman paket sudah diawasi oleh Tim Gegana Kepolisian.

Romo mendekati bungkusan itu. Ia merobek sampulnya dengan hati-hati, tapi dengan cepat buku tebal itu dia taruh kembali. “Mencurigakan, judulnya ‘Orang Kiri Indonesia’, ada gambar Aidit dan tokoh-tokoh komunis lainnya. Wah, ini teror, mari menjauh.” Romo mengajak saya ke kursi tamu yang jaraknya sekitar empat meter. “Buku itu berisi pita merah, jangan-jangan kalau pitanya ditarik, bomnya meledak,” kata Romo lagi. Saya ikut cemas.

“Apa yang salah dengan bangsa ini, kok begini terpuruk. Tak ada satu pun tersisa warisan budaya leluhur yang adiluhung. Buku yang mencerdaskan umat dijadikan perantara bom, ini keterlaluan,” Romo mulai bergumam.

“Seluruh umat manusia di dunia ini sebenarnya wajib membaca. Bahkan kitab suci berbagai agama diawali dengan perintah membaca. Bacalah, baca, baca …” suara Romo bergetar. “Dalam keterbatasan bahan, manusia  zaman dulu menulis di batu, di daun rontal, sebelum ditemukannya kertas. Setiap zaman melahirkan pujangga, banyak kitab terbit di era Singosari, Majapahit, Mataram. Arjuna Wiwaha, Kidung Pararaton, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, I Swasta Setahun di Bedahulu sampai pada Bumi Manusia dan seterusnya adalah bacaan yang memperkaya rohani kita, mengajarkan keluhuran budi pekerti, menjadi sesuluh menuju ke peradaban mulia. Kok tiba-tiba buku disisipi bom. Ini kebiadaban….”

 “Bagaimana tradisi Hindu?” tanya Romo. Saya langsung menjawab; “Jangan sebut Hindu, saya kira seluruh agama memuliakan kitab. Memang dalam Hindu ada hari yang memuja Dewi Saraswati, dewi yang menurunkan ilmu pengetahuan yang oleh masyarakat dirayakan dengan memuliakan buku . Padahal intinya adalah baca, karena dengan membaca kita menjelajahi dunia.”

“Warga Jepang patut dicontoh. Di setiap waktu mereka membaca. Di bus, di kereta api, di trotoar, mereka tetap membaca. Peradabannya diasah terus lewat pesan yang diperolehnya dari buku.  Kini Jepang diterpa bencana, gempa hebat, tsunami dasyat, nuklir gawat. Tapi, mereka tetap tertib antre menahan lapar dan dingin, menunggu pasokan bantuan. Mereka beradab, malapetaka tak harus ditambahi dengan bencana lain misalnya penjarahan atau saling menyalahkan, seperti bangsa kita.“ Romo meneguk minuman.

“Kita punya menteri kebudayaan, tapi yang diurusi kesenian. Punya menteri pendidikan, yang diurusi ujian nasional. Punya menteri agama, yang diurusi administrasi. Tak ada yang menanamkan budi pekerti, mengajarkan akhlak baik, apalagi membina moral. Bahkan tokoh agama kita pun sibuk mengurusi kekuasaan. Kita menuju kehancuran segala-galanya….”

Romo berhenti bicara. Anaknya datang dan anak itu langsung mengambil paket buku yang tergeletak tadi. “Awas bom,” Romo mengingatkan. Anak itu tak peduli, ia langsung menarik pita merah pada buku itu. Byar… bukan bom. Empat  buku jatuh ke lantai. “Ini buku yang saya cari,  seri buku Tempo,” kata anak itu.

Romo menghela napas lega: “Semoga penghinaan pada buku  segera berakhir.”


Oleh : Pandita Mpu Jaya Prema | 24 April 2011 | Dibaca : 1315 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?