Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


418987

Pengunjung hari ini : 78
Total pengunjung : 84645

Hits hari ini : 179
Total Hits : 418987

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Penjara

Oleh : mpujayaprema | 11 Februari 2017 | Dibaca : 2159 Pengunjung

... hidup di bui bagaikan burung, bangun pagi makan nasi jagung, tidur di ubin pikiran bingung, apa daya badanku terkurung...

LAGU lawas yang dinyanyikan grup band D’lloyd ini sudah dilupakan orang. Semua sudah kedaluwarsa. Istilah bui sudah tak lagi digunakan. Di dalam kamus kata bui sudah dirujuk ke penjara. Sementara istilah penjara sudah pula tak dipakai. Kata itu kurang sopan. Penggantinya lembaga pemasyarakatan, tempat yang digunakan untuk kembali “memasyarakatkan” mereka yang tercerabut dari “masyarakat”.

Fasilitas di dalam penjara juga jauh dari lirik lagu dangdut tahun 1970-an itu. Apalagi penjara sekelas Sukamiskin. Tak ada nasi jagung dan tidur di ubin. Penghuni Sukamiskin orang-orang yang jauh dari miskin. Apalagi sejak 2012, ketika Sukamiskin hanya diperuntukkan bagi terpidana kasus korupsi, yang ada adalah kemewahan jika dibandingkan penjara lain. Terhukum yang seharusnya menjadi “orang binaan” justru bisa membina para sipir. Mereka bisa mendirikan saung untuk kongkow sesama teman. Mereka bisa minum-minum bak di sebuah restoran luar penjara. Dan ketika mereka sedikit batuk-batuk mereka bisa mendapatkan surat keterangan berobat ke luar penjara. Bahwa yang dituju klinik kesehatan yang menyediakan apartemen itu adalah kebetulan yang sudah dirancang.

“Mereka orang-orang terdidik,” begitu alasan Denny Indrayana ketika menjabat Wakil Menteri Hukum yang punya ide mengumpulkan napi koruptor di Sukamiskin. “Mereka juga punya hak asasi dan punya martabat,” begitu alasan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Dedi Handoko, untuk menjelaskan kenapa terhukum itu bisa seenaknya mendirikan saung.

Di Sukamiskin para koruptor bisa tidur di kamar sendirian dengan fasilitas yang sempurna. Ada tempat tidur dengan kasur busa, toilet, dan pendingin ruangan. Ini yang membedakan dengan penjara di tempat lain yang bukan dihuni koruptor. Napi non-koruptor bisa benar-benar tidur di ubin berdesakan bahkan dengan tubuh yang tak sempurna telentang. Antre ke toilet kalau tidak mau menampung air seni ke botol minuman. Makan seadanya jatah penjara, meski bukan lagi jagung. Jagung sudah mahal karena diimpor. Penjara-penjara kelebihan  penghuni tetapi tidak di Sukamiskin yang masih ada kamar kosong.

Kenapa para penghuni penjara harus dibedakan kastanya padahal mereka sama-sama terpidana dan telah diputus bersalah oleh mahkamah yang sama? Memisahkan narapidana wanita dan pria, tentu masuk akal agar tak terjadi “kekacauan” pada saat nafsu manusia yang alami memuncak. Memisahkan terpidana anak-anak dengan dewasa juga perlu agar anak-anak bisa diselamatkan masa depannya yang masih panjang untuk kembali ke masyarakat normal. Bukankah penjara sudah menjadi lembaga pemasyarakatan? Tetapi memisahkan mereka yang dihukum karena mencuri kambing dengan mereka yang korupsi milyaran rupiah, seharusnya tak terjadi. Begitu pula terpidana kasus narkoba yang tidak ada kaitannya dengan rehabilitasi karena bukan pengguna. Tak ada alasan untuk membedakan mereka ini.

Dengan tidak adanya penjara khusus di luar masalah gender dan usia terpidana, maka ada perlakuan yang sama sesama napi. Kalau hukum tak pandang bulu, seharusnya terhukum pun tak pandang bulunya apa. Para koruptor bisa beternak lele di penjara berbaur dengan terpidana pembunuh dan pengedar narkotik. Kalau itu dianggap melanggar hak asasi karena koruptor itu orang terdidik, ya, menjadilah orang terdidik di masyarakat. Korupsi itu perbuatan amat tercela, bukan perbuatan orang terdidik.

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 11 Feb 2017)


Oleh : mpujayaprema | 11 Februari 2017 | Dibaca : 2159 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?