Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


572635

Pengunjung hari ini : 76
Total pengunjung : 126852

Hits hari ini : 109
Total Hits : 572635

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Buzzer

Oleh : mpujayaprema | 18 Februari 2017 | Dibaca : 2366 Pengunjung

“Bisakah kita kembali bertegur sapa seperti yang kita lakukan sebelum pilkada?”

Kalimat itu saya baca di grup WhatsApp (WA) yang sudah lama tak saya buka. Postingan itu dibuat setelah pencoblosan berakhir. Tentu saya kenal penulis kalimat itu, sahabat saya yang menjadi buzzer calon gubernur DKI Jakarta. Kesehariannya tak banyak omong, bahkan cenderung berkata-kata seperlunya saja. Entah kenapa di grup WA ia menulis kata-kata kasar untuk orang yang merendahkan calonnya. Kasar pula kalimatnya untuk memojokkan calon lawan. Ia juga mengaku punya akun twitter dengan nama palsu dan setiap saat memposting pujian untuk calon dukungannya.

“Hahaha... sekarang ente menyerah.Bagi dong bayarannya sebelum kita damai.”

Kalimat ini adalah jawabannya. Juga dari teman yang saya kenal, seorang buzzer pula, tentu dari calon yang lain. Dia seorang doktor lulusan luar negeri. Hidupnya pun sudah mapan. Sering saya terheran-heran kenapa di grup WA dia menulis sedemikian kasar jika ada komentar yang menjelekkan calon dukungannya. Sebagai mana para buzzer yang kehilangan kontrol di pilkada DKI Jakarta ini, dia pun setiap menit memuji calon yang didukungnya. Bahkan rela tidak tidur semalaman. Apakah dia mendapat bayaran dan seberapa besar? Kalau membaca komentarnya yakni “bagi dong bayarannya” saya kira dia dibayar, juga “musuhnya” itu.

 “Wah, gak ada bayarannya boss. Saya cuma incar jabatan di partai, siapa tahu diangkat jadi wasekjen.”

Saya sungguh heran, sihir apa yang disebarkan pilkada Jakarta ini. Teman itu tadinya aktifis yang mahir berbicara masalah pluralitas. Sebelum proses pilkada dimulai, dia sering menyebut “NKRI harga mati, kebhinekaan harus dijaga”. Tapi dia memang kepincut menjadi politisi dan sudah bergabung ke partai politik. Cuma dia mengaku belum dijadikan pengurus. Dengan menjadi buzzer dia berharap dapat kedudukan di partai. Dia pun rela menulis hal-hal yang bagi saya aneh, membawa-bawa masalah agama dalam koridor yang sangat sempit untuk menyerang calon lawan. Pilkada Jakarta telah melacurkan banyak orang.

“Ente sudah sadar ditipu ya? Silakan tobat. Gue sih lanjut di putaran kedua. Lawan masih banyak.”

Saya tak kaget membaca respon ini. Buzzer itu ibarat kecanduan narkoba, sukar untuk kembali ke jalan yang benar. Kalau satu jam saja tidak menulis makian atau tidak menulis pujian, dia seperti gelisah. Sorang buzzer harus bisa melihat kesalahan calon lain untuk diumbar. Dan jika kesalahan yang sama atau agak mirip menimpa calonnya sendiri, harus dianggap kebenaran. Nalar sudah tidak jalan.

“Oke bos, selamat berjuang, aku kayaknya tobat deh. Kutunggu tobatmu.”

Kalimat ini penutup dialog dari dua teman saya itu. Saya bersyukur kalau benar ada buzzer yang tobat, apa pun alasannya, entah calonnya sudah kalah atau nyaris kalah. Grup WA ini harus dikembalikan ke awalnya, ajang silaturahmi lewat kata-kata, supaya anggota grup kembali bergairah, tidak ramai-ramai non-aktif. Begitu pula pertemanan di berbagai media sosial, harusnya dikembalikan sebagai dialog sehat di dunia maya. Lebih-lebih pemilik akun yang jelas keberadaan dan profesinya. Sudah cukup lama para cerdik pandai, akademisi, ulama, habib, ustad, terperangkap dalam aroma penuh benci hanya karena sebuah pilkada. Kok mau mengorbankan  martabat untuk seorang calon gubernur yang haus jabatan. Kalau buzzer dengan akun anonim masih masuk akal berbuat sembrono dan kita yang waras tinggal cuek, jangan merespon. Mari kita instrospeksi, pertemanan kita tak sependek pilkada.

(Diambil dari Koran Tempo Akhir Pekan 18 Feb 2017)


Oleh : mpujayaprema | 18 Februari 2017 | Dibaca : 2366 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?