Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


568665

Pengunjung hari ini : 284
Total pengunjung : 125433

Hits hari ini : 518
Total Hits : 568665

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Mari Mengetuk Pintu Hati

Oleh : mpujayaprema | 22 April 2017 | Dibaca : 349 Pengunjung

BETAPA pentingnya menyadari dan belajar mengenal diri sendiri, terlebih di dunia yang konon sudah mengalami kemerosotan moral ini. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupan di masyarakat saat ini yang mengharuskan kita untuk mengetuk pintu hati, apa sesungguhnya yang salah. Kekalahan Basuki Tjahaya Purnama di Pilkada DKI Jakarta, misalnya, bisa diambil sebagai contoh untuk belajar. Prestasi kerjanya menakjubkan dan diakui warga Jakarta, tetapi ketika akan dipilih menjadi gubernur maka kepribadiannya juga harus dilihat. Dan Basuki alias Ahok pun menyadari bahwa kepribadiannya sering menyimpang dan ini mencelakakan, yakni, suka bicara kasar di depan umum. Dan Ahok mengakui hal itu.

Marilah kita belajar untuk menyadari diri kita sendiri dengan jalan selalu mengetuk pintu hati kita. Sadariidentitas kita sebagai manusia. Kata manusia berasal darikata “manu”yang artinyaorang yang berbudi pakerti luhur. Keluhuran budi itu ada di dalam hati sepanjang kita menemuinya dengan jiwa yang bersih.

Setiap orang pasti mengalami pasang surut kehidupan. Ada cobaan yang harus dijalani dan itu harus dijadikan satu episode dari drama kehidupan yang lebih luas. Mungkin itu untuk menebus karma wasana kita di masa lalu. Kalau kita mengetuk hati kita dan melihat persoalan dengan pikiran yang suci dilandasi oleh kesadaran diri yang tinggi, sesungguhnya semua yang menerpa hidup kita merupakan suatu ujian. Ini adalah saatnya  kita meningkatkan kualitas hidup untukkehidupan yang lebih baik dan lebih bijaksana. Dengan keyakinan atau sraddha yang kokoh kita pasti akan mampu mengatasinya.

Sebaliknya kalau kita tidak menghadapi cobaan apa pun, sesekali tetap perlu mengetuk hati kita. Untuk apa kita larut dengan kerja keras? Pagi sudah berangkat kerja, malam baru pulang dengan kelelahan. Ngobrol dengan anak-anak sangat terbatas hanya pada hari libur. Cobalah ketuk hati dan bertanya: untuk apa hidup ini sebenarnya?Apakahhanyauntuk mengumpulkan kekayaan?Apakah kekayaan itu akan kita bawa pada saat kematian tiba? Atau adakah kekayaan yang kita miliki bisa menolong diri kita, baik selama hidup maupun ketika meninggal dunia?

Kita seharusnya menyadari harta saja tidak cukup untuk membahagiakan kehidupan lahir bathin. Ada yang lebih penting lagi yakni interaksi kita ke masyarakat, punya sahabat yang banyak dan seterusnya. Kemudian membesarkan anak-anak dengan harta yang didapat di jalan dharma. Ketika kita meninggal dunia semua sahabat dan keluargahanya akan mengantarkan kita sampai di kuburan, selebihnya kita pergi dengan kesendirian dan hanyaditemani olehkarma wasana.

Dalam drama kehidupan di dunia ini ada bermacam-macam peranyang dilakoni manusia. Ada yang tak henti-henti mencari kekayaan walaupun dengan jalan pintas, ada yang mengejar keterkenalan. Ada yang kelaparan tetapi adajuga yang berkelebihanharta. Ada yang sedemikian seriusnya di jalan spiritual, sampai mereka rela mengorbankan segala-galanya, bahkan meninggalkan keluarganya. Semuanyawajar-wajar sajadan sah, karena semua itu menjadi hak mereka masing-masing. Semuanya akan terkena hukum alam, sekecil apapun karma yang telah kita perbuat, pasti akan menerima pahalanya.

Yang mana kita pilih? Kata kuncinya adalah mari bertanya ke hati kita yang paling dalam dan cari jawaban di sana. Siapa saya, saya mau kemana, apa yang saya cari dan setelah saya dapatkanuntuk apa?Semua pertanyaan itu hanya bisa dijawaboleh diri kita sendiri, karena semua itu ada dalam diri kita,bukan pada orang lain.

Siapa sayaakan mendapatkan jawaban tentang keadaan kita saat ini. Kalau kita berprofesi sebagai petani, tentu tak akan bisa menjalankan profesi pedagang, pegawai kantoran, atau tugas seorang pendeta. Saya mau ke mana, akan mendapatkan jawaban apa jalan hidup yang akan kita lakukan dan bagaimana melakukannya dengan cara yang benar. Seorang petani tentu beda apa yang dilakukannya dengan seorang pedagang. Apa yang saya cari, akan mendapatkan jawaban sebagai tujuan dari hidup ini. Seorang petani pasti yang dicari adalah tanamannya subur sehingga bisa menghasilkan buah untuk dijual. Seorang pedagang yang dicari adalah keuntungan. Setelah petani berhasil menjual hasil panennya yang didapat adalah uang untuk kebutuhan hidupnya. Begitu pula pedagang mendapatkan keuntungan untuk biaya hidupnya.

Itulah pentingnya kita mengetuk hati kita. Jangan terlalu jauh melangkah ke hal-hal yang tak mungkin bisa kita capai. (*)


Oleh : mpujayaprema | 22 April 2017 | Dibaca : 349 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?