Om Swastyastu. Web ini dikelola oleh Mpu Jaya Prema Ananda di Pasraman Manikgeni, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Kegiatan Pasraman lebih lengkap disebarkan lewat blog Pasraman Manikgeni, klik di situs terkait di bawah kiri.

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


355843

Pengunjung hari ini : 146
Total pengunjung : 67903

Hits hari ini : 1239
Total Hits : 355843

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Jaga Bicara Mulai Dari Pikiran

Oleh : mpujayaprema | 29 April 2017 | Dibaca : 265 Pengunjung

Pikiran adalah sumber dari segala aktivitas manusia. Pikiran bisa mengembara ke mana-mana tak terpengaruh oleh waktu dan jarak. Dalam cerita-cerita lama, para pujangga menyebutkan pikiran itu ibarat kuda liar, dia bisa berlari ke mana dia suka. Mau memikirkan yang terburuk dan yang terbaik, bebas dilakukan.

Namun pikiran harus dikendalikan jika mengarah kepada perkataan mau pun perbuatan. Dalam ajaran Trikaya Parisudha, pikiran itu haruslah suci terlebih dahulu jika kemudian diteruskan dengan apa yang mau dikatakan dan diperbuat. Kalau hanya sebatas yang dipikirkan dan tidak diteruskan dengan pembicaraab mau pun perbuatan, maka itu tidak berbahaya. Itu disebut berkhayal.

Di dalam kitab Wrespati Tattwa sloka 16 disebutkan pikiran yang menyebabkan Sang Pribadi atau manusia menikmati sorga, tetapi juga pikiran yang menyebabkan Sang Pribadi jatuh kedalam neraka.Pikiran menyebabkan seseorang menjelma menjadi binatang tetapi pikiran pula yang menyebabkan menjelma menjadi manusia. Maksudnya adalah sifat-sifat binatang yang tak punya aturan dan sifat-sifat manusia yang memiliki aturan dalam kehidupan bermasyarakat ini.

Ada sloka yang menyebutkan: Yas tv-avijnananvan bhavatya-amanaskas sada sucih,Na sa tat padam apnoti samsaram cahigacchati.   Terjemahan bebasnya: Dia yang tidak memiliki kesadaran diri yang mantap, dan tidak kuasa atas pikirannya yang tidak suci, ia tidak akan pernah sampai pada tujuannya, bahkan akan terjerumus pada kesengsaraan atau kehancuran.

Ajaran Hindu menekankan hendaknya umat manusia dapat mengendalikan pikiran dan indriyanya. Setelah pikiran itu terkendali maka kata-kata yang diucapkan akibat pikiran terkendali itu menjadi terkendali pula. Jauh dari kata-kata tanpa makna.

Perkataan adalah alat untuk berkomonikasi diantara sesama manusia, untuk menyampaikan maksud dan tujuan atau keinginan kepada orang lain. Dengan demikian berbicaramempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kata-kata yang bagus dan terkendalidapat mendatangkan kebahagiaan, kata-kata yang indahdapat memberikan kesejukan. Perkataan yang manis dapatmenghibur dan kata-kata bisa pula menghidupkan kembali semangat seseorang. Namun jika kata-kata itu tak terkendali, kasar dan penuh caci maki, maka kata-kata menjadi racun yang merusak jiwa dan raga manusia.

 Kitab suci Sarasamuscaya sloka 20 dalam versi bahasa Jawa Kuno (Kawi)menyatakan: Ikang ujar ahala tan pahi lawan hru, songkabnya saka tempuhan  denya  juga  alara,  resep ri hati,  tatan keneng pangan turu ring rahina wengi ikang wwang denya, matangnyan tan inujaraken ika de sang dhira purusa,sang ahning maneb manahnir.  Artinya: Perkataan yang mengandung maksud jahat tiada bedanya dengan anak panah yang dilepaskan, setiap yang dilaluiakan merasakan kesakitan. Perkataan itu meresap kedalam hati, sehingga menyebabkan orang tidak bisa makan dan tidur, siang malam orang itu akan terbebani. Oleh sebab itu kata yang tidak baik hendaknya tidak diucapkan oleh orang budiman, bijaksana dan oleh orang yang suci.

Pada Sarasamuscaya sloka 119 antara perkataan dan cara mengucapkannya dibedakan. Sloka itu menyebutkan:  Apan ikang ujar yan rahayu, rahayu ta kojaranya, tan  tunggal  ikang sukha kapuhara denya,  yadyapin rahayu towi,  yan tan rahayu kang kojaranya, irikang umajarakennya tuwi,ya pwa  mapuhara lara.Artinya:Perkataan yang bermaksud baik, dan diucapkan dengan cara yang baik pula, akan menimbulkan kebahagiaan dan ketentraman hati. Namun walaupun perkataannya dengan maksud baik, jika diucapkan tidak dengan cara yang baik, akan dapat menimbulkan sakit hati.

Banyak orang seperti itu saat ini. Mereka bermaksud baik, tak ada keinginan sama sekali untuk menyakiti hati seseorang, namun karena cara berbicara tidak baik, apakah itu kasar atau logatnya nyeleneh, penerimaan orang menjadi tidak baik. Karena itu disarankan agar Sang mahapandita, sang maka bratang kasatyan, tan pangumanÅ©man,tan pagawe pecunya, tan pangupat, nguniweh tan mrsawada, yatna juga sira amiheri ujarnira, rumaksa halaning len. (Orang yang arif bijaksana, orang yang berjanji atas dirinya berpegang kepada kebenaran, tidakakan  mencaci orang, tidak menfitnah, tidak mencela, lagi pula tidak berkata-kata dusta, melainkan giat berusaha menahan ucapan-ucapannya, dan memelihara agar orang lain jangan sampai terluka karenanya).

Demikianlah pentingnya menjaga perkataan atau berbicara yang sesungguhnya berawal dari pikiran yang terkendali. (*)


Oleh : mpujayaprema | 29 April 2017 | Dibaca : 265 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?