Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


572693

Pengunjung hari ini : 80
Total pengunjung : 126856

Hits hari ini : 167
Total Hits : 572693

Pengunjung Online: 2


Twitter
Baca posting

Perbuatan yang Tak Tercela

Oleh : mpujayaprema | 06 Mei 2017 | Dibaca : 354 Pengunjung

MARI kita lanjutkan ulasan pada minggu lalu, 29 April 2017. Betapa pentingnya menjaga pembicaraan yang sumbernya dari pikiran yang terkendali. Segala ucapan yang keluar dari mulut kitahendaknya menjadi sesuatu yang menyejukkan dan berguna untuk kehidupan bersama. Namun, adakalanya ucapan yang kita lakukan mengandung kebenaran tetapi tetap membuat sesuatu yang tidak baik. Apa yang terjadi? Mungkin cara mengucapkannya yang salah atau tempat di mana mengucapkannya tidak pas.

Mari kita mengutip satu sloka dalam Wrehaspati Tattwa: Riastu tuhu ikang ujar yan tan megawe hita wasana, dudu ngaran. Riastu tan tuhu ikang ujar yan sampun magawe hita wasana, sadhu ngaranya.Terjemahannya adalah:Walau pun berkata-kata yang jujur dan benar, jika tidak membuat kebajikan dan kesejahteraan bagi orang banyak, itu merupakan suatu kejahatan. Meski pun tidak berkata jujur tetapi dapat menciptakan kedamaian dan kebahagiaan bagi semua orang, itu adalah kemuliaan namanya.

Lalu sloka selanjutnya: Nyang tan paprawrettyaning wak, pat kwehnya, pratyekanya ujar ahala, ujar apregas ujar pisuna, ujar mitya, nahan tang pat sinanggah hananing wak, tan ujarakena, tan angen-angen kojaranya.Terjemahannya:Inilah kata-kata yang tidak patut diucapkan, ada empat banyaknya. Yaitu, jangan mengucapkan kata-kata yang jahat, jangan mengucapkan kata-kata yang kasar, jangan mengucapkan kata-kata yang memfitnah, jangan mengucapkan kata-kata bohong. Keempat perkataan inilah hendaknya jangan diucapkan walaupun dalam pikiran sekali pun hendaknya harus disingkirkan.

Sering kali kita alpa, sehingga terhamburlah dari mulut kita kata-kata yang tidak patut diucapkan yang membawa kerugian pada diri kita dan orang lain. Oleh karena itu kesadaran diri hendaknya harus kita pupuk, agar segala ucapan atau kata-kata yang keluar dari mulut kita dapat terkendalikan, dan bermanfaat bagi kehidupan kita dan orang lain yang mendengarkannya.

Sloka Niti SastraIV.4menyebutkan: Yavat svasto hyayam deho, yavon mrtyus ca duratah,yavad atman hitam kuryat, pranante kim’karisyati. Artinya: Selama badan masih kuat dan sehat, dan selama kematian masih belum menjemput kita, lakukanlah seuatu yang menyebabkan kebaikan untuk menjaga kesucian atman, dengan keinsyafan dan kesadaran diri, karena pada saat kematian menjelang, kita tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Nah di sinilah kita mulai lanjut membicarakan masalah perbuatan, kayika. Apa pun yang kita perbuat, berarti kita telah membuat suatu karma yang akan menentukan hidup kita pada masa-masa yang akan datang. Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan sekarang, akan berpengaruh juga pada kehidupan yang akan datang. Karena kita mengharapkan kehidupan yang lebih baik pada masa-masa yang akan datang, maka sekaranglah kesempatan kita untuk menanamkan karma-karma yang baik dan menghindarkan diri dari perbuatan yang buruk dan tercela yang bertentangan dengan ajaran agama.

Apakah pantangan yang dilakukan agar perbuatan kita tidak bertentangan dengan ajaran agama? Dalam kitab Sarasamuscaya ayat 76. disebutkan: Nihan ya tan ulahakena, syamati-mati, mangahal-aha, siparadara, nahan  tang telu yan ulahakena ring asing ring parihasa, ring apatkala, ring  pangipyan tuwi singgahan juga.Terjemahannya: Inilah tiga pantangan yang tidak patut dilakukan. Yaitu, membunuh atau menyakiti, mencuri atau berangan-angan untuk memiliki hak orang lain, berbuat zinah. Ketiganya itu janganlah hendaknya dilakukan terhadap siapa pun baik secara berolok-olok, dalam keadaan dirundung malang, dalam khayalan sekali pun hendaknya semua perbuatan itu dihindari.

Sebagai penutup kita kutip Sarasamuscaya sloka 156 sebagai berikut: Matangnyan nihan kadadyakenaning wwang, tan wak, kaya, manah, kawarjana, makolahang asubhakarma, apan ikang wwang mulahaken ikang hayu,hayu tinemunnya, yapwan hala pinakolahanya, hala tinemunya. Artinya: Oleh karenanya, inilah yang harus diusahakan orang, janganlah dibiarkan perbuatan, kata-kata, dan pikiran untuk melakukan perbuatan yang buruk, jika selalu berbuat kejahatan, kecelakaan dan kesengsaraanlah yang akan ditemui. Apabila selalu diarahkan untuk suatu kebaikan, kebaikanlah yang akan diperoleh.

Dengan pengendalian tiga hal penting ini, pikiran, perkataan dan perbuatan sebagaimana yang dirangkum dalam Trikaya Parisudha dan juga dilantunkan sebagai mantram penutup Puja Trisandhya semoga kita menjadi orang yang berguna dalam kehidupan di masyarakat. (*)


Oleh : mpujayaprema | 06 Mei 2017 | Dibaca : 354 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?