Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


500931

Pengunjung hari ini : 186
Total pengunjung : 107488

Hits hari ini : 305
Total Hits : 500931

Pengunjung Online: 3


Twitter
Baca posting

Pemekaran Buleleng

Oleh : mpujayaprema | 22 Mei 2017 | Dibaca : 344 Pengunjung

WACANA pemekaran Kabupaten Buleleng yang sebenarnya sudah bergulir hampir lima tahun lalu, kembali dihidupkan lagi. Adalah Gede Pasek Suardika, politisi Partai Hanura yang memang berasal dari Buleleng, mengangkat isu lama itu. Seperti yang dimuat koran ini terbitan Sabtu (20 Mei) lalu, ia mengusulkan Kabupaten Buleleng dimekarkan dengan menjadikan kota Singaraja sebagai daerah otonom baru yang terpisah dari wilayah kabupaten. Pola ini meniru pemekaran Kabupaten Badung dengan memisahkan Denpasar sebagai kota madya. Apakah ideal jika Singaraja menjadi kota madya baru?

Kota Singaraja yang selama ini identik dengan Kecamatan Buleleng terlalu sempit untuk menjadi kota madya. Terlalu “ringan” jika diurus oleh seorang walikota. Sebagai daerah tingkat dua pejabat wali kota nanti tak ubahnya sebagai camat yang hanya diperluas hak-haknya. Kecuali jika wilayah Koda Madya Singaraja itu gabungan Kecamatan Buleleng dengan Kecamatan Sukasada.

Tetapi kalau itu terjadi, maka kecamatan di wilayah timur (Kecamatan Sawan, Kubutambahan dan Tejakula) akan terpisah dengan wilayah barat yang terdiri dari Kecamatan Banjar, Seririt, Busungbiu dan Gerokgak. Wilayah kabupaten yang terpisah secara teritorial tidak ideal dan tak efektif. Maka yang lebih masuk perhitungan untuk mengembangkan wilayah itu adalah tidak usah membentuk kota madya Singaraja. Dibagi saja Kabupaten Buleleng yang ada saat ini menjadi dua. Yakni Kabupaten Buleleng Barat yang terdiri dari Kecamatan Gerokgak, Seririt, Busungbiu dan Banjar dengan pusat pemerintahan (ibu kota) di Seririt. Sedangkan Kabupaten Buleleng Timur yang terdiri dari Kecamatan Buleleng, Sukasada, Sawan, Kubutambahan dan Tejakula dengan ibu kota Singaraja. Pembagian ini terasa lebih adil dan kedua bupati di Bali Utara itu merasa sama gengsinya.

Persaingan untuk membangun “kabupaten baru” akan lebih nampak jika pembagian seperti ini. Semangat bersaing itu sangat penting untuk ditumbuhkan. Dengan cara itu pembangunan di Bali Utara akan makin menggeliat. Buleleng yang kini nyaris dilupakan dalam konsep pembangunan makro Bali bisa jadi berkembang.

Kawasan Bali Utara memang sudah lama seperti daerah yang terlupakan. KotaSingarajajuga berkembang dengan lambat. Kota ini pernah punya sejarah panjang bukan hanya menjadi pusat pemerintahan Bali, tetapipusat pemerintahan Sunda Kecil. Ketika ibukota Bali dipindahkan ke Denpasar berangsur-angsur pula semua kantor pemerintahan diboyong ke Denpasar. Singaraja praktis menjadi  kota mati. Sempat sejenak mulai ada “napas kehidupan baru” ketika pemerintah membentuk Kowilhan (Komando Pertahanan Wilayah) di mana wilayah Nusa Tenggara dijadikan Kowilhan V. Singaraja dipilih sebagai markas Kowilhan itu. Namun tak lama, Kowilhan bubar maka kembali Singaraja menjadi sepi.

Di luar kota Singaraja, pembangunan juga tak begitu signifikan. Kabupaten Buleleng memang wilayah yang sangat unik. Membujur dari ujung barat ke timur di bagian utara Pulau Bali, wilayahnya betul-betul nyegara gunung. Laut dan gunung berdekatan, sehingga tidak ada hamparan lahan pertanian yang luas.Hasil pertanian seperti jeruk di gunung dan anggur di dekat pantai juga mulai merosot. Tinggal cengkeh yang masih tetap punya harapan

Secara budaya, Buleleng jugaunik, dan ini di satu sisi bisa menjadi kekuatan tersendiri. Hanya di Buleleng kata kaja dalam bahasa Bali tidak sama dengan utara dalam bahasa Indonesia. Kata kelod juga tidak berarti selatan. Kaja dan kelod harus melihat posisi gunung dan laut, dan kebetulan saja laut dan gunungnya itu membujur di satu arah. Di wilayah lainnya di Bali, kata petunjuk kaja dan kelod tak pernah berubah, meskipun laut ada di barat sepertidi Kabupaten Jembrana dan Tabananatau laut berada di sisi timurnya seperti di Karangasem.

Kreatifitas nyama Buleleng berkesenian pun hebat-hebat. Ketika drama gong lahir dan mewabah di Bali Selatan, Buleleng tak mau kalah, tampil dengan drama gong yang mengandalkan kemeriahan pentas. Semua sekaa (grup) drama gong punya perlengkapan pentas berupa layar-layar lebar untuk dekorasi panggung. Mungkin inspirasi dari pementasan Ketoprak di Jawa.

Di bidang seni tabuh dan tari, nyama Buleleng juga kreatif. Di wilayah ini pernah lahir Tari Badminton selain Tari NelayandanTari Tenun yang populer itu. Tema-temanya keseharian. Bahkan yang membuat orang kagum, di bidang tabuh pernah muncul Tabuh Memetik Daun Teh, padahal takada kebun teh di Bali.Belum lagi bebondresan, keunikan Buleleng dimunculkan dengan kekontrasannya.

Sekarang Buleleng mendapat momentum baru yang harus segera direalisasikan. Yakni, ada rencana pembangunan bandara internasional karena Bandara Ngurah Rai sudah tak mungkin lagi dikembangkan untuk masa-masa mendatang. Ini bukan sekadar mimpi karena pemerintah sangat serius, sampai-sampai nama bandara saja sudah dimunculkan. Namanya Bandara Internasional Dwijendra atau Dwijendra International Airport. Nama Dwijendra digunakan untuk memuliakan Danghyang Dwijendra yang telah melakukan pembaruan di tanah Bali. Ada dua tokoh besar yang melakukan pembaruan dalam tata kelola masyarakat adat di Bali yang pengaruhnya sangat terasa sampai saat ini. Yang pertama adalah Mpu Kuturan, tokoh yang memperkenalkan konsep Tri Murti dan Tri Kahyangan, yang mempersatukan sekte-sekte yang begitu banyak ada sebelumnya. Kemudian Dang Hyang Dwijendra yang memperkenalkan konsep Padmasana sebagai sarana pemujaan Tuhan tanpa lewat Ista Dewata. Mpu Kuturan sudah diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri di Singaraja dan kini Dwijendra untuk nama bandara.

Kalau bandara itu nanti berada di Buleleng Timur, maka di Buleleng Barat akan dikembangkan pelabuhan laut internasional yang terpusat di Celukan Bawang. Dengan kedua pintu gerbang internasional ini, maka kawasan Bali Utara diperkirakan akan maju pesat di masa depan. Apalagi tradisi dan budaya setempat mendukung. Wisatawan akan memilih Bali utara untuk pusat perjalanannya di Bali. Tentu jika pemerintah konsekwen untuk memoratorium pembangunan hotel di Bali selatan dan memindahkan ke Bali utara.

Bali utara memang harus dibangun dan salah satu yang bisa memacu pembangunan itu adalah pemekaran wilayah dan tata kelola pemerintahannya. (*)


Oleh : mpujayaprema | 22 Mei 2017 | Dibaca : 344 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?