Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


353863

Pengunjung hari ini : 171
Total pengunjung : 67636

Hits hari ini : 533
Total Hits : 353863

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Mengasuh Anak Jadi Suputra

Oleh : mpujayaprema | 27 Mei 2017 | Dibaca : 260 Pengunjung

TUJUAN perkawinan dalam ajaran Hindu adalah meneruskan keturunan. Karena itu ajaran Hindu tidak membenarkan adanya perkawinan sejenis lantaran tak akan memungkinkan mendapatkan keturunan dari perkawinan yang tidak normal itu.

Sementara itu sebuah keluarga sudah pasti mendambakan kelahiran putra-putri yang ideal yang dalam ajaran Hindu disebut anak suputra. Anak yang berbudi pekerti luhur, cerdas, bijaksana, membanggakan keluarga. Anak suputra ini yang akan mengangkat harkat dan martabat kedua orang tuanya.

Maharsi Casakya dalam bukunya Nitisastra menguraikan banyak hal tentang bagaimana anak yang suputra itu. Dalam Nitisastra Sloka 3.14 disebutkan: ekenaapi suvrksena, puspitena sugandhitaa, vaasitam tadvanaṁ sarvam, suputrena kulam yatha.Terjemahan bebasnya: "Seluruh hutan menjadi harum baunya, karena terdapat sebuah pohon yang berbunga indah dan harum semerbak. Demikian pula halnya bila dalam keluarga terdapat putra yang suputra."

Masalahnya adalah bagaimana mengasuh anak itu sehingga menjadi anak yang suputra? Orang tua tak bisa lepas tangan dalam pengasuhan anaknya sejak dilahirkan. Dalam era moderen saat ini kebanyakan orang tua si anak sibuk dalam pekerjaan sehingga anak dalam pengasuhan keluarga yang lain, terutama adalah neneknya. Tetapi tak semua keluarga punya nenek, maka anak itu berada dalam pengasuhan asisten rumah tangga yang dulu disebut pembantu atau babu.

Kitab Nitisastra mengajarkan banyak hal bagaimana seharusnya mengasuh anak agar kelak bisa menjadi anak suputra dambaan seluruh keluarga. Nitisastra Śloka 3.18 menyebutkan: laalayet panca varsaani, dasa varsani taadayet, praapte to sodase varse, putraṁ mitravadaacaret. Terjemahannya: "Asuhlah anak dengan memanjakannya sampai berumur lima tahun, berikanlah hukuman (maksudnya pendidikan disiplin) selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah dewasa (maksudnya sejak remaja) didiklah dia sebagai teman”.

Mampukah seorang ibu mengasuh anak itu dengan memanjakannya sampai usia lima tahun? Idealnya tentu harus mampu. Tetapi banyak kendala yang dihadapi kedua orang tuanya. Terutama masalah pekerjaan. Ketika anak itu semakin besar maka orang tua masa kini sering memanjakan anaknya dengan gadget yang sudah berisi rekaman video berbagai mainan. Juga film-film karton yang mudah diunduh di internet. Anak semakin manja dengan barang-barang elektronik. Bahkan sebagian besar kehidupan anak-anak balita di perkotaan saat ini, di mana kedua orang tuanya sibuk, dimanjakan dengan gadget. Anak akan menjadi terasing dengan lingkungan dan kelak ia akan tumbuh menjadi orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungannya.

Anak yang terlalu manja di saat balita akan membuat ia tak mempan untuk dimarahi dalam pengertian memberikan “hukuman”. Anak cenderung bersifat melawan. Bagaimana kita memperlakukan anak sebagaimana yang ditulis dalam kitab Nitisastra, tentulah amat sulit. Memanjakan anak menurut Nitisastra bukan dengan memberikan mainan yang individual, tetapi memanjakan dengan kasih sayang. Orang tua harus lebih banyak berinteraksi dengan sang anak dan dalam bermanja-manja itu diselipkan ajaran disiplin. Kalau ada hal yang salah harus diberi tahu bahwa itu salah sehingga sang anak bisa belajar mana yang salah dan mana yang benar.

Lebih sulit lagi mendidik anak setelah menginjak remaja. Anak sudah punya berbagai keinginan yang mungkin tak selaras dengan keinginan orang tuanya. Anak punya minat yang bisa jadi tak sesuai dengan kehendak orang tuanya. Nitisastra mengajarkan agar anak itu dijadikan teman. Yang dimaksudkan adalah lebih sering berdialog sebagai teman dan bukan menunjukkan otoriter sebagai orang tua. Kalau di usia seperti ini anak remaja selalu disalahkan bisa jadi anak itu mencari pelampiasan di luar rumahnya. Dan kita tahu, banyak sekali godaan yang bisa menjerumuskan seorang anak ke arah yang tidak baik. Terjerat narkoba, misalnya.

Kalau itu yang terjadi kita gagal menjadikan anak sebagai suputra, yang didapat adalah anak yang kuputra – kebalikan dari suputra. Nitisastra Śloka 3.15 menyebutkan: “Seluruh hutan terbakar hangus hanya karena satu pohon kering yang terbakar. Begitulah seorang anak yang kuputra menghancurkan dan memberikan aib bagi seluruh keluarga.”

Mari kita mengasuh dan mendidik anak dengan benar agar menjadi suputra, bukan kuputra. (*)


Oleh : mpujayaprema | 27 Mei 2017 | Dibaca : 260 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?