Selamat datang di website Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


425521

Pengunjung hari ini : 283
Total pengunjung : 86244

Hits hari ini : 436
Total Hits : 425521

Pengunjung Online: 7


Twitter
Baca posting

Dongeng dan Buku

Oleh : mpujayaprema | 29 Mei 2017 | Dibaca : 343 Pengunjung

Presiden Joko Widodo mendongeng di halaman Istana Merdeka ketika memperingati Hari Buku Nasional,Rabu 17 Mei lalu. Di hadapan sekitar 500 siswa SD dan SMP, Jokowi membacakan dongeng Lutung Kasarung,cerita rakyat yang berasal dari daerah Jawa Barat.

Para siswa yang berasal dari 10 sekolah tersebut terlihat antusias mendengarkan Jokowi mendongeng. Dongengmenceritakan kisah Prabu Tapa Agung dan kedua putrinya yang bernama Purba Rarang dan Purba Sari. Purba Rarang dikisahkan mempunyai sifat yang buruk, sedangkan Purba Sari adalah wanita cantik dan mempunyai sifat yang baik.

Dongeng seperti ini ada di berbagai daerah budaya. Secara “nasional” bahkan ada dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih yang juga pesannya hampir sama. Di Bali pun banyak bertebaran dongeng-dongeng rakyat seperti ini.

Di akhir dongengnya, Jokowi pun memberi pesan yang terdapat dalam dongeng tersebut. "Untuk mencapai cita-cita, kita harus kerja keras, rajin belajar," kata Jokowi. Dia juga meminta para siswa untuk tidak menghina orang. "Jangan suka menghina orang, tidak boleh. Jangan menghujat orang, tidak boleh," kata Jokowi.

Apakah mendongeng itu penting? Di masa lalu mendongeng adalah bagian dari gaya hidup masyarakat. Kebiasaan mendongeng menjadi tradisi yang diwariskan turun-menurundi berbagai daerah, termasuk Bali tentu saja. Anak-anak Bali tidak bisa tidur kalau belum diberikan dongeng oleh ayah atau ibunya. Setiap malam ada saja yang didongengkan. Kalau kehabisan dongeng lokal, cuplikan kisah Itihasa seperti Ramayana dan Mahabharata bisa disampaikan. Begitu pula fabel (cerita dari dunia binatang) yang diambil dari Tantri, banyak yang dihafal para orang tua untuk diwariskan kepada anak-anaknya.

Kenapa tradisi ini hilang? Penyebab pertama adalah kemajuan teknologi dengan masuknya radio, disusul televisi, lalu kaset yang berisi banyak hiburanyang merambah ke desa-desa. Sekarang ditambah dengan kemajuan dunia internet di mana berbagai dongeng bisa diunduh lewat YouTube. Anak-anak sudah mendapatkan dongeng baru dari media elektronik itu. Dongeng moderen dengan teknologi yang tinggi, entah itu film kartun dari Jepang, film produksi Hollywood dan Bollywod, maupun produksi dalam negeri. Dari Doraemon sampai Upin Ipin. Sementara ibu anak-anak asyik dengan sinetron dari India yang tak ada habis-habisnya.

Penyebab kedua, teknik mendongeng itu sendiri sudah ketinggalan karena perubahan zaman. Gaya hidup berubah pesat di pedesaan tatkala listrik masuk desadan media elektronik merambah masyarakat. Dongeng tak bisa lagi dipakai menidurkan anak-anak kecil, walaupun dengan menyelipkan cerita yang berimajinasi menakutkan. Bagaimana anak-anak bisa ketakutan dengan hantu kalau ruangan itu terang benderang? Bagaimana memberi pesan “kita tak boleh menghina dan menghujat” seperti yang disampaikan Jokowi, jika anak-anak bebas menonton video tentang demo di Jakarta yang isinya penuh hujatan?

Penyebab ketiga, kegemaran membaca yang sangat kurang di masyarakat, padahal dongeng sudah banyak dibukukan. Berbagai dongeng dari beragam daerah budaya sudah mulai dibukukan. Made Taro, penulis yang sangat produktif menuliskan dongeng, sudah menerbitkan banyak buku dongeng. Tetapi seberapa banyak buku ini dibaca orang, terutama anak-anak? Bahkan di perpustakaan sekolah pun jarang ditemukan buku dongeng yang ditulis Made Taro.

Apa yang dilakukan Jokowi dengan mendongeng pada Hari Buku Nasional seharusnya ditiru di daerah-daerah, bahkan ditiru di setiap sekolah. Jangan-jangan Hari Buku itu sendiri tidak dirayakan sebagaimana mestinya. Lewat begitu saja.

Mendongeng itu penting, dengan atau tanpa lewat buku. Tentu dongeng yang penuh dengan nasehat-nasehat yang diselipkan di dalamnya. Tradisi ini harus dihidupkan terus. Dongeng berkaitan denganpembinaan akhlak anak-anak, artinya dongeng masih dirasakan keampuhannya untuk menanamkan pendidikan budi pekerti. Kalau kita sepakat dengan ini, maka teknik mendongeng dan materi dongeng harus disesuaikan dengan kekinian dan kebiasaan sehari-hari anak itu.

Seorang ibu harus menyediakan waktu untuk membacakan dongeng untuk anak-anak balitanya. Tidak harus di tempat tidur anak-anak, bisa di ruang tamu. Dongeng dibacakan sambil menjelaskan apa simbol dan makna tersembunyi di balik dongeng itu. Bisa pula dongeng diputar melalui gadget seperti tablet, bukankah sudah banyak ada dongeng di internet? Tapi, itu terlalu ideal, mungkin hanya terjadi di perkotaan saja. Itu pun jika ibunya tidak sibuk bekerja di kantoran. Ibu-ibu Bali di pedesaan, apa mungkin membacakan dongeng untuk anaknya? Mereka lebihdisibukkan membuat sesesajen setiap hari.

Kalau menurut cerita Made Taro, minat anak-anak mendengarkan dongeng di sekolah sudah mulai bagus. Dongeng itu sendiri pun sudah berkembang karena adanya berbagai lomba mengarang. Jika ini benar, tentu saja amat menggembirakan. Tetapi, apakah kelangsungannya berusia panjang dan tidak sekedar hidup di saat ada lomba saja? Ini yang dikhawatirkan.Lagi pula apakah semua sekolah punya “kurikulum ektra” untuk menyediakan waktu bagi anak-anak berkumpul mendengarkan dongeng? Pelajaran ektra itu lebih banyak urusan menari, silat, drumband dan lainnya.

Tradisi mendongeng terutama dongeng-dongeng khas Nusantara sesungguhnya punya nilai tinggi dikaitkan dengan wawasan Nusantara. Dengan gencarnya dongeng dari luar, baik lewat media elektronik maupun internet, lambat laun akan mempengaruhi prilaku anak bangsa ini. Selain wawasan Nusantara berkurang, cara berpikir anak itu sudah menyimpang dari budaya tradisional. Presiden Jokowi sudah mulai melawannya dengan menghidupkan kembali tradisi mendongeng pada Hari Buku Nasional. Kenapa pejabat-pejabat daerah tidak ikut mencontohnya? (*)


Oleh : mpujayaprema | 29 Mei 2017 | Dibaca : 343 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?