Salam Damai. Web Mpu Jaya Prema Ananda ini semoga berguna untuk komunikasi bagi para pencinta kedamaian dan peminat spiritual tanpa sekat apapun. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


572629

Pengunjung hari ini : 76
Total pengunjung : 126852

Hits hari ini : 103
Total Hits : 572629

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Tingkah Laku yang Disebut Dosa

Oleh : mpujayaprema | 03 Juni 2017 | Dibaca : 395 Pengunjung

APAKAH dosa dan karma buruk itu sama? Ini perdebatan lama secara teologi yang tak pernah selesai tetapi secara umum orang membedakan antara dosa dan karma buruk. Justru keduanya disebut berhubungan dengan argumentasi bahwa karena perbuatan dosa itu yang menyebabkan adanya karma buruk.

Dosa bisa diampuni tetapi karma buruk tetap saja melekat dan harus ditebus dengan karma baik. Tebusan karma baik itu pun tak serta merta menghilangkan sama sekali karma buruk itu. Karma buruk bagaikan setitik noda dimasukkan ke dalam air, maka air akan keruh. Lalu dengan banyak berkarma baik seperti menuangkan air jernih terus-menerus maka kadar noda jadi berkurang. Tetapi volume noda atau karma buruk itu tetap masih ada karena akan dipertanggungjawabkan sesuai hukum karma, baik pada kehidupan sekarang maupun dalam kehidupan nanti.

Sedangkan dosa bisa dimohonkan pengampunan dan bahwa dosa itu diampuni atau tidak, itu bukan urusan kita, itu urusan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kitab Bhagawad Gita IV. 36 menyebutkan: api ced asi papebhyah, sarvebhyah papa kritamah, sarvam jnana plavenaiva, vrjinam santarisyasi. Terjemahannya: Seandainya pun engkau adalah orang yang paling berdosa di antara orang-orang yang berdosa, namun tanpa diragukan sedikit pun, engkau dapat menyeberangi dosa-dosa itu dengan perahu ilmu pengetahuan.

Perahu ilmu pengetahuan yang dimaksudkan adalah mempelajari sastra Weda, melafalkan doa setiap saat, teguh dalam bhakti dan mengamalkan dharma dalam kehidupan sehari-hari. KitabSarasamuscayasloka 17 menyebutkan, “bagaikan prilaku matahari yang terbit melenyapkan gelapnya dunia, demikian pulalah orang yang melakukan Dharma. Dharma akan memusnahkan segala macam dosa. Sebaliknya, mereka yang melanggar Dharma akan dihukum dengan siklus kelahiran dan kematian (punarbhava) yang tidak jelas kapan berakhirnya. Semasih hukum karma dan Punarbhawa mengikat kita, maka selama itu kebebasan (moksha) tidak akan tercapai.”

Masih banyak sloka dalam berbagai kitab yang memberi tuntunan bagaimana agar dosa itu mendapatkan pengampunan. Namun sebelum itu apakah jenis-jenis dosa itu sendiri yang harus kita ketahui? Terutama tingkah laku kita yang bagaimana bisa digolongkan sebagai tindakan berdosa?

Ada sebuah sumber susastra Hindu yang menggolongkan tingkah laku yang disebut berdosa itu. Tingkah laku atau sikap kita dalam kehidupan dan tutur kata yang digolongkan berdosa ada empat besar. Yakni Langgah, Dura Cara, Durhaka, danTresna Dudu.

Langgahadalah melanggar hukum Tuhan. Dalam Kitab Sarasamuscaya dikatakan: "Orang yang tidak mempunyai kepercayaan kepada Tuhan dan hukum-Nya, orang yang demikian itu tidaklah akan menemukan kebahagiaan tertinggi, melainkan akan senantiasa menanggung derita, yaitu akan terus mengalami kelahiran kembali (punarbhawa).” Jadi kita harus percaya adanya Tuhan dan disebut berdosa kalau kita sama sekali tak percaya Tuhan. Prakteknya adalah kita rajin bersembahyang dan menghaturkan yadnya, misalnya.

Dura caraialah mengumbar hawa nafsu. Banyak sekali rincian nafsu yang harus dihindari. Berbagai istilah sudah ada, seperti Sad Ripu, Sapta Timira dan sebagainya, yang merupakan ajaran pokok nafsu buruk seperti apa yang harus dihindari. Mencuri, berzinah, madat, berjudi dan sebagainya adalah contoh-contoh yang sederhana. Sekarang ini perbuatan yang paling banyak dilakukan adalah mencuri dalam pengertian yang luas, seperti korupsi, melakukan pungutan liar, dan seterusnya. Bahkan dalam urusan yadnya pun masih sempatnya menilep uang, setidaknya membuat laporan tak benar. Sudah ada beberapa kasus panitia piodalan atau pengurus pura dilaporkan ke polisi karena diduga menyelewengkan uang.

Durhakaadalah perbuatan jahat terhadap orang tua, guru, pemimpin dan sebagainya. Perbuatan itu bisa masih dalam pikiran maupun berupa kata-kata yang belum ada perbuatan nyata. Apalagi kejahatan itu sudah nyata dilakukan, itu lebih berdosa lagi. Prilaku ini yang sekarang banyak dilakukan orang. Tak ragu-ragu orang melecehkan para pemimpin termasuk melecehkan pendeta (sulinggih) di media sosial dengan menyebar berita bohong yang menjurus fitnah. Itu perbuatan yang tidak baik.

Tresna duduadalah cinta tetapi palsu atau semu. Suka berpura-pura. Lain yang dikatakan lain pula perbuatannya. Misalnya suka memberikan janji palsu atau suka berbohong.

Ke empat ini adalah hal yang bersifat umum yang masih banyak perlu rincian. Meski dosa itu ada jalannya untuk minta pengampunan, sebaiknya haruslah dihindari untuk hidup lebih damai dan nyaman. (*)


Oleh : mpujayaprema | 03 Juni 2017 | Dibaca : 395 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?