Web ini menampung karya Pandita Mpu Jaya Prema yang terserak, sejak bernama Putu Setia. Web ini diluncurkan pukul 00.01 Rabu, 14 Maret 2012. Jika ingin donasi untuk biaya domain sila: Rek BRI 4780-01-000648-50-1 a.n. PUTU SETIA

Arsip Cari Angin

Expand All | Contact All

Statistik Pengunjung


572034

Pengunjung hari ini : 109
Total pengunjung : 126465

Hits hari ini : 244
Total Hits : 572034

Pengunjung Online: 1


Twitter
Baca posting

Bukan Memuja Binatang

Oleh : mpujayaprema | 24 Juni 2017 | Dibaca : 981 Pengunjung

SABTU Kliwon Wuku Uyesaat ini adalah satu dari enam tumpek yang ada dalam wariga umat Hindu di Bali. Lima lainnya adalah Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, dan Tumpeng Wayang

Tapi Tumpek Uye juga disebut Tumpek Kandang karena umat datang ke kandang-kandang hewan yang dipelihara, seperti babi, ayam, itik, kambing, sapi dan lainnya. Orang-orang di desa sering menyebut Tumpek Kandang sebagai otonan wewalungan. Kata wewalungan itu artinya hewan peliharaan, namun istilah otonan itu tentu tak sepenuhnya benar. Hewan tidak mengenal otonankarena hewan itu tak pernah dicatat kapan lahirnya.

Kenapa binatang peliharaan itu harus diberikan sesajen, kok repot amat? Bahkan ada celetukan iseng dari anak-anak muda zaman sekarang, kok binatang dihaturkan sesajen, Bethara siapa yang “melinggih” di hewan itu? Sesajen itu bukan memuja binatang, tetapi dihaturkan ke Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, agar hewan kesayangan itu selamat dan tidak sakit-sakitan. Sama seperti otonan manusia, sesajen dihaturkan ke Hyang Widhi agar orang yang otonan mendapatkan waranugraha.  Dalam hal makhluk ciptaan Tuhan, kedudukan hewan dan manusia itu sama. Sloka Yajurveda XVI. 48 menyebutkan: “Berbuatlah agar semua orang, binatang-binatang, dan semua makhluk hidup berbahagia.” Cobalah periksa sloka yang dipakai dalam Puja Trisandya, ada doa: sarva prani hitan karah. Artinya semoga semua makhluk (ciptaan Hyang Widhi) berbahagia.

Sesungguhnya kalau kita mau berpedoman ketat dengan Lontar Sundarigama, jenis sesajen untuk binatang itu berbeda. Yang membedakan adalah mana hewan untuk membantu pekerjaandanyang mana hewan untuk disembelih. Lalu hewan yang disembelih dibedakan lagi antara jenis unggas (ayam, itik) dan bukan unggasseperti babi. Hanya beda tumpengdansesayuttapi sekarang sudah mulai dilupakan. Konsep yang ada di masa lalu adalah hewan untuk membantu pekerjaan itu tak boleh dibunuh, meski pun untuk yadnya. Misalnya sapi yang dipakai membajak sawah atau kuda yang dipakai menarik dokar. Tapi sekarang sapi sudah dipelihara untuk “dibunuh” (sapi kerepan, misalnya) dan tak lagi dipakai membantu membajak sawah karena sudah ada traktor.

Muncul lagi pertanyaan, kalau hewan itu dibuatkan sesajen agar diberi anugrah oleh Hyang Widhi supaya sehat dan tambah gemuk, kenapa akhirnya disembelih juga? Di satu pihak disayangi di sisi lain malah dibunuh. Jawabannya adalah karena manusia itu sayang kepada hewan, jadi “dibunuh” untuk dijadikan “korban yadnya”. Lewat doa-doa para pemangku dan sulinggih, hewan yang dijadikan korban yadnya itu dimohonkan kepada Hyang Widhi agar kelahirannya kelak menjadi makhluk yang lebih utama, ya, seperti manusia. Intinya, karena manusia sayang kepada hewan, maka hewan pun dijadikan “persembahan” agar kelak hidup dalam “status rohani” lebih tinggi. Lihatlah sebelum ada pemotongan hewan, pasti ada doa dan sesajen menyertainya. Bahkan kalau yadnya itu besar seperti tawur, sebelum hewan dipotong ada upacara yang disebut mepepada, semua wewalungan (hewan yang dijadikan korban) diberikan “penyucian” dengan puja-puja pendeta. Puja itu pun berbeda, ada puja untuk hewan berkaki dua, ada puja untuk hewan berkali empat, ada puja untuk jenis ikan.

Apakah pembunuhan hewan itu tidak ahimsa? Kembali lagi ke Lontar Sundarigama. Ada dua cara melakukan ritual yadnya. Pertama dengan menghaturkan sesajen (banten) bagi masyarakat umum. Yang kedua dengan  tapa brata yoga samadhi untuk mereka yang sudah mencapai tingkat kerohanian tertentu dan“wruh ring tattajnana”.  Bagi yang menggunakan sesajen diperbolehkan mempersembahkan segala hasil bumi termasuk hewan peliharaan. Justru pohon buahdan hewan yang dipakai persembahan itu akan tumbuh semakin baik dan hewan yang dibunuh akan “lahir kembali” dalam status yang lebih tinggi. Ini juga disebutkan dalam sloka Manawa Dharmasastra V.40. Bunyinya: Osadyah pasawa wriksastir, yancah pakhanam praptah, yajnartham nidhanam praptah, praapnu wantyutsritih punah. Terjemahannya: Tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, ternak, burung lainnya yang telah dipakai untuk upacara akan lahir dalam tingkat yang lebih tinggi pada kelahirannya yang akan datang.

Bukankah selain ada Tumpek Kandang ada juga Tumpek Wariga, saat meminta anugrah kepada Hyang Widhi untuk “keselamatan” pohon-pohon yang berbuah agar buahnya nanti bisa “dibunuh” (dipetik) untuk yadnya. (*)


Oleh : mpujayaprema | 24 Juni 2017 | Dibaca : 981 Pengunjung


posting Lainnya :

Lihat Arsip posting Lainnya :

 



Kalender Bali

Facebook
Jajak Pendapat
Apakah Informasi yang tersaji pada Website mpujayaprema.com, bermanfaat bagi Anda?